Ketiadaan standar pemahaman sejarah dan ketidakinginan untuk melihat realitas secara obyektif membuat kebanyakan orang hari ini masih percaya bahwa berita media massa adalah sumber informasi terpercaya. Padahal dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi, berita adalah konten yang bukan saja diperlukan untuk mengisinya melainkan sumber uang yang berlimpah. Fakta bahwa berita adalah komoditas bisnis hari ini bukanlah isapan jempol, tetapi belum disadari secara kolektif.

Dan yang paling disayangkan, sebagian kaum intelektual negeri ini menjadikan berita sebagai alat serang satu sama lain. Mereka yang menjadi tunas-tunas muda pemimpin bangsa lebih sibuk menjadi pembela barisannya sendiri dan pem-bully untuk semua hal yang dianggap lawannya. Menyedihkan sekaligus memuakkan melihat tingkah para pemuda yang doyan kepo di FB lalu sharing berita-berita yang saling menjatuhkan satu sama lain, tak jarang saling adu komentar yang lebih memalukan karena pisuhan hingga gunjingan memalukan menjadi hiasan dinding FB.

Ini ghibah yang lebih ngeri, karena bisa mencatut ribuan orang yang kebetulan membaca sharing orang yang sedang iri. Terlibat untuk saling membicarakan keburukan sementara waktu habis tidak ada action dan inovasi untuk perbaikan di masyarakat justru lebih buruk ketimbang mereka yang diperbincangkan dalam berita dan dianggap melakukan kesalahan. Memalukan dan amat rendah perilaku sebagian rekan mahasiswa yang lebih sibuk bergunjing ria di dinding jejaring sosial ketimbang diam dan bekerja semampunya untuk memperbaiki kapasitas dirinya dan meningkatkan daya juangnya di kemudian hari.

Menurutku, masalah kita percaya atau tidak percaya pada berita dan isu hari ini tidak akan terlalu berpengaruh pada nasib bangsa Indonesia ke depan. Yang justru berpengaruh adalah saat kita buang-buang waktu membaca berita dan memperdebatkannya, sementara hari-hari kian diliputi kebencian dan ketiadaan rasa ingin untuk memperbaiki diri dan keadaan yang ada di sekitarnya. Ini lebih ngeri, ini lebih buruk, karena 20-30 tahun yang akan datang nanti, calon pewaris negerinya berkarakter pembaca berita yang hobi ghibah dan suka menggunjing satu sama lain, tak jarang pula hobi merendahkan dan menyalahkan.

Istighfar, istighfar, mari memohon ampun kepada Allah atas keangkuhan diri kita yang selalu merasa paling benar sendiri. Cukuplah rasa sombong, rasa paling keren membuat kita gelap mata untuk mau merendah dan merunduk. Jika pemimpin-pemimpin hari ini masih berkeras hati, itu karena nasihat kita belum maksimal disampaikan dengan cara yang benar, dan doa-doa kita belum dipanjatkan lebih serius. Bukankah pemimpin itu cerminan kualitas rakyatnya, maka mengharapkan pemimpin yang hebat sementara rakyatnya tidak tahu diri adalah mimpi yang sangat keterlaluan.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.