Kategori
Refleksi

3 Idiots di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq

Persahabatan, tulisan ini akan bercerita tentang persahabatan. Sejak aku lepas dari orang tua di masa SMA dan memasuki babak baru di dunia pesantren, maka aku mulai mengerti arti sebuah persahabatan. Hidup bersama dengan rekan-rekan santri dan menjalani berbagai nuansa kehidupan pesantren yang lebih mirip sebagai asrama tinggal bagi kami ternyata menghadirkan nuansa hidup bagiku yang terbawa hingga kini.

Ketika lulus SMA, aku memasuki babak baru dunia kos yang berbeda. Aku sempat berpikir untuk tetap masuk di pesantren ketika kuliah. Tetapi rupanya hasrat untuk mencoba dunia baru lebih kuat. Hasilnya aku mendapatkan kos yang ternyata tetap menyuguhkan suasana kebersamaan yang luar biasa dipandu dengan etika yang selalu di tanamkan oleh bapak kos kami. Bahkan termasuk rekrutmen penghuni baru, bapak kos lebih nyaman jika yang datang adalah orang yang direferensikan oleh penghuni sebelumnya ketimbang orang yang datang langsung untuk mencari kos-kosan. Tentu ini adalah nikmat yang Allah berikan bagiku hingga 4 tahun di kos yang damai itu, Pelangi Buana.

Menjelang tahun kelima kuliahku, aku mencoba lagi tantangan baru sebagai pengurus masjid. Teman ayah yang kebetulan menjadi salah satu pengurus inti sebuah masjid di sekitar kampus menawariku. Aku mau mencobanya. Dan di sanalah aku dipertemukan dengan seorang adik tingkat yang sejak awal kulihat luar biasa dengan segala kekhasannya. Pendiam tapi cekatan. Sopan dan penuh penghormatan, meskipun aku sangat tidak nyaman dengan hal itu. Dan penghuni lain yang mungkin tidak begitu dekat denganku karena faktor interaksi yang sulit dibangun antara aku dengannya, tapi bukan berarti kami berselisih, apalagi bermusuhan.

Menjelang tahun kedua di masjid, ternyata ada rekomposisi. Mereka memilih pindah, tinggal adik yang pendiam tadi. Namun dia mengajak satu temannya yang juga terlihat pendiam. Dan di tahun inilah kami semua menunjukkan jatidiri yang selama ini tidak terbuka di antara kami karena memang belum waktunya. Interaksi di antara kami melahirkan kedekatan yang luar biasa. Bahkan aku seperti menemukan keluargaku di pesantren ketika SMA dahulu. Dan inilah kami yang mungkin punya banyak kebiasaan aneh dan unik. Sehingga aku berseloroh untuk memberi nama geng kami bertiga ini dengan 3 IDIOTS. Entah mereka setuju atau tidak, aku tidak terlalu peduli.

Tapi itulah kedekatan kami yang hari ini mungkin menggantikan kebahagiaan keluargaku saat bersama adik laki-lakiku dan adik perempuanku yang manis. Kedua adikku ini memiliki kesamaan sepertiku dalam hal pola pikir yang aneh. Kami sangat freak dalam ide-ide gila. Hanya mereka masih takut untuk berkelana di belantara kampus. Mereka cenderung menunjukkan tampang biasa mereka di kampus. Tapi aku membaca bagaimana mereka adalah generasi baru “3 idiots“ buat kampus jika saja orang-orang berhasil mengangkatnya.

Setidaknya kami selalu hangat dalam diskusi anime, pedesaan, keilmuan dan hal-hal yang menjadi hobi kami. Semoga persahabatan ini selalu berkekalan. Love you adik-adik hebatku. Mari tetap berpikir “idiot“ di tengah banyaknya orang pintar hari ini yang keblinger. Hidup 3 Idiots.

Kategori
Refleksi

Tak Perlu Berlebihan

Sejarah hanya selalu berulang. Jika kita membaca tanda-tanda zaman dari masa dahulu hingga sekarang, sesungguhnya pola peristiwanya ya begitu-begitu saja. Ada yang terlarut tersebab dinamika yang berkembang. Ada yang tetap bertahan di luar kebanyakan orang. Bukan karena cari sensasi, tetapi sesungguhnya ujian panjang dari hidup ini tentang BERTAHAN.

Bertahan dari menceburkan diri dalam putaran konflik internal. Bertahan agar tidak menjadi subordinasi kepentingan orang lain. Bertahan agar tidak dikibuli orang-orang pandai nan rusak dalam tipuan kemaslahatan, padahal sejatinya umpan untuk mengunci demi melenyapkan bagian yang lain dari kita. Bertahan dari menebar rasa sakit hati akibat menyampaikan kebenaran yang tidak diikuti sarana utamanya, akhlak yang mulia.

Sesungguhnya setiap sahabat kita memiliki ruang hati mereka masing-masing. Maka nasihatilah mereka dengan cara mereka ingin dinasihati, bukan cara kita ingin menasihati. Karena baik bagi kita, bisa salah persepsi ketika tidak sesuai dengan keinginan dia. Maka mencari sarana, melihat momentum, dan bersabar saat ingin mengingatkan orang lain akan menghadirkan kesejukan dalam setiap interaksi kita.

Bahkan ekstrimnya, mungkin kita perlu kembali ke cara paling klasik dalam upaya menjalin keharmonian kita lagi. Karena dunia maya dan media sosial terkadang menjadi ladang untuk menggosip orang lain, hingga taraf mempermalukan seseorang. Karena terkadang SMS menimbulkan salah persepsi karena begitu singkatnya kata2 dan beda daya serap bahasanya. Sudahlah, mari silaturahim dan bicarakan baik-baik satu sama lain hingga berakhir dengan manis karena semua saling memberikan kemaafan sebelum masing-masing meminta maaf.

Negeri ini telah dilemahkan oleh kapitalisme, padahal sekiranya pemimpinnya berani memutus mata rantai itu, kita juga ga bakal mati. Bahkan kita hidup dengan cara barter masih sangat mungkin di negeri yang sering disebut potongan tanah syurga ini. Negeri ini lemah dengan praktek korupsi para pejabatnya (ini hanya pengulangan masa Belanda, bedanya dulu mereka korupsi dengan cara minta uang sama Belanda, sekarang nyolong langsung dari dana anggaran pemerintah). Dan rakyatnya pun kepayahan bergelayut dalam kebodohan pola pikirnya. Entah harus diibaratkan seperti apa ya? Inginnya maju bahkan secara zahir masih banyak yang dapat nilai 10, tapi telah mati sejak langkah pertama. Skak mat katanya.

Rakyat juga telah bergerak sendiri-sendiri dalam arah mereka, berdasarkan preferensi mereka, dan sudah bisa diduga, “saya paling benar, Anda salah “. Bukan itu masalahnya, karena jika memang Anda yakin dengan apa yang Anda pahami maka pegang sampai mati, dan itu akan menjadi kebenaranmu. Masalahnya adalah kita sering lupa, bahwa barangkali 1 meter di sebelah kita memiliki kadar keyakinan yang sama kuatnya seperti kita, sayang kontennya sedikit berbeda, bahkan kadang bertolak belakang. Ributlah kita dalam urusan yang seharusnya memang menjadi urusan masing-masing di tempat yang salah. Jika memang mau berbagi, janjian, rencanakan dan saling berdiskusilah dengan apa yang telah kita yakini. Dan inilah potret lucu dari sebuah negara AUTOPILOT. Mungkin pertanyaan bagusnya, aktivitas para pemimpin kita ngapain ya?

Negara kita sedang mencari bentuk, meskipun katanya telah puluhan tahun merdeka. Silih berganti datang sabotase untuk proses panjang itu. Terkadang benar-benar dilumpuhkan oleh sesuatu kekuatan hebat (katanya sih KONSPIRASI), tapi lebih seringnya karena praktek kekanak-kanakan bangsa kita yang menelan mentah-mentah berbagai ilmu tanpa diproses lebih lanjut dan diaplikasikan secara manusiawi di negeri mataharinya terbit tiga kali ini.

Ah, aku sebenarnya mau nulis apa sih? Nggak tahu juga, hanya aku merasa sedih dengan aktivitas perdebatan saudara-saudaraku di dunia maya, hingga mungkin gunjing-gunjingan di forum mereka masing-masing. Bukan masalah benar atau salahnya, tetapi sungguh bagiku itu satu pekerjaan yang tidak penting disaat banyak orang hari ini harus diajari sikap lapang dada, agar bisa menyikapi realita hidup dengan cara yang paling waras sekaligus menyikapi perbedaan dengan kepala dingin. Kita berada di titik mayoritas, tapi hasrat superioritas kita yang selalu tumbuh di setiap kepala menjadikan kita tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan mereka yang dikatakan minoritas. Dan di titik inilah, rasa superioritas kita dipupuk oleh mereka-mereka yang ingin kita tetap kecil, meskipun jumlahnya besar. Dan barangkali kitalah umat yang dikhawatirkan oleh Rasulullah di akhir zaman itu.

Maka, memang rihlah adalah salah satu cara untuk membuat kita mengerti tabiat dunia. Rihlahlah secara bebas terbuka. Bertemu dengan sebanyak-banyaknya manusia. Mengenal setiap detil mereka hingga akhirnya kita bisa mengerti bahwa imajinasi kita masih terlalu kecil untuk memahami dunia. Hanya, kita sudah diberi satu kata kunci, bahwa manusia itu bisa tetap menjadi baik meskipun tinggal di lingkungan terburuk sekalipun. Jika kita masih mau beralasan, maka riwayat para Nabi dan Rasul itu cukup untuk membungkan setiap alasan yang terlontar dari mulut kita.

Cukup.

Kategori
Refleksi

Dia Sahabat atau Musuh?

Akhir-akhir ini dunia luarku terhiasi oleh sebuah mozaik warna yang aneh. Kupinta ada mozaik warna-warna yang indah dan harmoni. Namun kali ini bukannya ia menjadi harmoni, melainkan menjadi duotone karena seolah-olah warna itu mengabur ke salah satu kutub warna utama. Mengapa? Mungkin karena warnanya mulai luntur.

Adalah hal yang wajar ketika setiap orang memiliki perbedaan. Adalah hal yang wajar pula jika setiap perbedaan itu menimbulkan ketidaksepahaman. Tetapi wajarkah jika atas nama perbedaan maka terjadi sebuah perpecahan? Siapa yang menginginkan hal ini. Tapi itu nyata terjadi. Dan negeri ini mungkin geraknya menjadi lambat atau bahkan mungkin mulai bergerak ke belakang karena perbedaan yang ada tak pernah disyukuri sebagai mozaik yang harmoni.

Begitu mudahnya orang hari ini berprasangka lalu menebar kasak-kusuk bahwa si A begini, si B begitu. Begitu mudahnya orang lupa ketika semenit sebelumnya dia melakukan suatu hal yang sangat menyinggung kawannya tetapi lupa minta maaf. Begitu mudahnya kita lupa (tunjuk hidung sendiri). Begitu mudahnya orang tersulut emosi ketika temannya bercerita tentang perselisihannya dengan orang lain. Atas nama solidaritas, maka diangkatlah senjata. Serbu!

Padahal, ada persepsi yang kita lupakan. Di negeri ini, kita berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bukan? Tapi mengapa ketika ada dua orang yang berselisih, kita lebih memilih menjadi pendukung salah satunya ketimbang mendamaikan keduanya. Dalam pergerakan, organisasi, atau apa pun itu, ikrar yang sama diberlakukan bukan? Lantas mengapa kita lebih sibuk mencari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah ketika dua sahabat kita saling berselisih.

Solidaritas itu memiliki tempat dan kerangka. Jika darurat, maka aku memilih cuek dan diam melihat 2 orang rekan bertikai ketika diri ini merasa tak mampu menengahinya. Ketika mampu maka sudah seharusnya kita membuat dua sahabat kita yang berselisih saling bertemu dan berdamai, bukan menjadi pendukung salah satu. Ini tidak bicara siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi jika kita masih menganggap keduanya adalah saudara kita, maka seharusnya kita berada di antara keduanya, bukan condong ke salah satunya. Kecuali kita punya persepsi bahwa salah satunya adalah musuh, maka pilihan menyingkirkan sudah pasti lebih asyik untuk diputuskan.

Mendamaikan itu mempertemukan, membuat kubu-kubu yang bertengkar saling menceritakan masalahnya, meminta pertanggungjawaban. Jika akal sehat masih ada, maka yang salah seharusnya meminta maaf dan yang merasa dizalimi memaafkan. Tapi hari ini, kubu-kubu itu cenderung merangsek ke puncak gunung di pedalaman. Sementara jembatan-jembatang penghubungnya masih sedikit. Kalau pun ada cenderung hanya melayani siapa yang dulu membuatnya. Bagaimana mereka akan bertemu, dan jembatan pun tutup karena tidak ada lagi lalu lintas.

Ah, tulisan apa ini? Hanya rangkaian kata-kata memusingkan untuk di baca. Tapi aku tahu, bahwa kita hanya entitas yang tidak akan lepas dari gemuruh suasana hati setiap hari. Yang terus disulut maka kian hari ia kian merah membara. Yang terus disiram kian hari ia kian menyejukkan. Mari kawanku, bertemu dan berpelukan. Tidak penting siapa yang benar dan siapa yang salah. Anggap saja salah jika itu menentramkan salah satunya. Karena seharusnya hal itu hanya kita yang tahu.

Tak ada salahnya mengucapkan permintaan maaf meskipun kita lupa telah berbuat salah seperti apa. Karena itu akan memberikan angina penyejuk bagi yang merasa terzalimi. Tak ada salahnya untuk memberikan pintu hatimu kawan, ketika memang kita diuji dengan rekan-rekan yang mungkin masih kurang mengerti. Karena persahabatan ini tergantung suasana hati kita. Maka tidak usah banyak bergantung pada kebaikan orang lain, tapi mari berbuat baik sebisa mungkin kepada setiap orang, bahkan itu orang yang paling kita benci. Karena ketergantungan itu menimbulkan pengharapan, dan pengharapan itu terkadang membutakan akal sehat kita.

Jadi mari kita berharap saja kepada Sang pengabul Harapan. Kita harapkan agar kita semua selalu berpadu, meskipun kita tak sering bertemu dalam kata, cinta, dan langkah ke depan.

Kategori
Seni

Telaah Kritis Musik Sebagai Pembangun Moral Bangsa #3

Ini bagian terakhir dari tulisan tentang ceracau diskusi tentang musik. Ada pertanyaan dari audiens tentang Letto dan bagaimana dia mengarang lagu. Jawaban yang mengesankan dari Bang Noe adalah sebagai berikut (berdasarkan jejak rekam catatanku, dan semoga aku tidak mengarang yang tidak-tidak).

Pertama, bang Noe dan kawan-kawannya telah berteman sejak SMA di jogja (buka di wikipedia tentang Letto). Persahabatan mereka karena kesamaan dalam diskusi dan dalam hal musik. Mereka mengarang lagu dan membuat diskusi tentang musik-musik yang mereka sukai. Mereka melakukan itu karena hobi dan senang dengan hal itu. Makanya ketika ada pertanyaan audiens yang mengaku punya talenta tetapi sering pesimis, pesannya adalah nikmatilah apa yang menurutmu itu menjadi talentamu dan jalani dengan cinta sehingga setiap hal yang terjadi adalah indah baginya.

Awal mula masuk dapur rekaman pun, itu bukan karena mereka mengajukan ke produser. Mereka tidak pernah berniat mengajukan ke produser. Bahkan ketika ada produser yang menawari rekaman dengan catatan lirik lagunya diubah ke bahasa Indonesia (kebetulan liriknya bahasa Inggris), beliau menolak keras dan membiarkan sang produsen bolak-balik memikirkannya sampai akhirnya disetujuilah rekaman dari lagu-lagu yang pernah mereka buat sejak masih SMA. Menjelang peluncuran album, terjadi geger lagi karena belum ada nama untuk grup band tersebut. Akhirnya muncullah nama LETTO, yang kata bang Noe itu ga punya arti yang fenomenal, ya karena album mau diluncurkan makanya harus ada nama grup pembuatnya.

Ketika ada pertanyaan, kenapa albumnya Letto ga muncul-muncul lagi. Dengan santainya beliau menjawab, kami bukan ingin kejar tayang. Mengarang lagu itu tidak seperti membuat tulisan sampah. Perlu menghadirkan perasaan dan menemukan momentumnya. Dan yang lebih membuat audiens tertawa adalah albumnya tidak muncul-muncul karena belum tergerak untuk buat album, dan beliau lontarkan dalam celotehan bahasa Jawa.

Akhirnya aku ingin menyampaikan bahwa membangun visi bersama itu sangat penting. Hal yang paling mendasar dan akan mengikat orang-orang yang berkumpul adalah kesamaan visi dan destinasinya. Makanya ketika orang berada di organisasi itu tidak memahami visi organisasi atau tidak mensinergikan visinya akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan di organisasi. Tapi itu masih mendingan karena akan terjadi perang yang mengasyikkan sebagai bagian dari dinamika organisasi. Tetapi jika di organisasi orang-orang no vision bahkan without vision, remuklah organisasi itu, bahan percobaan dan bahan permainan saja. Ujung-ujungnya kalau tidak berkutat pada masalah prestis ya pencitraan saja. Padahal dua hal itu menagih biaya mahal, baik biaya finansial maupun biaya tak terlihat yang bernama kehormatan.

Apakah LETTO akan terus eksis? Kita doakan iya, jika memang mereka berangkat dari visi yang jelas. Dan kita pikirkan saja masalah kita hari ini. Sudahkah kita terbiasa membangun visi seperti ceritanya Letto tadi. Atau jangan-jangan kita lebih nyaman memiliki adik-adik yang menjadi “anak manis” di mata kita. Aku lebih suka memiliki singa-singa yang beringas yang kubesarkan sejak kecil. Mungkin satu dua mereka akan lepas dan mengembara di alam bebas, tapi di mataku mereka terhormat. Dan aku yakin akan banyak yang menjadi singa-singa pemberani yang siap menaklukkan singa yang lepas tadi. Rivalitas ini akan menyehatkan iklim dinamika organisasi kita yang sering terkekang dalam status quo. Maka tidak ada istilah tuntaskan perubahan, tetapi selalu lakukan perubahan agar tercapai kemapanan di setiap masanya.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)