Kategori
Refleksi

Belajar Dari Smartphone

Jika disuruh menghitung, mungkin tak terhitung lagi berapa banyak kata-kata motivasi tentang pentingnya bekerja sama, berjamaah atau apalah yang berbau gabung-gabungan. Dalam bahasa parpol menterengnya istilahnya koalisi yang kemudian terhadapkan pada gabungan yang bernama oposisi. Ah itu bahasa yang kata beberapa teman-temanku yang apolitis bahasan yang membosankan dan kurang kerjaan.

Kerja sama, kata yang gampang diucapkan. Sinergi, begitu juga gampang disebut-sebut. Sampai-sampai mucul istilah sinergisitas, benarkan kata itu ada dalam KBBI? Nggak tahu, belum ngecek apakah ada di kamus terbitan yang paling baru. Yang jelas kata itu seindah pengucapannya, tapi tak semudah pengamalannya. Betul kan? Nah mari kita bahas itu saja. Karena fakta terhampar di depan kita.

Kerja sama itu adalah proses, hasilnya adalah smartphone. Lho kok? Apakah Samsung itu pandai membuat smartphone sendirian? Menurutku tidak. Meskipun aku baru eksplorasi beberapa artikel saat sambil menulis konten tekno, tapi kusimpulkan, bahwa keunggulan Samsung adalah merancang dan merakit lalu menjual barang aneh yang bernama smartphone. Dan itulah definisi yang mudah tentang kerja sama, sinergi, berjamaah, atau apalah bahasa yang keren-keren soal bahasa aktivis yang ngeri ngerong itu.

Mari kita urai secara sederhana. Smartphone Samsung, katakanlah Galaxy S…. prosesornya menggunakan buatan Qualcomm. Artinya, untuk menjalankan atau mengotaki smartphone mahal itu, Samsung harus menggunakan komponen buatan Qualcomm. Lalu layar yang bisa dipencet-pencet itu, juga bukan buatan Samsung, tapi dibuat pabrik lain yang di Korea, ada yang di Jepang juga. Lalu sistem operasi, pakai Android kan. Siapa yang mengembangkan? Google kan. Belum baterai, kamera, sensor-sensornya dan piranti kecil lainnya yang membuat barang aneh bernama Smartphone itu laku dijual.

Yang mudah ditangkap dari smartphone itu adalah semua unik dan saling melengkapi. Prosesor tidak mejen dan terus bekerja saat yang lain istirahat. Layar tidak iri meskipun dielus-elus kadang dihentak kasar. Baterai tetap setia mengucurkan isinya. Sistem operasi rela diotak-atik. Semua bekerja sesuai porsinya tanpa saling melancangi yang lain.

Kira-kira masalah kerja sama kita yang sulit terwujud dan harmonis saat ini apa ya? Gampang, karena kita mungkin tidak berkapasitas khusus sehingga tidak unik. Karena tidak unik maka yang dipikir adalah status dan fasilitas yang paling enak. Sudahlah semua akan berebut soal itu dan berbagai retorika akan digulirkan. Dan biarlah semua beradu mulut hingga adu jotos. Mari kita pergi dan menempa diri apakah menjadi prosesor, layar, sistem operasi, atau yang lainnya. Terserah kita, terserah saya, dan terserah Anda.

Kategori
Refleksi

Tak Perlu Berlebihan

Sejarah hanya selalu berulang. Jika kita membaca tanda-tanda zaman dari masa dahulu hingga sekarang, sesungguhnya pola peristiwanya ya begitu-begitu saja. Ada yang terlarut tersebab dinamika yang berkembang. Ada yang tetap bertahan di luar kebanyakan orang. Bukan karena cari sensasi, tetapi sesungguhnya ujian panjang dari hidup ini tentang BERTAHAN.

Bertahan dari menceburkan diri dalam putaran konflik internal. Bertahan agar tidak menjadi subordinasi kepentingan orang lain. Bertahan agar tidak dikibuli orang-orang pandai nan rusak dalam tipuan kemaslahatan, padahal sejatinya umpan untuk mengunci demi melenyapkan bagian yang lain dari kita. Bertahan dari menebar rasa sakit hati akibat menyampaikan kebenaran yang tidak diikuti sarana utamanya, akhlak yang mulia.

Sesungguhnya setiap sahabat kita memiliki ruang hati mereka masing-masing. Maka nasihatilah mereka dengan cara mereka ingin dinasihati, bukan cara kita ingin menasihati. Karena baik bagi kita, bisa salah persepsi ketika tidak sesuai dengan keinginan dia. Maka mencari sarana, melihat momentum, dan bersabar saat ingin mengingatkan orang lain akan menghadirkan kesejukan dalam setiap interaksi kita.

Bahkan ekstrimnya, mungkin kita perlu kembali ke cara paling klasik dalam upaya menjalin keharmonian kita lagi. Karena dunia maya dan media sosial terkadang menjadi ladang untuk menggosip orang lain, hingga taraf mempermalukan seseorang. Karena terkadang SMS menimbulkan salah persepsi karena begitu singkatnya kata2 dan beda daya serap bahasanya. Sudahlah, mari silaturahim dan bicarakan baik-baik satu sama lain hingga berakhir dengan manis karena semua saling memberikan kemaafan sebelum masing-masing meminta maaf.

Negeri ini telah dilemahkan oleh kapitalisme, padahal sekiranya pemimpinnya berani memutus mata rantai itu, kita juga ga bakal mati. Bahkan kita hidup dengan cara barter masih sangat mungkin di negeri yang sering disebut potongan tanah syurga ini. Negeri ini lemah dengan praktek korupsi para pejabatnya (ini hanya pengulangan masa Belanda, bedanya dulu mereka korupsi dengan cara minta uang sama Belanda, sekarang nyolong langsung dari dana anggaran pemerintah). Dan rakyatnya pun kepayahan bergelayut dalam kebodohan pola pikirnya. Entah harus diibaratkan seperti apa ya? Inginnya maju bahkan secara zahir masih banyak yang dapat nilai 10, tapi telah mati sejak langkah pertama. Skak mat katanya.

Rakyat juga telah bergerak sendiri-sendiri dalam arah mereka, berdasarkan preferensi mereka, dan sudah bisa diduga, “saya paling benar, Anda salah “. Bukan itu masalahnya, karena jika memang Anda yakin dengan apa yang Anda pahami maka pegang sampai mati, dan itu akan menjadi kebenaranmu. Masalahnya adalah kita sering lupa, bahwa barangkali 1 meter di sebelah kita memiliki kadar keyakinan yang sama kuatnya seperti kita, sayang kontennya sedikit berbeda, bahkan kadang bertolak belakang. Ributlah kita dalam urusan yang seharusnya memang menjadi urusan masing-masing di tempat yang salah. Jika memang mau berbagi, janjian, rencanakan dan saling berdiskusilah dengan apa yang telah kita yakini. Dan inilah potret lucu dari sebuah negara AUTOPILOT. Mungkin pertanyaan bagusnya, aktivitas para pemimpin kita ngapain ya?

Negara kita sedang mencari bentuk, meskipun katanya telah puluhan tahun merdeka. Silih berganti datang sabotase untuk proses panjang itu. Terkadang benar-benar dilumpuhkan oleh sesuatu kekuatan hebat (katanya sih KONSPIRASI), tapi lebih seringnya karena praktek kekanak-kanakan bangsa kita yang menelan mentah-mentah berbagai ilmu tanpa diproses lebih lanjut dan diaplikasikan secara manusiawi di negeri mataharinya terbit tiga kali ini.

Ah, aku sebenarnya mau nulis apa sih? Nggak tahu juga, hanya aku merasa sedih dengan aktivitas perdebatan saudara-saudaraku di dunia maya, hingga mungkin gunjing-gunjingan di forum mereka masing-masing. Bukan masalah benar atau salahnya, tetapi sungguh bagiku itu satu pekerjaan yang tidak penting disaat banyak orang hari ini harus diajari sikap lapang dada, agar bisa menyikapi realita hidup dengan cara yang paling waras sekaligus menyikapi perbedaan dengan kepala dingin. Kita berada di titik mayoritas, tapi hasrat superioritas kita yang selalu tumbuh di setiap kepala menjadikan kita tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan mereka yang dikatakan minoritas. Dan di titik inilah, rasa superioritas kita dipupuk oleh mereka-mereka yang ingin kita tetap kecil, meskipun jumlahnya besar. Dan barangkali kitalah umat yang dikhawatirkan oleh Rasulullah di akhir zaman itu.

Maka, memang rihlah adalah salah satu cara untuk membuat kita mengerti tabiat dunia. Rihlahlah secara bebas terbuka. Bertemu dengan sebanyak-banyaknya manusia. Mengenal setiap detil mereka hingga akhirnya kita bisa mengerti bahwa imajinasi kita masih terlalu kecil untuk memahami dunia. Hanya, kita sudah diberi satu kata kunci, bahwa manusia itu bisa tetap menjadi baik meskipun tinggal di lingkungan terburuk sekalipun. Jika kita masih mau beralasan, maka riwayat para Nabi dan Rasul itu cukup untuk membungkan setiap alasan yang terlontar dari mulut kita.

Cukup.

Kategori
Refleksi

Dia Sahabat atau Musuh?

Akhir-akhir ini dunia luarku terhiasi oleh sebuah mozaik warna yang aneh. Kupinta ada mozaik warna-warna yang indah dan harmoni. Namun kali ini bukannya ia menjadi harmoni, melainkan menjadi duotone karena seolah-olah warna itu mengabur ke salah satu kutub warna utama. Mengapa? Mungkin karena warnanya mulai luntur.

Adalah hal yang wajar ketika setiap orang memiliki perbedaan. Adalah hal yang wajar pula jika setiap perbedaan itu menimbulkan ketidaksepahaman. Tetapi wajarkah jika atas nama perbedaan maka terjadi sebuah perpecahan? Siapa yang menginginkan hal ini. Tapi itu nyata terjadi. Dan negeri ini mungkin geraknya menjadi lambat atau bahkan mungkin mulai bergerak ke belakang karena perbedaan yang ada tak pernah disyukuri sebagai mozaik yang harmoni.

Begitu mudahnya orang hari ini berprasangka lalu menebar kasak-kusuk bahwa si A begini, si B begitu. Begitu mudahnya orang lupa ketika semenit sebelumnya dia melakukan suatu hal yang sangat menyinggung kawannya tetapi lupa minta maaf. Begitu mudahnya kita lupa (tunjuk hidung sendiri). Begitu mudahnya orang tersulut emosi ketika temannya bercerita tentang perselisihannya dengan orang lain. Atas nama solidaritas, maka diangkatlah senjata. Serbu!

Padahal, ada persepsi yang kita lupakan. Di negeri ini, kita berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bukan? Tapi mengapa ketika ada dua orang yang berselisih, kita lebih memilih menjadi pendukung salah satunya ketimbang mendamaikan keduanya. Dalam pergerakan, organisasi, atau apa pun itu, ikrar yang sama diberlakukan bukan? Lantas mengapa kita lebih sibuk mencari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah ketika dua sahabat kita saling berselisih.

Solidaritas itu memiliki tempat dan kerangka. Jika darurat, maka aku memilih cuek dan diam melihat 2 orang rekan bertikai ketika diri ini merasa tak mampu menengahinya. Ketika mampu maka sudah seharusnya kita membuat dua sahabat kita yang berselisih saling bertemu dan berdamai, bukan menjadi pendukung salah satu. Ini tidak bicara siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi jika kita masih menganggap keduanya adalah saudara kita, maka seharusnya kita berada di antara keduanya, bukan condong ke salah satunya. Kecuali kita punya persepsi bahwa salah satunya adalah musuh, maka pilihan menyingkirkan sudah pasti lebih asyik untuk diputuskan.

Mendamaikan itu mempertemukan, membuat kubu-kubu yang bertengkar saling menceritakan masalahnya, meminta pertanggungjawaban. Jika akal sehat masih ada, maka yang salah seharusnya meminta maaf dan yang merasa dizalimi memaafkan. Tapi hari ini, kubu-kubu itu cenderung merangsek ke puncak gunung di pedalaman. Sementara jembatan-jembatang penghubungnya masih sedikit. Kalau pun ada cenderung hanya melayani siapa yang dulu membuatnya. Bagaimana mereka akan bertemu, dan jembatan pun tutup karena tidak ada lagi lalu lintas.

Ah, tulisan apa ini? Hanya rangkaian kata-kata memusingkan untuk di baca. Tapi aku tahu, bahwa kita hanya entitas yang tidak akan lepas dari gemuruh suasana hati setiap hari. Yang terus disulut maka kian hari ia kian merah membara. Yang terus disiram kian hari ia kian menyejukkan. Mari kawanku, bertemu dan berpelukan. Tidak penting siapa yang benar dan siapa yang salah. Anggap saja salah jika itu menentramkan salah satunya. Karena seharusnya hal itu hanya kita yang tahu.

Tak ada salahnya mengucapkan permintaan maaf meskipun kita lupa telah berbuat salah seperti apa. Karena itu akan memberikan angina penyejuk bagi yang merasa terzalimi. Tak ada salahnya untuk memberikan pintu hatimu kawan, ketika memang kita diuji dengan rekan-rekan yang mungkin masih kurang mengerti. Karena persahabatan ini tergantung suasana hati kita. Maka tidak usah banyak bergantung pada kebaikan orang lain, tapi mari berbuat baik sebisa mungkin kepada setiap orang, bahkan itu orang yang paling kita benci. Karena ketergantungan itu menimbulkan pengharapan, dan pengharapan itu terkadang membutakan akal sehat kita.

Jadi mari kita berharap saja kepada Sang pengabul Harapan. Kita harapkan agar kita semua selalu berpadu, meskipun kita tak sering bertemu dalam kata, cinta, dan langkah ke depan.

Kategori
Dakwah Islam

Ukhuwah itu Sesuatu Banget #2

Ali dan Muawiyah pernah mengalami perselisihan meruncing. Tapi apakah mereka saling mencaci. Tidak. Yang saling mencaci adalah pendukung-pendukung mereka. Dan yang paling parah mencacinya adalah orang-orang Khawarij, yang berlepas diri dari mereka berdua lalu membuat gerakan sendiri. Bahkan Muawiyah menangis saat mendengarkan kabar terbunuhnya Ali oleh orang-orang Khawarij. Saling berselisih itu masalah kepentingan, maka solusinya ya didamaikan. Baik dengan cara win win solution, atau salah satu mengalah. Hasan bin Ali pun memberikan jawaban itu dengan mengalah dan mengakui kepemimpinan Muawiyah. Di kalangan orang-orang mulia, berselisih pendapat, pemikiran, dan sebagainya, tidak akan membuatnya merendahkan orang lain. Bahkan mendebat orang yang bejat sekalipun, kata-katanya tetap santun dan substansial. Lalu bagaimana dengan kita yang sebenarnya hanya mengalami masalah dengan prasangka akibat info-info yang belum diklarifikasi ke sumbernya. Alangkah ruginya kita larut dalam polarisasi kepentingan yang kita sendiri tidak melakukan klarifikasi tentangnya.

Jika kita berkomitmen pada sebuah keluarga, jamaah, atau komunitas, dan kita telah tahu bagaimana orang-orang yang di dalamnya, maka tidak larut dalam polarisasi ketika ada perselisihan di dalamnya adalah pilihan terbaik. Bukankah mereka sahabat-sahabat kita. Jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, bukankah upaya terbaik adalah menyadarkan dan mengingatkan. Jika itu menyangkut pelanggaran disiplin, maka biarlah yang berwenang memberikan keputusan, bukan ikut-ikutan menghakimi dengan pembicaraan yang ramai. Jika tidak sanggup melakukan semua itu, bukankah diam lebih mendamaikan ketimbang menyulut api fitnah.

Setiap kita, dilengkapi Allah dengan akal dan pikiran. Maka setiap diri kita pasti akan mengalami perbedaan. Perselisihan pendapat tidak berarti menimbulkan saling curiga apalagi kebencian. Terlebih jika kita pernah berikrar untuk cita-cita yang sama. Kukira inilah makna keindahan ukhuwah itu. Bahwa di setiap perbedaan itu tidak seharusnya melahirkan prasangka, kebencian dan perpecahan. Tetapi membuat kita untuk berkomunikasi dan saling mendoakan kebaikan agar Allah menjaga sahabat-sahabat kita. Karena sebenarnya kita hanya bisa bertemu dalam kondisi lahir masing-masing, berbagi senyum dan segala kebaikan lahir. Maka keikhlasan hati kita yang membuat kita bisa saling mempercayai satu sama lain. Jika demikian, bukankah yang bisa menjaga hati kita adalah Allah? Maka berdoa untuk kebaikan kita semua tentu lebih utama baik ketimbang mencari-cari celah orang lain untuk membuat isu bahwa dia seorang munafik ini dan itu.

Tulisan ini sebenarnya hanya refleksi atas kejadian-kejadian yang telah berlalu selama beberapa tahun terakhir ini hingga baru-baru ini. Baik dalam skala yang besar maupun yang kecil. Tulisan ini untuk mengenang diriku sendiri yang begitu lucu dalam menyikapi berbagai realita ini hingga akhirnya hari ini tersenyum sendiri melihat kebodohan diri. Oh, kawan, mari kita buat hidup selalu indah dengan senyuman. Mungkin kita perlu sedikit cuek jika itu membuat kita berhenti memikirkan keburukan orang lain ketimbang kita sok aktif tetapi akhirnya hanya menggunjing soal keburukan orang. Jika terpaksa “menggunjing”, mari kita gunjingkan setiap hal yang baik dari orang tersebut. Jika ada kawan kita yang punya pengalaman buruk atau aib dan merasa penting untuk diungkapkan, maka gunakan bahasa samaran atau dikiaskan agar dapat tetap menjaga harga dirinya.

Semoga Allah mengampuni yang menulis ini atas dosa-dosa yang masih kadang dilakukan di saat futur. Semakin membaikkan hari-hari untuk tidak larut dalam fitnah. Dan terus belajar untuk mendengar, mengerti, dan memahami keadaan orang lain.

Kategori
Dakwah Islam

Ukhuwah itu Sesuatu Banget #1

Salah satu ujian orang-orang yang berorganisasi, bergabung di pergerakan, dan sejenisnya adalah menjaga rasa kepercayaan. Percaya pada teman itu adalah hal yang gampang-gampang susah. Terlebih ketika ilmu masih dangkal dan ketidakpahaman pada konteks, maka seringkali kita mulai curiga dan kehilangan rasa percaya, bahkan itu terhadap teman kita. Why? Saya sendiri juga pernah merasakan demikian.

Mengapa kaum muslimin saat ini masih tercerai berai dengan berbagai kondisinya seperti sekarang? Kalau aku boleh berpendapat, salah satu faktornya adalah krisis kepercayaan yang kita miliki kepada saudara-saudara kita yang lain. Apakah sesederhana itu? Tidak juga. Hanya saja itu menurutku sebagai salah satu faktor pembuka berbagai masalah yang lain. Karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.

Karena prasangka, terkadang kita lebih sibuk untuk memperbincangkan sisi keburukan saudara kita ketimbang mengambil inspirasi yang baik dari saudara-saudara kita. Bukankah setiap manusia itu pasti bisa berbuat salah, kecuali Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam? Lalu apa masalahnya bagi kita ketika dia berbuat salah. Kalau kita tidak sanggup mengingatkan, toh tidak perlu juga kan kita mencelanya habis-habisan. Kalau pun menceritakan keburukannya, bukankah lebih baik kita gunakan bahasa kiasan dan kita lakukan hanya untuk tujuan ibrah di waktu-waktu yang tepat, bukan menggunjing? Tapi sepertinya hobi melakukan kasak-kusuk sesama saudara kita ini masih menjadi kebiasaan. Pun yang menulis ini juga masih berjuang untuk mengikis sifat buruk yang asyik ini karena lingkungan yang mendukung. Bukankah ada sisi kebaikan orang itu untuk dieksplorasi dalam mengisi diskusi kita ketimbang mengobrolkan kekurangan orang yang tidak perlu.

Karena prasangka, bahkan terkadang kita menjadi lebih curiga terhadap teman sendiri yang sudah diamanahi tugas ketimbang pada pihak-pihak yang jelas di depan mata melakukan berbagai makar untuk memperburuk citra kita. Nafsu untuk selalu berprasangka buruk pada orang akan menumpulkan logika kita untuk berpikir analitis tentang setiap kejadian yang ada di sekeliling kita, karena semua energi kita hanya terfokus untuk mencurigai teman kita sendiri. Tak sia-siakah waktu kita hanya karena sebuah informasi yang tidak ditabayuni tapi segera menyebar efektif dalam ghibah yang dahsyat. Ditambah model komunikasi bangsa timur yang circular ini, kita tidak tertarik untuk klarifikasi ke sumbernya langsung. Bukankah lebih baik jika memang kita tidak tertarik untuk tabayyun, ya cuek dan doakan kebaikan untuk kita semua dan untuk orang yang dijadikan pembicaraan?

Karena prasangka, menjadi orang yang sulit berposisi di tengah lantaran kita mudah terpolarisasi pada keadaan. Dan sejak saat itulah kita tidak akan pernah mendengar informasi pembanding, karena memang kita telah menutup diri. Suatu ketika ada si A yang curhat ke kita tentang si B. Di kesempatan yang lain si B curhat ke kita tentang si A. Sementara publik terpolarisasi untuk mendukung si A dan si B. Padahal ditilik dari informasi yang disampaikan keduanya, masalahnya hanya satu, karena si A dan B tidak pernah bertemu untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Sedangkan si A dan B sebenarnya hanya dua sahabat yang sedang berselisih. Tapi kenapa si A punya pendukung, dan si B punya pendukung. Itu karena tabayyun kepada keduanya tidak dijalankan maksimal, makanya memilih berpihak ke salah satu. Dari itu pentingnya kita menjadi jembatan di tengah. Yang tidak banyak berprasangka macam-macam, dan lebih banyak mendengarkan. Setidaknya melegakan mereka yang sedang mengalami guncangan hati itu. Bukankah orang yang galau itu butuh didengarkan orang lain. Dengarkan, tenangkan, jika ada ide, damaikan.

bersambung ….