Kategori
Seni

Telaah Kritis Musik Sebagai Pembangun Moral Bangsa #3

Ini bagian terakhir dari tulisan tentang ceracau diskusi tentang musik. Ada pertanyaan dari audiens tentang Letto dan bagaimana dia mengarang lagu. Jawaban yang mengesankan dari Bang Noe adalah sebagai berikut (berdasarkan jejak rekam catatanku, dan semoga aku tidak mengarang yang tidak-tidak).

Pertama, bang Noe dan kawan-kawannya telah berteman sejak SMA di jogja (buka di wikipedia tentang Letto). Persahabatan mereka karena kesamaan dalam diskusi dan dalam hal musik. Mereka mengarang lagu dan membuat diskusi tentang musik-musik yang mereka sukai. Mereka melakukan itu karena hobi dan senang dengan hal itu. Makanya ketika ada pertanyaan audiens yang mengaku punya talenta tetapi sering pesimis, pesannya adalah nikmatilah apa yang menurutmu itu menjadi talentamu dan jalani dengan cinta sehingga setiap hal yang terjadi adalah indah baginya.

Awal mula masuk dapur rekaman pun, itu bukan karena mereka mengajukan ke produser. Mereka tidak pernah berniat mengajukan ke produser. Bahkan ketika ada produser yang menawari rekaman dengan catatan lirik lagunya diubah ke bahasa Indonesia (kebetulan liriknya bahasa Inggris), beliau menolak keras dan membiarkan sang produsen bolak-balik memikirkannya sampai akhirnya disetujuilah rekaman dari lagu-lagu yang pernah mereka buat sejak masih SMA. Menjelang peluncuran album, terjadi geger lagi karena belum ada nama untuk grup band tersebut. Akhirnya muncullah nama LETTO, yang kata bang Noe itu ga punya arti yang fenomenal, ya karena album mau diluncurkan makanya harus ada nama grup pembuatnya.

Ketika ada pertanyaan, kenapa albumnya Letto ga muncul-muncul lagi. Dengan santainya beliau menjawab, kami bukan ingin kejar tayang. Mengarang lagu itu tidak seperti membuat tulisan sampah. Perlu menghadirkan perasaan dan menemukan momentumnya. Dan yang lebih membuat audiens tertawa adalah albumnya tidak muncul-muncul karena belum tergerak untuk buat album, dan beliau lontarkan dalam celotehan bahasa Jawa.

Akhirnya aku ingin menyampaikan bahwa membangun visi bersama itu sangat penting. Hal yang paling mendasar dan akan mengikat orang-orang yang berkumpul adalah kesamaan visi dan destinasinya. Makanya ketika orang berada di organisasi itu tidak memahami visi organisasi atau tidak mensinergikan visinya akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan di organisasi. Tapi itu masih mendingan karena akan terjadi perang yang mengasyikkan sebagai bagian dari dinamika organisasi. Tetapi jika di organisasi orang-orang no vision bahkan without vision, remuklah organisasi itu, bahan percobaan dan bahan permainan saja. Ujung-ujungnya kalau tidak berkutat pada masalah prestis ya pencitraan saja. Padahal dua hal itu menagih biaya mahal, baik biaya finansial maupun biaya tak terlihat yang bernama kehormatan.

Apakah LETTO akan terus eksis? Kita doakan iya, jika memang mereka berangkat dari visi yang jelas. Dan kita pikirkan saja masalah kita hari ini. Sudahkah kita terbiasa membangun visi seperti ceritanya Letto tadi. Atau jangan-jangan kita lebih nyaman memiliki adik-adik yang menjadi “anak manis” di mata kita. Aku lebih suka memiliki singa-singa yang beringas yang kubesarkan sejak kecil. Mungkin satu dua mereka akan lepas dan mengembara di alam bebas, tapi di mataku mereka terhormat. Dan aku yakin akan banyak yang menjadi singa-singa pemberani yang siap menaklukkan singa yang lepas tadi. Rivalitas ini akan menyehatkan iklim dinamika organisasi kita yang sering terkekang dalam status quo. Maka tidak ada istilah tuntaskan perubahan, tetapi selalu lakukan perubahan agar tercapai kemapanan di setiap masanya.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)

Kategori
Seni

Telaah Kritis Musik Sebagai Pembangun Moral Bangsa #2

Setelah di bagian pertama dibahas tentang karakter bangsa kita dan kaitannya dengan musik. Kali ini kita akan membahas pertanyaan dari kebanyakan para peserta tentang musik Islami. Ketika pertanyaan ini dilontarkan, bang Noe justru membalikkan pertanyaan apakah ada musik Islami, atau musik Islami itu seperti apa? Beliau membuat pertanyaan lagi, apakah musik yang memakai rebana itu lantas dikatakan musik Islami, kemudian musik yang memakai gitar itu lantas tidak Islami?

Dengan satir beliau kemudian memaparkan kejadian orang yang sok tahu tentang masalah Islami. Suatu ketika orang itu disetelkan sebuah doa orang Lebanon yang beragama nasrani. Yah, bahasa Lebanon kan juga bahasa Arab. Orang tersebut ikut berkata amin-amin hingga selesai. Sampai di sini, beliau berkata, itulah masalah orang-orang yang hari ini sok ngerti masalah sesuatu yang Islami.  Yang ada adalah musik Arab dan non Arab. Ada-ada saja istilah musik Islami.

Sehingga istilah Islami itu dimanfaatkan oleh para pelaku pasar untuk mengeruk keuntungan bisnis. Luar biasa ya! Luar biasa bodohnya ya bangsa kita kalau seperti ini sampai ikut diamini. Nanti akhirnya ada makanan Islami, busana Islami, kafe Islami, tempat nongkrong Islami, lama-lama ada pacaran Islami. Semua bisa dikomersilkan, dan penikmatnya adalah generasi bangsa kita yang makin lama makin tidak jelas dan larut dalam kebodohan yang menjebak mereka dalam nuansa cerdas. Kalau bodoh tapi tahu bahwa kita bodoh itu masih mending, la kalau udah bodoh masih ngaku pinter apalagi gaul trus juga percaya aja ama pujian orang bahwa kita keren, hemm, bikin geleng-geleng kepala.

Kesimpulan tulisan ini adalah bahwa kita itu harus terbiasa belajar dari akar permasalahannya. Jangan hanya suka mengambil sisi formalitasnya saja. Ini juga penting untuk menjadi inspirasi bagi para aktivis dakwah yang hari ini sudah banyak dipasrahi amanah. Yang sudah diberi nikmat Allah menutup diri dengan sempurna (bagi yang akhwat) atau sudah tidak gampangan (bagi yang ikhwan), maksudnya gampang kena tegangan 220 V, hendaknya melakukan refleksi diri kembali agar apa yang telah dianugerahkan Allah hari ini bisa terus tertanam kuat, karena dasarnya dapat dan telah menjadi bagian dari hati. Bukan hanya karena terkondisikan lingkungan atau karena lagi rame-ramenya orang alim di kampus.

Sedikit sindiran kecil, jadi senior yang udah sering ngajarin adik-adiknya ngaji di kampus, sudahkan berusaha totalitas membenarnya bacaan tilawahnya? Atau jangan-jangan menjadi bagian yang tidak sengaja membangun image kepada adik-adik yang relatif “sungkan” bertanya, bahwa membaca al-Quran dengan “pas-pasan” itu sudah baik? Hemm, harus dipikir serius lho ini. Karena yang bahaya itu adik-adik diam dan apa yang kita contohkan adalah bentuk pembenaran dalam pikiran mereka. Beruntunglah kalo ada adik-adik yang nyeletuk, “mas bacaan yang baik itu kayak gitu ya mas?”. Setidaknya rasa kesambar petir itu bakal bikin kita ga bisa tidur semalaman, entah karena marah atau disadarkan.

Dan lagi-lagi kita itu sebenarnya tidak perlu mendikte mereka bahwa mereka harus seperti ini seperti itu, ajaklah mereka untuk melihat contohnya secara langsung, baik itu diri kita, atau orang lain yang menginspirasi. Maka berkaitan dengan bacaan Quran tadi, jika kita mampu memberi contoh membaca yang baik, insya Allah adik-adik akan termotivasi menjadi lebih baik. Demikian pula untuk hal yang lain. Karena hati itu hanya bisa disentuh oleh hati.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)

to be continued

Kategori
Seni

Telaah Kritis Musik Sebagai Pembangun Moral Bangsa #1

Kesempatan kedua bertemu dengan Noe Letto di Taman Budaya Jawa Tengah, dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Divisi Kebudayaan Pemuda MTA. Kenapa aku ikut? Pertama gratis (ini jelas merupakan alasan terkuat seorang mahasiswa), kedua pembicaranya Noe, salah satu musisi yang intelek. Loh emang musisi yang lain ga intelek ya? Mungkin iya, menurutku sih karena kebanyakan lagu-lagu grub band muda hari ini ya cuma ramai-ramai saja tanpa ada karakter yang jelas.

Sempat molor mulainya, meskipun aku tidak terlalu terganggu dengan kemolorannya karena aku sudah terlalu asyik bersuka ria dengan lepi kesayanganku, my Inspiron. Diskusi pun dimulai dengan pemaparan Bang Prima dari ISI Surakarta. Dengan gayanya yang khas sebagai akademisi yang terinfeksi jiwa seni beliau mulai dengan pemaparan ilmiah, meskipun aku suka dengan pemaparan beliau yang sederhana dengan logat Jawanya yang cukup terlihat. Kalem santai dan tenang. Intinya beliau memberi kunci bahwa ada sebuah studi tentang sosiologi musik yang itu dapat menjadi jalan bagaimana kita dapat membangun moral suatu masyarakat dengan musik.

Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Bang Noe. Seperti ayahnya yang terkenal unik dalam mengisi materi, rupanya bakat itu menurun pada putranya yang keren ini meski berbeda karakternya. Beliau memulai dengan pertanyaan tentang nada dan gamelan pelog dan slendro. Ternyata banyak peserta yang mengerti tentang hal itu. Alamak, kata beliau hari ini kita bisa jadi terjajah. Terjajah dengan karakter musik asing dan kita lupa dengan karakter musik kita sendiri yang pentatonis. Kita menjadi penyuka musik diatonis yang sering dianggap keren, padahal sebenarnya kepunyaan kita sendiri tak kalah keren. Kata kunci yang beliau sampaikan kemudian adalah musik itu cermin budaya bangsa.

Lanjut beliau, musik adalah representasi diri. Jika hari ini banyak dari masyarakat yang suka dengan musik koplo dan berbagai hal yang tidak jelas, maka itu adalah karena representasi masyarakat kita yang sedang butuh kedamaian akibat kegalauan yang mereka alami sendiri. Maka bagi beliau musik itu cerminan jati diri suatu masyarakat itu sendiri. Maka tegas beliau, sebaiknya kita sungguh-sungguh mengenali siapa kita dan bagaimana akar budaya kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang terjajah dalam seni atau hanya menjadi mesin fotokopi amatiran yang terus menerus memfotokopi budaya asing tanpa ada rasa risih dan bersalah terhadap semakin ditinggalkannya akar budaya sendiri.

Di sisi lain banyak memenuhi layar kaca musisi-musisi baru yang minim karakter mulai dari grub band alay, girlband, boyband dan berbagai bentuk jiplakan tidak berkelas yang tidak hanya menimbulkan berisik permusikan Indonesia, tetapi merubah gaya hidup masyarakat, khususnya para pemuda menjadi semakin tidak karuan. Wajah pas-pasan dipermak layaknya gadis korea sehingga makin rusak dan mirip hantu di televisi. Masyarakat yang jadi audiens juga menikmati musik sekedar angin lalu yang suatu saat bisa berganti tergantung trendnya. Maka tidak berlebihan jika beliau mengatakan bahwa karakter pendengar musik di Indonesia adalah tidak berkarakter. Ketika aku mendengarkan statemen ini rasanya pingin jungkir balik ketawanya. Rasanya memang benar, karena bangsa kita kan memang minim karakter, bahkan mungkin tidak punya karakter. Padahal labelnya adalah bangsa muslim terbesar di dunia. Sebuah pekerjaan rumah besar bagi generasi pejuang untuk memperbaiki bangsa.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)

to be continued …..