Persahabatan, tulisan ini akan bercerita tentang persahabatan. Sejak aku lepas dari orang tua di masa SMA dan memasuki babak baru di dunia pesantren, maka aku mulai mengerti arti sebuah persahabatan. Hidup bersama dengan rekan-rekan santri dan menjalani berbagai nuansa kehidupan pesantren yang lebih mirip sebagai asrama tinggal bagi kami ternyata menghadirkan nuansa hidup bagiku yang terbawa hingga kini.

Ketika lulus SMA, aku memasuki babak baru dunia kos yang berbeda. Aku sempat berpikir untuk tetap masuk di pesantren ketika kuliah. Tetapi rupanya hasrat untuk mencoba dunia baru lebih kuat. Hasilnya aku mendapatkan kos yang ternyata tetap menyuguhkan suasana kebersamaan yang luar biasa dipandu dengan etika yang selalu di tanamkan oleh bapak kos kami. Bahkan termasuk rekrutmen penghuni baru, bapak kos lebih nyaman jika yang datang adalah orang yang direferensikan oleh penghuni sebelumnya ketimbang orang yang datang langsung untuk mencari kos-kosan. Tentu ini adalah nikmat yang Allah berikan bagiku hingga 4 tahun di kos yang damai itu, Pelangi Buana.

Menjelang tahun kelima kuliahku, aku mencoba lagi tantangan baru sebagai pengurus masjid. Teman ayah yang kebetulan menjadi salah satu pengurus inti sebuah masjid di sekitar kampus menawariku. Aku mau mencobanya. Dan di sanalah aku dipertemukan dengan seorang adik tingkat yang sejak awal kulihat luar biasa dengan segala kekhasannya. Pendiam tapi cekatan. Sopan dan penuh penghormatan, meskipun aku sangat tidak nyaman dengan hal itu. Dan penghuni lain yang mungkin tidak begitu dekat denganku karena faktor interaksi yang sulit dibangun antara aku dengannya, tapi bukan berarti kami berselisih, apalagi bermusuhan.

Menjelang tahun kedua di masjid, ternyata ada rekomposisi. Mereka memilih pindah, tinggal adik yang pendiam tadi. Namun dia mengajak satu temannya yang juga terlihat pendiam. Dan di tahun inilah kami semua menunjukkan jatidiri yang selama ini tidak terbuka di antara kami karena memang belum waktunya. Interaksi di antara kami melahirkan kedekatan yang luar biasa. Bahkan aku seperti menemukan keluargaku di pesantren ketika SMA dahulu. Dan inilah kami yang mungkin punya banyak kebiasaan aneh dan unik. Sehingga aku berseloroh untuk memberi nama geng kami bertiga ini dengan 3 IDIOTS. Entah mereka setuju atau tidak, aku tidak terlalu peduli.

Tapi itulah kedekatan kami yang hari ini mungkin menggantikan kebahagiaan keluargaku saat bersama adik laki-lakiku dan adik perempuanku yang manis. Kedua adikku ini memiliki kesamaan sepertiku dalam hal pola pikir yang aneh. Kami sangat freak dalam ide-ide gila. Hanya mereka masih takut untuk berkelana di belantara kampus. Mereka cenderung menunjukkan tampang biasa mereka di kampus. Tapi aku membaca bagaimana mereka adalah generasi baru “3 idiots“ buat kampus jika saja orang-orang berhasil mengangkatnya.

Setidaknya kami selalu hangat dalam diskusi anime, pedesaan, keilmuan dan hal-hal yang menjadi hobi kami. Semoga persahabatan ini selalu berkekalan. Love you adik-adik hebatku. Mari tetap berpikir “idiot“ di tengah banyaknya orang pintar hari ini yang keblinger. Hidup 3 Idiots.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.