Akhir-akhir ini dunia luarku terhiasi oleh sebuah mozaik warna yang aneh. Kupinta ada mozaik warna-warna yang indah dan harmoni. Namun kali ini bukannya ia menjadi harmoni, melainkan menjadi duotone karena seolah-olah warna itu mengabur ke salah satu kutub warna utama. Mengapa? Mungkin karena warnanya mulai luntur.

Adalah hal yang wajar ketika setiap orang memiliki perbedaan. Adalah hal yang wajar pula jika setiap perbedaan itu menimbulkan ketidaksepahaman. Tetapi wajarkah jika atas nama perbedaan maka terjadi sebuah perpecahan? Siapa yang menginginkan hal ini. Tapi itu nyata terjadi. Dan negeri ini mungkin geraknya menjadi lambat atau bahkan mungkin mulai bergerak ke belakang karena perbedaan yang ada tak pernah disyukuri sebagai mozaik yang harmoni.

Begitu mudahnya orang hari ini berprasangka lalu menebar kasak-kusuk bahwa si A begini, si B begitu. Begitu mudahnya orang lupa ketika semenit sebelumnya dia melakukan suatu hal yang sangat menyinggung kawannya tetapi lupa minta maaf. Begitu mudahnya kita lupa (tunjuk hidung sendiri). Begitu mudahnya orang tersulut emosi ketika temannya bercerita tentang perselisihannya dengan orang lain. Atas nama solidaritas, maka diangkatlah senjata. Serbu!

Padahal, ada persepsi yang kita lupakan. Di negeri ini, kita berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bukan? Tapi mengapa ketika ada dua orang yang berselisih, kita lebih memilih menjadi pendukung salah satunya ketimbang mendamaikan keduanya. Dalam pergerakan, organisasi, atau apa pun itu, ikrar yang sama diberlakukan bukan? Lantas mengapa kita lebih sibuk mencari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah ketika dua sahabat kita saling berselisih.

Solidaritas itu memiliki tempat dan kerangka. Jika darurat, maka aku memilih cuek dan diam melihat 2 orang rekan bertikai ketika diri ini merasa tak mampu menengahinya. Ketika mampu maka sudah seharusnya kita membuat dua sahabat kita yang berselisih saling bertemu dan berdamai, bukan menjadi pendukung salah satu. Ini tidak bicara siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi jika kita masih menganggap keduanya adalah saudara kita, maka seharusnya kita berada di antara keduanya, bukan condong ke salah satunya. Kecuali kita punya persepsi bahwa salah satunya adalah musuh, maka pilihan menyingkirkan sudah pasti lebih asyik untuk diputuskan.

Mendamaikan itu mempertemukan, membuat kubu-kubu yang bertengkar saling menceritakan masalahnya, meminta pertanggungjawaban. Jika akal sehat masih ada, maka yang salah seharusnya meminta maaf dan yang merasa dizalimi memaafkan. Tapi hari ini, kubu-kubu itu cenderung merangsek ke puncak gunung di pedalaman. Sementara jembatan-jembatang penghubungnya masih sedikit. Kalau pun ada cenderung hanya melayani siapa yang dulu membuatnya. Bagaimana mereka akan bertemu, dan jembatan pun tutup karena tidak ada lagi lalu lintas.

Ah, tulisan apa ini? Hanya rangkaian kata-kata memusingkan untuk di baca. Tapi aku tahu, bahwa kita hanya entitas yang tidak akan lepas dari gemuruh suasana hati setiap hari. Yang terus disulut maka kian hari ia kian merah membara. Yang terus disiram kian hari ia kian menyejukkan. Mari kawanku, bertemu dan berpelukan. Tidak penting siapa yang benar dan siapa yang salah. Anggap saja salah jika itu menentramkan salah satunya. Karena seharusnya hal itu hanya kita yang tahu.

Tak ada salahnya mengucapkan permintaan maaf meskipun kita lupa telah berbuat salah seperti apa. Karena itu akan memberikan angina penyejuk bagi yang merasa terzalimi. Tak ada salahnya untuk memberikan pintu hatimu kawan, ketika memang kita diuji dengan rekan-rekan yang mungkin masih kurang mengerti. Karena persahabatan ini tergantung suasana hati kita. Maka tidak usah banyak bergantung pada kebaikan orang lain, tapi mari berbuat baik sebisa mungkin kepada setiap orang, bahkan itu orang yang paling kita benci. Karena ketergantungan itu menimbulkan pengharapan, dan pengharapan itu terkadang membutakan akal sehat kita.

Jadi mari kita berharap saja kepada Sang pengabul Harapan. Kita harapkan agar kita semua selalu berpadu, meskipun kita tak sering bertemu dalam kata, cinta, dan langkah ke depan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.