Kategori
Pendidikan

Kuliah Marketing ala Pak Daniel

Hari ini aku mendapat kesempatan diskusi dengan salah satu kepala marketingnya XL Solo. Sebuah pertemanan yang terjalin setelah gagal meraih sponsorship untuk proyek web idealisku, www.fisika.org. Tapi tak mengapa, karena dipercaya untuk menjadi partner diskusi (siapa tahu nanti kecipratan kegiatan dari beliau) adalah nilai lebih yang kudapatkan dari menjalin kerja sama di ruang-ruang yang tidak biasa ini.

Berbekal semangat setelah konsul masalah tugas akhir yang semakin terang, kupacu kuda besiku menuju pameran Komputer di Diamond Solo. Aku tidak terlalu tertarik dengan pamerannya karena memang sedang tidak punya uang dan tidak punya keinginan buang-buang waktu lihat produk-produk yang mayoritas buatan asing tersebut.

Segera saja aku menemui Pak Daniel, begitulah namanya. Diskusi dari berbagai tema seputar perjuangannya menjadi orang marketing. Aku dapat banyak inspirasi bagaimana memasarkan sebuah produk dengan cara yang paling kreatif. Hal yang paling seru adalah perjuangan dia bagaimana harus mengulang masa kejayaannya dengan menumbangkan kejayaannya di masa lalu. Sebelum di XL beliau pernah di Indosat dan berhasil menancapkan kukunya di sebuah kampus di Solo, kini setelah di XL dia harus kembali mengakuisisi apa yang dulu telah dia tancapkan, diganti dengan bendera barunya.

Aku terpikir, dunia pekerjaan dan materi saja bisa membuat seorang terus berjuang sekeras ini. Aku justru lebih menangkap bagaimana dia menyukai tantangan-tantangan menegangkan seperti ini, karena seperti kita tahu orang yang bekarja di perusahaan swasta tentu tidak seperti PNS yang kerja nggak kerja digaji. Di perusahaan seperti ini beliau mempertaruhkan kredibilitas dan keahliannya untuk memberikan hasil yang optimal demi meningkatkan pendapatan perusahaan.

Refleksi hari ini, jika masalah kebendaan saja menjadi hal yang luar biasa seperti ini, bagaimana dengan upaya dakwah yang sudah jelas kemuliaannya. Dakwah lebih dari sekedar marketisasi produk, tapi marketisasi nilai kebaikan dan moral dari Tuhan. Ini berbicara tentang keyakinan akan apa yang sebenarnya kita bawa dari Islam yang mulia ini. Tak banyak yang terpanggil untuk menjadi sales-sales kebaikan ini kecuali dirinya yang mengerti betapa mulianya jadi marketingnya agama Allah.

Inspirasi dari Pak Daniel memberi ruang kesadaran baik secara duniawi maupun ukhrawi. Semangat bekerja keras!

Kategori
Pendidikan

Training Motivasi, Orasi Presiden, dan Sitting Up Comedy

Tadi malam aku dapat kesempatan untuk berkumpul dengan adik-adik Follow up AAI FKIP yang luar biasa. Agendanya disuruh berbagi cerita kepada mereka. Parahnya aku diberi tema yang sebenarnya tidak terlalu menarik bagi diriku sendiri. Yakni menyinggung masalah “prestasi” yang itu sebenarnya juga kata ambigu untuk hari ini. Kadang didengar sangat ambisius, di tempat lain melemahkan bahkan kadang menyakitkan.

Ah, tidak mengapa diiyakan saja. Untung pembicara pertama, sahabatku sejak awal masa kampus hingga kini memulainya dengan sbuah motivasi yang keren. Makanya frasa pertama judul postingan ini training motivasi. Titik tekan yang beliau sampaikan lebih pada penjagaan diri dan keyakinan yang besar akan anugerah Allah di waktu-waktu yang tak terduga.

Berikutnya, sang Presiden sekaligus sang Profesor yang dengan lantang dan tegasnya memberikan sebuah penegasan pentingnya mengisi masa-masa muda ini dengan segudang aktivitas penting. Kisah-kisahnya yang inspiratif menyihir hadirin yang rata-rata adalah adik-adik kami yang imut dan masih segar itu.

Berikutnya, adalah orang yang datangnya terlambat lagi bingung mau berbicara apa? Akhirnya kupilih temanya Sitting up Comedy (karena tidak ada stand mic untuk berdiri). Singkat cerita aku berbagi tentang perbaikan pola pikir seorang mahasiswa dan melakukan hal yang penting. Pola pikir mahasiswa adalah pola pikir idealis dan merdeka maka semestinya kita kembali ke jalan itu. Banyak baca, diskusi, dan berinteraksi dengan orang yang tepat akan membuat pola pikir kita bagus sehingga akhirnya berhasil melakukan hal-hal yang penting, bukan yang penting melakukan.

Begitulah, tadi malam aku malah jadi kebawa gayanya Raditya Dika. Padahal aku adalah Yuli Ardika. Semoga sharing tadi malam bisa memberi inspirasi bagi adik-adik semua. Aku sekarang justru berharap diriku dan rekan-rekan mahasiswa itu menjadi mahasiswa “biasa” saja. Biasa berpikir, berdiskusi, menulis, beropini, memecahkan masalah, bahkan meluruskan penguasa dengan intelektualitasnya. Itulah mahasiswa “biasa”. Yang tidak begitu? Lalu apa namanya

Kategori
Catatan Perjalanan

Inspirasi dari Kampus Biru #3

Setelah menikmati karya hasil ekskursi Mentawai 2012 aku berjalan-jalan di depan perpus pusat UI. Keren bener dah, ada danaunya yang luas dan begitu rindang. Aku ditawari sebuah komunitas yang hobi menggambar, “Mas, sini ayo kita menggambar bersama kami!”. Kubalas tawaran hangat mereka dengan senyum, dan gelengan kepala. Mereka kemudian asyik melanjutkan aktivitas mereka. Aku pun duduk menikmati hijaunya dan asrinya kampus biru ini, kampus yang memang paling tua di Indonesia, kampus yang telah melahirkan orang-orang besar di negeri ini.

Di tengah kesendirian yang tenang itu, ibnu memanggilku untuk bergabung di forum temen-temen Bakti Nusa UI. Wah, ternyata luar biasa, tak akan kukatakan kebetulan, tetapi inilah takdir Allah untuk aku mendapatkan banyak hikmah dari rihlah hari ini. Tidak hanya kisah-kisah konyol tetapi juga inspirasi yang banyak dan berharga. Hari itu mereka ada agenda melakukan seleksi panitia Konferensi Internasional tentang Green Life Style, gerakan Bakti Nusa yang mereka ajukan. Di salah satu ruangan perpus yang bagiku sangat-sangat elit, hal yang menarik terjadi untuk kusimak dan kuabadikan.

Ada hal menarik yang selama ini tidak pernah kupikirkan bagaimana membuat sebuah seleksi itu disamping mendalam juga berkelas. Dan kejadian sore ini menjadi contoh nyata yang dapat kuambil pelajarannya. Yaitu seleksi dengan FGD, yah FGD sebenarnya juga sering dilakukan di kampusku, tetapi mengapa jarang terpikir bahwa ini juga menjadi mekanisme seleksi yang bagus untuk melihat talenta personal di awal. Dan aku mendapati hal ini dapat memacu mental adik-adikku nanti agar tidak minder ketika berbicara di depan umum, karena sejak awal mental dan pikiran mereka terus diasah.

Tidak tanggung-tanggung, FGD yang dilakukan sore ini adalah dengan menggunakan bahasa Inggris. Para peserta sangat aktif dan antusias, padahal mereka baru angkatan 2010 dan 2011, bahkan ada 2012. Pendaftarnya cukup banyak dan terbagi menjadi beberapa kelompok dan sesi. Temen-temen bakti nusa selaku penyeleksi aktif memantau para calon panitia dengan seksama. Mereka diberi sebuah isu yang harus didiskusikan bersama dan dites bagaimana membuat konsepan ideal kepanitiaan berdasarkan diskusi mereka. Di akhir sesinya mereka juga ditantang untuk membrandingkan diri mereka sebagai sebuah promosi dan sekaligus menguji kepercayaan diri untuk meyakinkan penyeleksi agar memilih mereka. Ini inspirasi bagus untuk diterapkan dalam seleksi anggota dan pengurus SIM ke depan. Tinggal konsep dan metodenya disesuaikan dengan kultur mahasiswa di kampusku.

Ketika waktu sudah semakin sore, aku berpamitan pulang, ternyata bang Bashori (Supervisor BA UI) justru mengajakku makan. Beliau membawaku ke masakan Padang sambil berdiskusi panjang seputar linguistik gara-gara tahu aku mau ke Jerman. Dan jadi ga enak waktu perkenalan di sesi diskusi aku ikut dikenalkan, disebut bintang tamu lagi, padahal tamu tak diundang yang malah jadi mengganggu. Terbukti aku merepotkan bang Bas untuk mengantarku dengan mobilnya ke jalur bus yang akan ke Terminal Lebak Bulus.

Dalam diskusi dari saat pengantaran hingga warung makan aku banyak dinasihati untuk mulai berpikir tentang “perkawaninan”. Ha ha ha, apa yang dikawinkan, yakni berbagai dasar ilmu yang menjadi kecenderunganku saat ini. Jangan sampai aku menjadi alumni perguruan tinggi yang hanya ngerti pada sesuatu yang linear. Tetapi pandai mengawinkan berbagai bidang ilmu yang dikuasai menjadi rumusan baru yang bermanfaat dan inovatif. Kata beliau, menjadi guru itu tidak harus kuliah, karena itu sebenarnya secara alami akan muncul seiring inspirasi dan keinginan untuk berbagai. Benar juga bang, pendidikan Indonesia hari ini telah terjebak pada sisi fomalitasnya sehingga mengabaikan sisi humanismenya.

Mendidik dan mengajar itu hakikatnya memberikan inspirasi. Yang terpenting dalam mengajari siswa itu adalah tidak berhenti pada sebuah pertemuan di kelas semata. Tetapi bagaimana siswa itu mengerti ia sedang belajar apa, memiliki motivasi untuk belajar dan akhirnya berpikir bagaimana ia berkarya. Mungkin di kelas hanya belajar dua jam saja, tapi inspirasi sang guru itu akan selalu terbawa seumur hidup. Itulah sebenarnya mendidik. Bukan sekedar menjalankan tugas apalagi memenuhi jam saja. Memalukan sekali jika ada guru hari ini yang lolos sertifikasi tetapi justru menjadi orang pertama yang paling malas dalam mendidik dan belajar untuk memperbaiki cara mendidiknya.

Akhirnya perjalanan yang penuh inspiratif hari ini berakhir dan aku menuju kontrakan sahabat sedusunku di kawasan depok yang dekat tangerang dengan rute bus Debora menuju terminal lebak Bulus dilanjutkan dengan angkot 106. Di perjalanan ini aku mendapat hikmah bagaimana kemacetan Jakarta itu salah satu pemicunya adalah gaya hidup baru orang-orang kaya yang memilih menggunakan mobil padahal untuk seorang saja. PR bagi Pak Jokowi adalah menyediakan sarana yang lebih nyaman dalam angkutan umum dan menindak tegas orang-orang sombong yang berparade sendirian di jalan raya dengan mobil mewahnya.

Basah dan bersimbah keringat. Meskipun malam habis hujan, namun suasana panas Jakarta tetap terasa, bahkan hingga pinggiran kota yang sebenarnya telah masuk provinsi Jawa Barat. Dan kisah hari ini selesai.

Kategori
Pendidikan

Rumus Matematika ala Prof. Kuncoro

Pagi tadi, adik-adik dari kelompok studi Riset dan Teknologi SIM mengadakan acara yang luar biasa. Kuliah umum bersama Prof. Kuncoro Diharjo, Dekan Fakultas Teknik UNS. Hemm, sesuatu banget rasanya bisa mengundang beliau untuk menjadi motivator bagi kami agar dapat memahami arti prestasi dan dedikasi. Khususnya bagi adik-adik yang fokus di bidang riset dan teknologi, motivasi beliau pagi ini adalah pencerahan luar biasa.

Sebagai salah satu peneliti ahli di bidang komposit yang telah banyak berjasa membuat berbagai publikasi tentang pemanfaatan barang-barang bekas menjadi bahan komposit, tentu motivasi yang beliau berikan bukan sekedar omongan belaka, tetapi sesuatu yang telah dipraktekan. Dan inilah motivasi dari beliau selengkapnya. Berbicara tentang prestasi mahasiswa, maka prestasi mahasiswa itu tidak hanya cukup pada prestasi di bidang intelektual saja, tetapi juga yang berkaitan dengan softskil dan kreativitas mahasiswa. Jadi adalah hal yang naif jika prestasi mahasiswa hari ini semata-mata diukur dari indeks prestasi saja. Prestasi yang sesungguhnya adalah akumulasi peran dan karya yang mampu dipersembahkan oleh mahasiswa.

Bagaimana mencapainya? Beliau membuat rumus matematika yang sederhana. Yakni tambah, kali, kurang, dan bagi. Ya itu operasi matematika yang paling sederhana. Ternyata bagi beliau itu adalah sebuah rumus yang luar biasa.

  1. Tambah value diri kita, kemampuan diri kita akan terus meningkat jika kita terus belajar. Belajar tidak hanya dalam artian kognitif tetapi meliputi semua aspek belajar dalam hidup.
  2. Lipat gandakan kemanfaatan, caranya adalah dengan membuat visi besar dan melakukan kerja keras. Maksimalkan peran kita untuk membantu banyak orang.
  3. Evaluasi dan kurangi sisi-sisi buruk kita, itu adalah hal terpenting agar kita menjadi manusia yang makin berkualitas.
  4. Berbagilah, karena kemanfaatan itu akan makin meluas kita bisa menginspirasi orang lain.

Dalam hidup ini, beliau menyampaikan ada empat kuadran kehidupan yang terdiri atas sumbu aset (mendatar) dan sumbu waktu (tegak). Aset adalah representasi kemampuan atau potensi yang kita miliki, bukan modal atau uang yang kita miliki. Kuadran pertama adalah representasi orang yang makmur, asetnya bertambah manfaat seiring bertambahnya waktu. Kuadran kedua adalah representasi orang yang nganggur, makin bertambahnya waktu asetnya stagnan bahkan justru makin berkurang. Kuadran ketiga adalah representasi orang yang paling celaka, waktunya makin sempit tetapi juga asetnya kian negatif. Dan kuadran keempat adalah representasi orang-orang yang sudah kebanyakan kerjaan, asetnya banyak tetapi waktunya makin sedikit untuk mengerjakannya sehingga pusing.

Mau pilih mana kalau begitu? Kita pilih hidup yang paling manfaat yuk. Karena khairunnaasi anfa’uhun linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.

Kategori
Dakwah Islam

GO AAI 2012, Momentum Terbaik Meletakkan Landasan Idealisme Mahasiswa Muslim

Tadi pagi Allah mempertemukanku dengan kesempatan yang baik untuk berbagi kepada mahasiswa baru 2012. Sebagai duta Forum Cendikia Muslim UNS sekaligus ditunjuk untuk memoderatori sesi materi dalam Grand Opening Asistensi Agama Islam. Meskipun tempat dan suasananya tidak kondusif namun Alhamdulillah, teriakan dan semangat adik-adik maru mampu menggemparkan gedung ungu yang telah menjadi saksi orang-orang belajar berpuluh-puluh kali.

Sebuah kehormatan bagiku dapat membawakan sebuah acara yang disitu aku harus berhasil menjelaskan sebuah visi besar tentang pentingnya menjadi intelektual muslim yang setia terhadap agamanya dan senantiasa berupaya untuk kebaikan agamanya. Sebuah tantangan berat bagi para aktivis dakwah kampus untuk mengarahkan dan memobilisasi pemahaman ini agar menjadi satu frame di kalangan mahasiswa baru.

Acara pagi itu menghadirkan dua orang pembicara yang sangat inspiratif. Pertama adalah seorang mawapres yang juga sahabat seperjuanganku dalam berkecimpung di dunia karya dan tulisan. Yang kedua adalah master hipnoterapi yang juga seorang ustadz muda yang sudah banyak makan asam garam dalam dunia pembinaan SDM.

Aku berdecak kagum dengan paparan dan motivasi yang diberikan kawanku yang luar biasa itu. Ternyata banyak hal yang belum aku ketahui darinya selama ini. Banyak kiprah dan peran yang selama ini belum aku ketahui. Jadi malu deh, dan termotivasi untuk berbuat yang lebih banyak. Kemudian dilanjutkan oleh paparan ustad muda tadi. Meski aku lebih memandang bahwa muatannya lebih kayak kuliah psikologi, namun akhirnya ada kesimpulan juga terkait pentingnya AAI bagi adik-adik.

Inilah momentum terbaik untuk meletakkan landasan kepada adik-adik maru agar mau bangkit sejak dini untuk serius kuliah dan berpresatasi, tetapi tidak pernah lupa untuk ngaji dan menjadi aktivis di kampus. Aktivis dalam artian para pelaku organisasi formal maupun aktivis dalam artian para penyokong kebaikan karena figur keteladanan mereka sebagai seorang muslim. Dan kesimpulan yang paling keren adalah teriakan kami kepada adik-adik. TETAP AAI, TETAP NGAJI, DAN BERPRESTASI