Kategori
Misi Perubahan

Jangan Jadi Pelupa #1

Hari ini ada dua jadwal konser nih (bukan konser beneran)! Pertama, aku diminta berbagi di kuliah perdana Asistensi Agama Islam (AAI) Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS. Yang kedua aku ditelpon dadakan untuk menggantikan salah satu pembicara hebat di training anak-anak Psikologi.

AAI itu Melawan Lupa

Acara pertama, TOR yang dikirim kepadaku lebih menekankan bagaimana AAI itu asyik. Hemm, ini TOR yang orientasinya gampang tapi servisnya lumayan menantang. Berbicara tentang kegiatan pembinaan agama Islam di kultur teman-teman yang konsen pada seni dan budaya tentu tak seperti bercerita di depan teman-teman FKIP.

Namun dengan izin Allah, aku menemukan kata kunci yang tepat untuk semua itu, yakni #Jangan Jadi Pelupa. Yah, kita hari ini sering mengalami amnesia, terutama amnesia sejarah. Jika tidak ingin dibilang amnesia, kita mungkin juga sedang mengalami penyakit pikun muda (Alzheimer) yang akut. Bukankah banyak di antara kita yang bilang kalau Nabi Muhammad itu rasul junjungan kita. Tapi kenalkah kita dengan beliau, siapa beliau, apa yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. Semua hanya terjawab dalam klaim bahwa dia nabi kita, cukup.

Sesederhana itu? Kita adalah pelupa. Sehingga kita tak pernah tahu apa-apa tentang masa lalu. Masa di mana keemasan peradaban Islam itu menyapa dunia. Masa di mana banyak terlahir bijak bestari untuk berkarya bagi umat manusia, dalam membimbing umat menuju keimanan, dalam mengajak umat bekerja keras membangun peradaban. Dan semua itu kita sempitkan dalam berbagai persepsi yang tidak pernah kita perbaharui. Kita telah mencukupkan diri dengan definisi pertama, dan akhirnya kita lupa.

Siapa Ibnu Sina? Banyak yang bilang dia bapak kedokteran. Benarkah? Sejak kecil dia hafal al-Quran dan belajar fiqih kepada para ulama di negerinya. Kemudian dia juga menulis banyak kitab tentang filsafat. Dia juga mewariskan konsep pendidikan yang ideal untuk generasi muda. Dan dia pun melakukan eksperimentasi di dunia kedokteran lengkap dengan berbagai alat kesehatan dan kitab al-Qanun fii Thib atau dikenal dengan The Canon yang menjadi rujukan kedokteran oleh para mahasiswa Eropa hingga abad 18. Lalu siapakah dia? Maka kita yang pelupa pun bingung. Bukankah cukup kita jawab, dia adalah bijak bestari kita.

Hari ini kita telah terkotak-kotak dalam ruang ilmu yang seharusnya tidak harus dikotak-kotakkan. Kita sering beralasan tidak bisa baca al-Quran dengan baik atau tidak hafal surat-surat di Juz Amma gara-gara tidak kuliah di jurusan Islam. Kita juga sering beralasan untuk malu-malu menyatakan ke-Islam-an kita dihadapan banyak orang gara-gara mereka tidak ada yang shalat lantas kita juga minder untuk menunjukkan komitmen kita dalam berbuat demikian. Kita lupa siapa kita? Kita memang pelupa.

bersambung …

Kategori
Misi Perubahan

Seperti Muhammad al-Fatih

Sore ini aku mendapatkan kesempatan berbagi motivasi kepada adik-adik fakultas teknik tentang AAI. Apa itu AAI? AAI (Asistensi Agama Islam) adalah kegiatan pembinaan keagamaan di kampus yang dilakukan sepekan sekali bersama kakak-kakak senior yang disebut asisten AAI. Seperti halnya asisten dosen, asisten AAI berkewajiban menjadi fasilitator adik-adik agar mengenal Islam dengan baik dan diharapkan dapat ber-Islam dengan baik.

Bedanya, jika asistensi mata kuliah praktikum hanya berakhir setelah semua judul selesai, AAI ini meletakkan dasar agar nanti adik-adik itu memiliki semangat belajar tinggi terhadap agamanya. Sehingga meski secara formal mata kuliah agama Islam telah selesai diharapkan mereka dapat terus menjadi AAI-ers. Maka dari itu, motivasi mereka perlu untuk terus dibangkitkan.

Karena sifatnya motivasi, aku memilih menggunakan contoh nyata dari sejarah, yaitu Sultan Muhammad al-Fatih. Mengapa? Beliau pemuda yang keren. Usia 19 tahun sudah menjadi raja. Usia 21 tahun sudah memimpin penaklukan kota Konstantinopel (sekarang Istanbul). Hafal Quran sejak kecil. Polymat (menguasai berbagai macam bidang ilmu). Ahli strategi perang dengan ide gilanya menjadikan bukit Galatta sebagai tempat berlayarnya kapal (kapal kok berlayar di daratan).

Seperti biasa, kalau ngisi di acara-acara gini pasti penanyanya sepi. Tidak tahu kenapa, sudah paham, bingung, atau malu untuk bertanya. Entahlah, semoga apa yang kusampaikan sore ini tidak menyalahi apa yang aku sendiri lakukan sehingga ga kualat (omong ning ra nglakoni). Dan bisa menjadi investasi amal karena ketika orang lain berbuat kebaikan dengan ajakan kita maka pahala yang ia terima juga akan mengalir kepada kita.

Bagi yang menginginkan materinya silahkan di download di sini.

Kategori
Dakwah Islam

GO AAI 2012, Momentum Terbaik Meletakkan Landasan Idealisme Mahasiswa Muslim

Tadi pagi Allah mempertemukanku dengan kesempatan yang baik untuk berbagi kepada mahasiswa baru 2012. Sebagai duta Forum Cendikia Muslim UNS sekaligus ditunjuk untuk memoderatori sesi materi dalam Grand Opening Asistensi Agama Islam. Meskipun tempat dan suasananya tidak kondusif namun Alhamdulillah, teriakan dan semangat adik-adik maru mampu menggemparkan gedung ungu yang telah menjadi saksi orang-orang belajar berpuluh-puluh kali.

Sebuah kehormatan bagiku dapat membawakan sebuah acara yang disitu aku harus berhasil menjelaskan sebuah visi besar tentang pentingnya menjadi intelektual muslim yang setia terhadap agamanya dan senantiasa berupaya untuk kebaikan agamanya. Sebuah tantangan berat bagi para aktivis dakwah kampus untuk mengarahkan dan memobilisasi pemahaman ini agar menjadi satu frame di kalangan mahasiswa baru.

Acara pagi itu menghadirkan dua orang pembicara yang sangat inspiratif. Pertama adalah seorang mawapres yang juga sahabat seperjuanganku dalam berkecimpung di dunia karya dan tulisan. Yang kedua adalah master hipnoterapi yang juga seorang ustadz muda yang sudah banyak makan asam garam dalam dunia pembinaan SDM.

Aku berdecak kagum dengan paparan dan motivasi yang diberikan kawanku yang luar biasa itu. Ternyata banyak hal yang belum aku ketahui darinya selama ini. Banyak kiprah dan peran yang selama ini belum aku ketahui. Jadi malu deh, dan termotivasi untuk berbuat yang lebih banyak. Kemudian dilanjutkan oleh paparan ustad muda tadi. Meski aku lebih memandang bahwa muatannya lebih kayak kuliah psikologi, namun akhirnya ada kesimpulan juga terkait pentingnya AAI bagi adik-adik.

Inilah momentum terbaik untuk meletakkan landasan kepada adik-adik maru agar mau bangkit sejak dini untuk serius kuliah dan berpresatasi, tetapi tidak pernah lupa untuk ngaji dan menjadi aktivis di kampus. Aktivis dalam artian para pelaku organisasi formal maupun aktivis dalam artian para penyokong kebaikan karena figur keteladanan mereka sebagai seorang muslim. Dan kesimpulan yang paling keren adalah teriakan kami kepada adik-adik. TETAP AAI, TETAP NGAJI, DAN BERPRESTASI