Kategori
Pendidikan

Tentang Kamera, Membuatnya Selalu Dicari : Sebuah Tulisan Tentang Kredibilitas #4

Memetik Hikmah

Orang yang kredibel, siapa pun akan mencarinya. Karena dialah tempat yang paling aman dalam menyimpan, tempat paling nyaman dalam meminta pelayanan, tempat paling memuaskan dalam mewujudkan keinginan, dan tempat paling inspiratif bagi yang rindu pencerahan. Tentang kamera, Pak Kliwon kukatakan sebagai orang kredibel. Karena itulah orang-orang mencarinya meskipun harus di bersuka ria menuju pelosok kawasan pinggiran kota.

Di saat Indonesia mengalami krisis kepemimpinan seperti hari ini, mungkin kebanyakan pemimpin kita sudah tidak kredibel. Kemudian diiringi dengan keadaan rakyat yang juga semakin tidak kredibel karena cara pandangnya lebih mengedepankan keegoan mereka. Maka hal terbaik adalah perbaiki kredibilitas masing-masing, mulai dari cara yang paling sederhana yaitu membangun reputasi sebagai orang yang murah senyum dengan senyuman yang penuh ketulusan. Dengannya orang akan percaya bahwa kita adalah orang yang dapat dijadikan sahabat bagi yang lain. Selanjutnya, kita bangun reputasi yang lain sesuai dengan pilihan hidup kita. Kesungguhan untuk mewujudkannya adalah harga mati atas kredibilitas kita sebagai agent of change.

Pertanyaan yang mengunci tulisan tentang kredibilitas ini, apakah kredibilitas itu dibangun dari sebuah pencitraan? Jawabannya sangat jelas, Pak Kliwon tidak perlu membuat plakat di depan rumahnya, apalagi iklan mahal di televisi. Beliau hanya melakukan dan memberi bukti yang terbaik, dan secara manusiawi orang akan mengatakan itu pada yang lain. Dan kini beliau menjadi orang yang selalu dicari untuk dipercaya menjadi dokter atas kamera yang rusak. Jadi jika hari ini masih banyak pemimpin kita yang lebih gila dengan pencitraan, maka berhati-hatilah bahwa dia mungkin tidak akan mampu memberikan pelayanan sebaik apa yang dicitrakannya.

Kredibilitas terbentuk setahap demi setahap. Dari yang paling sederhana, dijaga dengan keistiqomahan dan akhirnya menjadi karakter. Jika menjadi ahli kamera yang kredibel saja dimulai sejak SMP, lantas bagaimana jika akan menjadi pemimpin? Tentu kita harus berlatih untuk mengelola, melindungi, dan menjamin kesejahteraan orang lain sejak hari ini dengan penuh komitmen, tanpa menunda lagi. Terlalu jauh jika kita harus mencapai derajat al-Amin, tetapi bisakah kita seperti Pak Kliwon? Wahai sahabatku para pemuda, siapkan diri kita menjadi calon-calon pemimpin kredibel untuk memberikan pelayanan terbaik kepada bangsa ini. Bukan dengan korupsi dan pengkhianatan. Karena negeri ini butuh pemimpin yang kredibel. Dan pemimpin-pemimpin itu adalah kita. Hidup mahasiswa!

(selesai)

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.

Kategori
Pendidikan

Tentang Kamera, Membuatnya Selalu Dicari : Sebuah Tulisan Tentang Kredibilitas #3

Mengukur Kredibilitas

Sekelumit kisah di atas telah mengantarkan kita pada pemahaman tentang pentingnya kredibilitas bagi seseorang dalam hidupnya. Berbicara tentang kredibilitas maka sebaiknya mengambil teladan dari orang yang paling kredibel sepanjang masa. Dialah Muhammad Rasulullah, sang al-Amiin, sang penerima gelar kepercayaan, yang tidak pernah disematkan bangsa Arab pada seorang pun sebelumnya dan tidak akan pernah ada orang  yang akan mendapat gelar itu setelahnya hingga akhir masa nanti.

Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Dan Rasulullah adalah manusia yang paling kredibel. Cukuplah tulisan Michael Heart yang menempatkannya pada urutan pertama manusia yang paling berpengaruh di dunia menjadi bukti bagaimana beliau adalah manusia yang super kredibel. Apa kaitannya pengaruh (influence) dengan kredibilitas? Kekuatan pengaruh yang beliau timbulkan teramat besar hingga menjadikan dunia ini berubah menjadi tatanan yang lebih baik. Siapa pun yang membaca kisah kerasulannya dengan benar, tentu akan setuju bahwa hanyalah seorang pemimpin yang memiliki kredibilitas sempurna dapat memberi efek hingga beribu tahun, padahal hanya dalam masa kepemimpinan 23 tahun saja. Tidak akan pernah ada cacat yang terungkap dari kehidupannya. Siapa pun yang mencari-cari ketidaksempurnaannya, justru akan terperosok pada jurang kekaguman yang luar biasa, kecuali mereka yang telah termakan kedengkian dan kebencian.

Jika dikaitkan dengan kebutuhan akan pemimpin hari ini, rasanya kita menjadi lebih mudah termakan bisikan iblis untuk berputus asa dan mengeluh. Bagaimana tidak, hari ini kita banyak ditipu oleh aktor yang memerankan pemimpin sehingga kita terperosok dalam jurang euforia kebangkitan yang sejatinya kosong. Kita sulit mengukur kredibilitas seseorang karena terlalu banyak tabir mata kita mulai dari iming-iming materi yang menggiurkan hingga intimidasi yang tak terperikan. Kita semakin sulit menemukan orang-orang yang bisa menjadi satria piningit untuk menegakkan kembali nilai-nilai kebenaran di tengah kerusakan peradaban umat manusia hari ini.

Mengukur kredibilitas manusia hari ini, barangkali dua hal sederhana berikut dapat kita lakukan. Pertama, kisah Pak Kliwon adalah sebuah bukti kecil bahwa masih ada di sekitar kita orang yang kredibel. Tentu kita berbicara dalam konteks keahliannya dalam melayani dan memberikan penyelesaian terbaik atas masalah yang dihadapi para pelanggannya. Mari kita cari dan temukan orang-orang yang seperti beliau dalam aspek yang lain. Kedua, apakah kita sudah termasuk orang yang kredibel? Jika kita merasa belum, boleh jadi sebenarnya kitalah yang menyulitkan diri memahami dan merasakan tentang kredibilitas karena ketidakkredibelan kita.

Bagaimana kabar kredibilitas para generasi muda hari ini? Jika kita masih mendapati aktivis-aktivis yang berapi-api melakukan orasi menuntut keadilan dan memperjuangkan hak-hak rakyat, namun perkuliahan dikampus berantakan bisakah dikatakan kredibel. Jika kita masih mendapati mahasiswa terbiasa memasukkan bungkus permen di laci meja atau menyelipkan dicelah-celah, bisakah mereka dipercaya untuk tidak menyontek saat ujian. Jika kita masih mendapati generasi muda asyik berkendara dengan pasangannya wira wiri saja di jalan di banyak waktunya, sementara orang tua mereka ada yang membanting tulang di sawah atau terkekang di pabrik untuk memenuhi tanggungjawabnya, yakinkah bahwa mereka dapat memikul tanggung jawab kepemimpinan selanjutnya. Mari kita ukur kredibilitas kita masing-masing dan selanjutnya mari berbagi dengan orang lain, saling bertanya untuk memperbaiki kredibilitas kita selagi masih bisa.

…. bersambung

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.

Kategori
Pendidikan

Tentang Kamera, Membuatnya Selalu Dicari : Sebuah Tulisan Tentang Kredibilitas #2

Ahli tak Harus Menampakkan Diri

Di kesempatan yang lain ketika aku mengambil kamera ada kisah lain yang tidak kalah inspiratif. Ketika itu beliau sedang tidak ada di rumah. Jadi pengambilan kamera dilayani oleh sang istri. Setelah cukup lama mencari kamera di rak reparasi akhirnya kudapati kameraku yang sekarang telah pulih seperti sedia kala. Yang menarik adalah percakapan-percakapan antara aku, bu Kliwon, dan seorang pemuda yang juga mengambil kameranya hari itu.

Pemuda yang mengaku sebagai salah satu karyawan di bengkel resmi sebuah perusahaan otomotif di kota Kebumen itu bercerita bahwa ia sudah berkeliling kota Jogja untuk mencari service kamera yang dapat mereparasi kameranya. Hasilnya nihil, karena kebanyakan mereka mengaku tidak mampu mereparasi atau mengusulkan ganti ini itu dengan biaya yang tentu jauh lebih tinggi. Dan ditangan beliau ternyata kamera yang katanya rusak LCD-nya itu dapat pulih seperti semula hanya dengan biaya service yang jauh lebih murah. Benar tidaknya paparan pemuda itu tidak penting, tetapi ungkapan kepuasan seorang terhadap layanan itu penting untuk diperhatikan.

Aku pun menyempatkan diri bercakap-cakap dengan istri Pak Kliwon setelah mendapati kameraku kembali. Rasa penasaranku terkait keahlian Pak Kliwon yang fantastis ini membuatku ingin bertanya macam-macam. Ketika kutanyakan sejak kapan beliau memulai usaha reparasi ini, sang istri menjawab sudah 23 tahun, lebih lama dari usiaku. Apakah beliau pernah mengikuti pelatihan resmi tentang kamera, jawabnya tidak karena beliau hanyalah lulusan SMK bidang kelistrikan. Namun beliau sudah terbiasa dengan perangkat elektronika sejak SMP ketika itu ada ekstrakurikuler dan beliau menekuni pada masalah bongkar pasang peralatan elektronika.

Kemudian kulayangkan pandanganku ke tembok, di sana terpampang foto-foto beliau bersama komunitas-komunitas fotografi dan sebuah sertifikat workshop yang beliau terima setahun yang lalu. Kesimpulanku hari itu, beliau adalah ahli kamera yang memang kenyang pengalaman dan besar dari sebuah usaha yang istiqomah. Namanya dikenal karena kredibilitas yang dibangunnya. Khalayak tahu bahwa beliau telah memberikan yang terbaik dalam mereparasi kamera para pelanggannya.

…. bersambung

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.

Kategori
Pendidikan

Tentang Kamera, Membuatnya Selalu Dicari : Sebuah Tulisan Tentang Kredibilitas #1

Adalah Pak Kliwon, seorang tukang service kamera yang rumahnya terletak di kawasan pinggiran kota Yogyakarta. Tepatnya di kawasan Pabrik Gula Madukismo yang sudah terkenal itu. Di sebuah bangunan yang sederhana namun asri, beliau tinggal bersama istri dan anaknya. Siapakah dia sehingga dalam tulisan ini beliau disebut pertama kali? Inilah kisah kecil dari sisi kehidupan beliau.

Permata yang Tersembunyi

Berawal dari sebuah perjalanan yang tak disengaja setelah mendapatkan SMS rekomendasi dari teman yang memiliki hobi fotografi tentang tempat service kamera yang bagus di Jogja, ternyata aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Ceritanya ketika lebaran kemarin, kamera ayah mengalami kerusakan pada bagian mekanik lensanya sehingga tidak dapat digunakan untuk mengambil gambar. Oleh mas Ahmad, demikian nama temanku, aku disarankan untuk membawa kamera itu ke rumah Pak Kliwon.

Dengan berbekal petunjuk yang simpel yaitu perempatan ringroad masuk ke arah madukismo, perempatan lagi kanan sampai padepokan Bagong, kemudian bertanya orang disekitar itu, maka ku coba untuk ke sana. Terkait kamera yang rusak itu, ayah sempat putus harapan melihat kamera yang bengkok arah mekanik lensanya sehingga tidak dapat keluar masuk dan menutup saat dimatikan powernya. Begitupun aku yang juga tidak terlalu mengerti tentang masalah kamera. Namun sepertinya lelucon “yah namanya juga usaha” tetap harus dipertahankan karena sebenarnya itu ungkapan yang penuh harapan untuk menepis keputusasaan.

Setelah berputar-putar dan mengalami beberapa kali tersesat, sampailah aku pada tempat yang dituju. Sebuah rumah yang sederhana dengan mobil tua yang terparkir di depannya. Sebuah pohon talok yang masih lebat berbuah dan pohon jambu yang baru berbunga menjadi penanda khas rumah beliau. Namun ada hal yang sangat tidak biasa dan itulah yang menjadi kesulitanku hingga aku tersesat berkali-kali. Tidak ada plakat di rumah beliau yang menyatakan bahwa Pak Kliwon adalah tukang service kamera, apalagi membuat papan penunjuk yang dipasang di gang masuk sebelum rumahnya. Namun tahukah bahwa rumahnya ini telah banyak dikunjungi orang-orang yang sedang pusing dengan masalah kameranya setelah berputar-putar di gerai resmi kota Jogja atau dipatok harga mahal oleh tukang service karena harus ganti ini itu. Maka kesan pertama yang kukatakan sesampainya di rumah itu, beliau bukan orang sembarangan.

Benarlah dugaanku, diruang kerjanya yang sangat unik, dan maaf tidak dapat saya ceritakan, beliau bekerja layaknya dokter yang mengobati pasiennya. Waktu kuserahkan kamera itu, beliau berkata, “ini gampang, dengan 75rb saja insya Allah besok sore dapat diambil”. Aku terheran bercampur gembira. Kamera yang membuat ayah sudah putus harapan ternyata masih dapat diperbaiki. Rasanya senang sekali.

…. bersambung

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.