Kategori
Pendidikan

Tentang Kamera, Membuatnya Selalu Dicari : Sebuah Tulisan Tentang Kredibilitas #2

Ahli tak Harus Menampakkan Diri

Di kesempatan yang lain ketika aku mengambil kamera ada kisah lain yang tidak kalah inspiratif. Ketika itu beliau sedang tidak ada di rumah. Jadi pengambilan kamera dilayani oleh sang istri. Setelah cukup lama mencari kamera di rak reparasi akhirnya kudapati kameraku yang sekarang telah pulih seperti sedia kala. Yang menarik adalah percakapan-percakapan antara aku, bu Kliwon, dan seorang pemuda yang juga mengambil kameranya hari itu.

Pemuda yang mengaku sebagai salah satu karyawan di bengkel resmi sebuah perusahaan otomotif di kota Kebumen itu bercerita bahwa ia sudah berkeliling kota Jogja untuk mencari service kamera yang dapat mereparasi kameranya. Hasilnya nihil, karena kebanyakan mereka mengaku tidak mampu mereparasi atau mengusulkan ganti ini itu dengan biaya yang tentu jauh lebih tinggi. Dan ditangan beliau ternyata kamera yang katanya rusak LCD-nya itu dapat pulih seperti semula hanya dengan biaya service yang jauh lebih murah. Benar tidaknya paparan pemuda itu tidak penting, tetapi ungkapan kepuasan seorang terhadap layanan itu penting untuk diperhatikan.

Aku pun menyempatkan diri bercakap-cakap dengan istri Pak Kliwon setelah mendapati kameraku kembali. Rasa penasaranku terkait keahlian Pak Kliwon yang fantastis ini membuatku ingin bertanya macam-macam. Ketika kutanyakan sejak kapan beliau memulai usaha reparasi ini, sang istri menjawab sudah 23 tahun, lebih lama dari usiaku. Apakah beliau pernah mengikuti pelatihan resmi tentang kamera, jawabnya tidak karena beliau hanyalah lulusan SMK bidang kelistrikan. Namun beliau sudah terbiasa dengan perangkat elektronika sejak SMP ketika itu ada ekstrakurikuler dan beliau menekuni pada masalah bongkar pasang peralatan elektronika.

Kemudian kulayangkan pandanganku ke tembok, di sana terpampang foto-foto beliau bersama komunitas-komunitas fotografi dan sebuah sertifikat workshop yang beliau terima setahun yang lalu. Kesimpulanku hari itu, beliau adalah ahli kamera yang memang kenyang pengalaman dan besar dari sebuah usaha yang istiqomah. Namanya dikenal karena kredibilitas yang dibangunnya. Khalayak tahu bahwa beliau telah memberikan yang terbaik dalam mereparasi kamera para pelanggannya.

…. bersambung

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.

Kategori
Misi Perubahan

Sebaiknya Kurangi Berkata “Mungkin”

Sering sekali aku mengikuti beberapa forum yang diisi oleh senior atau sejawat. Diskusi-diskusi yang terjadi seringkali menjadi hal yang berisi penawaran sesuatu yang terkesan meragukan. Mengapa? Seringkali aku mendapati perkataan “mungkin” dalam jumlah yang banyak. Terkadang argumen yang dibangun pun tidak lepas dari mungkin, bahkan hal yang sebenarnya sudah jelas pun masih diikuti dengan kata “mungkin”.

Ada apa dengan “mungkin”? Tiba-tiba aku tertarik untuk mengupas kata ini. Karena kebanyakan hari ini teman-teman yang terlibat dalam dunia keaktivisan dan keorganisasian menjadikan kata ”mungkin” secara dominan dalam beberapa komunikasi seperti klarifikasi dan negosiasi. Apa dampaknya?

Jika “mungkin” sering diucapkan dalam berbagai forum klarifikatif, misalnya sebagai pembicara atau diskusi panel, maka akan timbul kesan pada pengucapnya seperti spekulan atau orang yang tidak meyakinkan kapabilitas keilmuannya. Sehingga terkadang akan menurunkan kepercayaan orang yang berkomunikasi dengannya. Terlebih jika ini dalam forum kajian atau sebuah sesi berbagi. Maka solusinya adalah banyak membaca atau bawalah catatan kecil yang berisi referensi sumber-sumber penguat argumentasinya. Dengan demikian, penggunaan kata “mungkin” dapat ditekan dan memberi kesan lebih meyakinkan dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang punya kepentingan.

Selanjutnya, jika “mungkin” sering dipakai dalam kosakata negosiasi, maka boleh jadi semua rencana negosiasi baik dalam kerja sama terlebih mengajukan permohonan akan mengalami kegagalan. Sehingga kebiasaan itu akan menurunkan tingkat kepercayaan orang yang sering interaksi atau mempunyai kepentingan yang sama. Maka solusinya adalah perbanyak persiapan dan tampunglah berbagai masukan dari teman-teman.

Dan mengapa “mungkin” sering terucap? Boleh jadi kita belum melakukan atau mengetahui pengalaman bagaimana menjaga kepentingan yang sudah ada. Dengan banyaknya pengalaman dan akses informasi yang cukup, semoga produktivitas berkarya semakin meningkat. Mari tinggalkan kebiasaan untuk sering berkata mungkin ketika berkomunikasi dengan orang lain. Terlebih jika nanti sudah menjadi ustadz, jika kita berkata “mungkin” ini benar dan itu salah. Kalau ketemu taqlider, kita bakal jadi penanggung dosa-dosanya mereka saat mereka hanya mengangguk dan mengikut. Mau begitu?