Adalah Pak Kliwon, seorang tukang service kamera yang rumahnya terletak di kawasan pinggiran kota Yogyakarta. Tepatnya di kawasan Pabrik Gula Madukismo yang sudah terkenal itu. Di sebuah bangunan yang sederhana namun asri, beliau tinggal bersama istri dan anaknya. Siapakah dia sehingga dalam tulisan ini beliau disebut pertama kali? Inilah kisah kecil dari sisi kehidupan beliau.

Permata yang Tersembunyi

Berawal dari sebuah perjalanan yang tak disengaja setelah mendapatkan SMS rekomendasi dari teman yang memiliki hobi fotografi tentang tempat service kamera yang bagus di Jogja, ternyata aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Ceritanya ketika lebaran kemarin, kamera ayah mengalami kerusakan pada bagian mekanik lensanya sehingga tidak dapat digunakan untuk mengambil gambar. Oleh mas Ahmad, demikian nama temanku, aku disarankan untuk membawa kamera itu ke rumah Pak Kliwon.

Dengan berbekal petunjuk yang simpel yaitu perempatan ringroad masuk ke arah madukismo, perempatan lagi kanan sampai padepokan Bagong, kemudian bertanya orang disekitar itu, maka ku coba untuk ke sana. Terkait kamera yang rusak itu, ayah sempat putus harapan melihat kamera yang bengkok arah mekanik lensanya sehingga tidak dapat keluar masuk dan menutup saat dimatikan powernya. Begitupun aku yang juga tidak terlalu mengerti tentang masalah kamera. Namun sepertinya lelucon “yah namanya juga usaha” tetap harus dipertahankan karena sebenarnya itu ungkapan yang penuh harapan untuk menepis keputusasaan.

Setelah berputar-putar dan mengalami beberapa kali tersesat, sampailah aku pada tempat yang dituju. Sebuah rumah yang sederhana dengan mobil tua yang terparkir di depannya. Sebuah pohon talok yang masih lebat berbuah dan pohon jambu yang baru berbunga menjadi penanda khas rumah beliau. Namun ada hal yang sangat tidak biasa dan itulah yang menjadi kesulitanku hingga aku tersesat berkali-kali. Tidak ada plakat di rumah beliau yang menyatakan bahwa Pak Kliwon adalah tukang service kamera, apalagi membuat papan penunjuk yang dipasang di gang masuk sebelum rumahnya. Namun tahukah bahwa rumahnya ini telah banyak dikunjungi orang-orang yang sedang pusing dengan masalah kameranya setelah berputar-putar di gerai resmi kota Jogja atau dipatok harga mahal oleh tukang service karena harus ganti ini itu. Maka kesan pertama yang kukatakan sesampainya di rumah itu, beliau bukan orang sembarangan.

Benarlah dugaanku, diruang kerjanya yang sangat unik, dan maaf tidak dapat saya ceritakan, beliau bekerja layaknya dokter yang mengobati pasiennya. Waktu kuserahkan kamera itu, beliau berkata, “ini gampang, dengan 75rb saja insya Allah besok sore dapat diambil”. Aku terheran bercampur gembira. Kamera yang membuat ayah sudah putus harapan ternyata masih dapat diperbaiki. Rasanya senang sekali.

…. bersambung

#Diterbitkan dalam buku Belajar Merawat Indonesia 2 untuk Kepemimpinan Alternatif bersama beberapa aktivis Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.