Tulisan ini berawal dari kegelisahanku melihat kenyataan aktivitas mahasiswa di kampus yang kian lucu dan aneh. Dalam pengamatanku sejauh ini, kesenjangan pola pikir mahasiswa di kampus kian mencolok. Setidaknya mereka dapat aku klasifikasikan dalam beberapa golongan. Ini hanyalah sudut pandangku, boleh setuju, boleh nggak. Bebas kok.

Warna-Warni Mahasiwa Kita

Ada golongan mahasiswa yang memang berideologi kuat. Ada golongan mahasiswa pendukung mahasiswa yang berideologi kuat tapi kepemimpinannya tergantung pada bosnya (nek bosnya pergi, bubar). Ada golongan mahasiswa netral yang kadang cari amannya saja (terkadang memang karena prinsip pribadi, tapi lebih banyak yang dari pada ikut berlarut dalam masalah yang rumit). Ada golongan mahasiswa yang apatis dan sama sekali tidak peduli dengan urusan kemahasiswaan, apalagi masalah kampusnya, tahunya kuliah saja, datang, duduk, diam, dengar, dan kadang tidur, habis itu pulang dan ngegame atau ngedate saja.

Semua itu pilihan. Sah? Ya sah saja, wong namanya pilihan. Tapi kemudian efek dari perpecahan alami di kalangan mahasiswa itu berdampak pada kesenjangan pola pikirnya. Yang berideologi kuat, pembahasan mereka yang dominan ya benar-benar serius membahas kepemimpinan, tak jarang adu mulut bahkan sampai bermusuhan. Bagiku wajar kok berbeda, adu mulut bahkan debat sengit. Yang ga wajar itu lantas gara-gara beda visi, terus kecewa, salam aja dijawab pake muka setan, sms-nya lantas tidak menyapa lembut lagi. Itulah realita pertarungan orang-orang di level ideologis (bahkan ini masih mahasiswa loh, dan ternyata ada kok). Insya Allah potensi lahirnya Soekarno muda, Hatta muda, Natsir muda masih terbuka kok peluangnya.

Yang dilevel mahasiswa pendukung kaum ideologis tadi terkadang lebih tidak bermutu lagi. Pola pikir mahasiswa-mahasiswa di sini terkadang lebih dominan karena pengaruh orang-orang yang kuat ideologinya tadi. Dia mau-maunya berkata A, B, dan C seperti keinginan sang pemimpin. Aku tidak seluruhnya percaya bahwa mereka melakukannya karena paham, mereka hanya melakukan karena kepercayaan mereka yang tinggi pada pemimpinnya. Ini peluang yang besar bagi yang hobi dalam marketisasi ideologi. Itulah mengapa dakwah Rasulullah akhirnya berkembang pesat, karena beliau tahu siapa yang pertama kali harus disentuh dengan Islam. Jika konteksnya disempitkan pada parpol yang sedang cari massa untuk nyoblos, yang paham sistem ini akan sangat mudah membangun opini.

Nah, pertarungan di level mahasiswa pendukung kaum ideologis ini cenderung tidak bermutu. Sebenarnya pertarungannya akan baik sekiranya masing-masing belajar tentang etika perbedaan dan bagaimana saling beradu argumentasi secara intelek. Tapi lagi-lagi ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Seperti halnya pertarungan politik di negeri ini kebanyakan yang sering musuhan itu ya para pendukungnya saja. Kalo para elitnya paling banter ngrasani di belakang, ngumpat di belakang. Tapi kalau ketemu bareng, kebanyakan menjilat.

Lebih aneh lagi di kalangan mahasiswa yang netral. Yang bahaya itu, sebagian golongan ini cenderung sekuler. Kalau diajak berdiskusi yang sifatnya komprehensif menolak. Kalau diajak diskusi kepemimpinan jangan bawa-bawa agama. Diajak diskusi pendidikan, jangan bawa masalah kepemimpinan. Emang orang kuliah itu cuma makan ilmu yang dipelajari dari bukunya doang apa? Dan sebenarnya pilihan netral itu juga membingungkan.

Padahal orang yang beragama itu jelas bahwa dia harus selalu memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Dalam konteks Islam setiap detik itu hidup itu adalah ibadah. Adakah ibadah yang tidak mengandung unsur pilihan di dalamnya (bahasa kerennya netral). Ya jelas tidak lah, makan pasti biar bernilai ibadah kita mulai dengan doa dan milih menu yang halal-halal saja. Kalau masalah kepemimpinan? Bisakah kita bilang ga ikut-ikutan ah. Ha ha ha, pikirkan sendiri.

Namun demikian, ada beberapa nilai positif sebagian mahasiswa yang ada di golongan ini. Karena banyak juga kalangan profesional terlahir dari golongan ini. Dalam konteks kelembagaan orang-orang ini juga masih dibutuhkan agar organisasi stabil. Ketika beberapa kubu asyik berduel dengan ideologinya, orang-orang ini bisa menjadi penengah yang benar-benar memilih mana yang saat itu bermanfaat. Pragmatis memang, tapi terkadang perlu dari pada debat-debat ideologi kelamaan dan ga jalan-jalan programnya.

Yang golongan terakhir, ini mahasiswa yang apatis. Udah tidak jelas targetnya kecuali hanya kuliah, kerja, dapat duit, pacaran, nikah, beranak, pulang-pergi kerja, begitu terus sampai nanti tamat riwayatnya. Selama kuliah ya paling-paling hanya kongkoi-kongkoi saja. Temannya ngrokok ikut ngrokok. Temannya nongkrong ikut nongkrong. Temannya nonton ikut nonton. Udah seperti itu saja. Boro-boro mikir negara, sekedar peduli masalah jurusannya saja enggak. Apalagi tentang visi membangun masyarakatnya.

Sayangnya golongan ini pengikutnya mulai mengalami peningkatan drastis. Tanpa mereka kampanye sampai kenceng, pengikutnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Akibatnya visi besar kepemimpinan muda semakin jauh dari tujuannya, karena di tengah para kaum ideologis yang butuh didengarkan gagasannya, di tempat yang lain berkumpul banyak mahasiswa yang memilih ga mau tahu urusan yang begituan. Rempong lah jadinya.

bersambung ….

1 Comment

  1. Pingback: Empat Partai Abadi di Kampus Kita #1 | Be Better for Future

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.