99 CahayaMendengar kata Eropa disebut, kenanganku langsung kembali ke bulan Desember di tahun 2012. Saat dimana aku yang hanya pemuda desa ini bisa terbang bersama Etihad Airways menuju sebuah kota di Jerman, Dusseldorf. Menikmati kehidupan Eropa asli di sana. Berpetualang ke kota-kota, hingga ke Paris dan Amsterdam di luar Jerman. Namun aku menyesalkan satu hal ketika itu, tidak membeli dan membaca catatan perjalanan Hanum dan Rangga, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Akhirnya hari ini khatam juga buku yang mirip novel tetapi berisi kisah nyata itu. Buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, putri tokoh reformasi Indonesia, Amien Rais itu bersama suaminya, Rangga Almahendra rupanya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin berlibur ke Eropa. Kota Vienna Austria, Paris di Prancis, Granada dan Cordoba di Spanyol, serta Istanbul di Turki adalah kota yang dikunjungi oleh Hanum dan Rangga sekaligus dari keempat kota itulah dia mendapatkan kawan hebat yang memberikan penjelasan tentang jejak-jejak Islam yang masih bisa di kenal di benua Biru itu.

Tentu saja aku banyak menyetujui hal-hal yang ditulis oleh Hanum dan Rangga. Jika Sahabat pernah merasakan kehidupan yang cukup lama dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Eropa, kita akan merasakan suasana minoritas. Tidak pernah mendengar azan lagi berkumandang bersahutan seperti di negeri dan berbagai kenikmatan ber-Islam sebebas negeri ini. Dari rasa empati itulah kita akan tumbuh sikap terbaik untuk menjadi agen muslim yang mengedepankan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin.

Masyarakat Eropa bukanlah masyarakat yang sepenuhnya rusak dalam sistem. Gambarannya begini, mereka itu adalah masyarakat yang umumnya ramah, suka menolong dan tidak suka mengganggu urusan orang. Mereka sangat menghargai kebebasan berpendapat dan tidak segan-segan untuk menuntut saat kebebasannya terusik. Mereka terbiasa menaati peraturan baik diawasi ataupun tidak. Mereka juga terbiasa dengan sistem sosial dimana contoh di Jerman, seorang yang single gajinya dipotong 40 % untuk pajak dan uang solidaritas (saat ada pengangguran atau kondisi terburuk di industri), ketika sudah menikah dan punya anak porsi potongannya berkurang secara proporsional. Hanya, kebiasaan minum-minum dan bercinta layaknya hewan itulah yang membuat mereka rusak secara individu. Yang tidak begituan? Ya ada dan mungkin juga banyak jumlahnya.

Apa yang kurang? Mereka kurang mendapatkan cahaya iman. Bahkan kepercayaan lama mereka tak lagi menjadi jalan hidup. Jika di sini masjid sepi, sama di sana katedral sepi. Maka tak heran ketika sebagian mereka tersentuh dakwah Islam, mereka bisa ber-Islam dengan lebih antusias, bersemangat, dan lebih berkualitas dari kita yang menjadi muslim karena warisan orang tua. Maka ketika hidup di negeri yang seperti ini, kita bisa menampilkan diri kita benar-benar sebagai agen muslim yang baik.

Kisah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga bisa menjadi contoh bagaimana mereka berdua dan beberapa rekan muslim berusaha menjadi agen muslim yang baik. Tak terkecuali Hanum yang awalnya tidak berjilbab akhirnya kini mulai menutup kepalanya. Bukan karena dibiarkan ayahandanya, Amien Rais tetap tidak berjilbab, karena Hanum sendiri mengakui dalam buku yang ia tulis tentang ayahnya bahwa Amien Rais selalu mengingatkan Hanum, namun tidak memaksa apalagi mengintimidasi.

Seringkali kita memandang gebyah uyah atau menggeneralisasi tentang orang yang berpaham liberal atau sekuler. Dalam kesaksian yang ditulis oleh Pak Yusuf Maulana dalam buku “Tong Kosong Indonesia Bunyinya“, nyata bahwa para pemikir Islam liberal di negeri ini sejatinya juga bukan liberal tulen, mereka agen yang butuh biaya hidup namun memilih mengorbankan agamanya. Mereka realistis berbuat itu karena tawaran uang. Nah, apalagi yang tidak berkaitan dengan itu, hanya karena pernah tinggal di negara barat dan punya pendapat dengan gaya khas intelektual barat lantas langsung dicap liberal tanpa dikaji dulu dengan cermat.

Di Indonesia, kebiasaan membaca yang rendah, kebiasaan berdiskusi yang tidak fair membuat kita mudah menjadi picik. Ujung-ujungnya ktia mudah menghabisi orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan. Ah sudahlah, aku tidak berselera dengan orang-orang yang seperti itu. Kalaupun bermualah, mending urusan bisnis atau yang lain ketimbang diskusi, karena sejak awal sudah tidak terbiasa fair, memaksakan diri, dan tak jarang mengumpati di kemudian hari.

Jika Sahabat belum membaca buku tersebut, saya rekomendasikan untuk membaca. Minimal sebagai touring khayalan ke Eropa sebelum suatu saat bisa datang ke sana betulan. Tapi tentu saja, ada tempat yang lebih menarik bagi kita setiap muslim, dan itu pun menjadi mimpiku, yakni dua tanah haram, Makkah dan Madinah. Semoga dalam waktu dekat ini aku bisa mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.