Sujiwo TejoSatu lagi buku Ki Jiwo yang kubeli. Setelah ngakak-ngakak membaca LUPA ENDONESA, buku yang satu ini tak kalah ngakaknya. Sang Dalan Edan jebolan Matematika dan Teknik Sipil ITB ini memang khas dalam mengajak kita berpikir dengan cara yang unik atas permasalahan-permasalahan bangsa yang dirumitkan oleh esai. Sesekali bolehlah kita easy going untuk memandang persoalan tersebut dari perspektif lain. Dengan bonus CD original lagu-lagu jawa gubahannya sendiri yang hanya diiringi grand piano, nuansa saat membaca buku ini lebih nendang.

Republik #Jancukers ini lebih seperti kumpulan Twitter yang disatukan. Jika ia dipandang esai sangat susah dikatakan demikian. Bahasanya yang renyah dan mengocok perut lebih membuat kita tertawa lalu merenung, mungkin juga tersenyum kecut melihat khayalan Ki Jiwo yang keterlaluan, namun applicable ini.

Hal-hal sederhana mulai dari Jempol, Toilet, hingga permasalahan-permasalahan yang terkadang kita lupakan, dan tentu saja jarang sekali menjadi bahasan sidang para wakil rakyat di parlemen menjadi menarik didiskusikan di buku ini. Bukannya membesar-besarkan masalah, tetapi terkadang inilah akar masalah yang dilupakan sehingga masalah-masalah yang ruwet hari ini tak kunjung selesai.

Bagaimana pun, tak semua orang pasti setuju dengan buah perenungan Ki Jancuk tentang hal ini. Terlebih mungkin ada perbedaan ideologis yang membuat kita segera mengambil jarak seperti orang tiarap. Pada prinsipnya aku lebih menarik hal-hal yang sifatnya membantu pencerdasan pola pikir ketimbang gaya pluralism yang diusung beliau. Sebagai orang yang nyinyir dan skeptis terhadap tokoh yang membawa-bawa ajaran agama, ki Jiwo membuat bahan tertawaan untuk hal ini.

Tapi kita yang mungkin berbeda pandangan ini, tidak perlu marah, karena ini adalah koreksi bagi kita yang tidak dapat dipungkiri sebagian kecil kita mengalami sindrom kesombongan, serta kelalaian kolektif sehingga tak jarang kita tergelincir dalam jurang yang dalam sementara kita mengusung sebuah panji yang mulia. Jika telah jatuh, maka pembully-an atas kita memang jauh lebih dahsyat ketimbang mereka yang tidak. Jadi mari kita petik nasihat sekaligus sindiran tajam dari Dalang Edan ini untuk belajar introspeksi diri.

Kita diberi pilihan untuk menggonggong seperti anjing atau lekas bertindak seperti tim relawan bencana saat melihat hal menyakitkan terjadi. Negeri ini sedang kena musibah, Sahabat sepakat bukan? Tetapi kita bisa memandangnya sebagai ejekan sehingga kita membalas seperti anjing menggonggong atau kita memandangnya seperti bencana alam lantas kita bertindak secara efektif sebagai relawan. Mana yang Sahabat pilih? Terserah itu hak Sahabat dan saya tidak berhak memaksanya.

Atau jika tidak tahan, mari bermigrasi saja ke Republik #Jancukers, karena jangankan orang miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara negara, wong Jomblo saja akan dapat fasilitas part-timer. Di negeri khayal itu pula, Sahabat tidak perlu khawatir saat sakit atau istri melahirkan, karena mobil kepresidenan dan para pejabat akan mengalah demi mereka yang lebih membutuhkan. Benarkah? Oi bangun-bangun, sudah waktunya ke sekolah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.