Salah satu tulisan sejarah yang membahas tentang sejarah Islam yang menurutku bagus adalah tulisan Hugh Kennedy, seorang profesor di bidang Kajian Asia Afrika Universitas London, Inggris. Karyanya yang setebal 500-an halaman ini adalah tulisan sejarah yang sangat serius. Dari bukunya tampak bagaimana Kennedy sangat tertarik untuk mengulas “keajaiban“ penaklukan Islam yang membentang dari Andalusia hingga lembah sungai Indus dalam waktu hanya sekitar 150 tahun dan akhirnya terus berlanjut dalam periode berikutnya meskipun tidak secepat kurun pertama itu dan dampaknya bertahan hingga kini.

Bagi seorang yang sekuler seperti dia, sulit membayangkan bagaimana bisa Saracen (pasukan Arab) yang hanya berprofesi sebagai penggembala bisa melakukan ekspansi dengan wilayah kekuasaan gabungan antara Romawi dan Persia dalam waktu secepat itu, sementara dua kekaisaran itu membutuhkan waktu berabad-abad lamanya untuk membangun kekuasaan itu. Kesimpulan-kesimpulan rasionalnya yang tetap berupaya menjadikan keajaiban itu biasa, dalam beberapa kesempatan pun hangus dan dia akhirnya mengakui bahwa pasukan Islam adalah pasukan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Dia mencoba menyejajarkan kemampuan pasukan muslim dengan kemampuan para pasukan Alexander Agung ketika menguasai dunia.

Tulisan ilmiah sejarah ini menggunakan sumber referensi ratusan judul jumlahnya, baik sumber berbahasa Arab dari tulisan para sejarawan Islam, sejarawan Kristen, dan catatan-catatan para penulis sejarah modern sebelum dirinya. Selain itu, dirinya tidak tanggung-tanggung melakukan observasi dan rekonstruksi sejarah di situs-situs peninggalan yang masih tersisa. Menurutku, dalam kesimpulannya dia masih belum puas karena argumentasinya untuk merasionalkan kisah penaklukan yang “ajaib“ ini belum sempurna. Dia pun tetap bertekuk lutut bagaimana peristiwa penaklukan pertama pasca wafatnya Rasulullah itu adalah hal yang sangat menakjubkan dan membuktikan kehebatan para pasukan, terutama pemimpin dan para panglimanya.

Yang menarik dalam buku ini adalah salah satunya bab tentang “Suara Mereka yang Ditaklukkan“. Secara adil Kennedy memaparkan bahwa banyak pihak yang menentang penaklukan ini dan merasa sakit hati, yakni mereka klan penguasa yang dikalahkan dan para pemuka agama yang berpihak pada penguasa. Tetapi dirinya juga tidak kalah banyaknya menyebutkan bahwa penaklukan Islam ini adalah kebahagiaan bagi banyak penduduk di wilayah taklukan dan para pemuka agama yang cinta damai.

Mereka lebih suka membuat perjanjian damai dan membayar jizyah kepada pemerintah Islam daripada hidup lagi di bawah penindasan Romawi dan Persia yang oleh Ribi‘ bin Amir dikatakan sebagai bentuk penyembahan manusia kepada manusia. Maka di hadapan Rustam, sang panglima besar Persia dirinya sama sekali tidak ada ketakutan sedikitpun untuk mengatakan bahwa kehadiran pasukan muslim adalah untuk pembebasan bentuk penyembahan manusia kepada manusia menuju kesejajaran hidup dan hanya untuk menyembah Allah.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi Sahabat pecinta sejarah peradaban Islam. Tetapi sebelum membaca buku ini seharusnya Sahabat telah mengkhatamkan shirah nabawiyah, shirah khalifah rasyidah, dan para dinasti Islam yang berkuasa dalam catatan para sejarawan muslim. Karena buku ini adalah pembanding dan pelengkap wawasan di mana di buku ini tersaji lebih banyak detail tentang pemerintahan Islam yang seperti kita tahu, setelah khalifah rasyidah mungkin tak selalu ideal seperti potret negara Madinah di masa Rasulullah dan keempat khalifah terbaik umat Islam itu.

Namun, ketika semangat jihad dan kehormatan untuk membela agama Allah masih ada maka umat Islam diberi kemenangan. Islam menyebar ke penjuru dunia adalah keniscayaan. Maka Allah-lah yang akan memilih sendiri pasukan-pasukan terbaiknya. Maka dari itu jika saat ini umat Islam tercerai-berai, ini adalah saat untuk kita merenung dan menyadari bahwa kesalahan kita sendirilah sehingga kemenangan itu jauh dari pelupuk mata kita. Maka ketika kita menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya kelak semoga Allah memilih kita untuk menjadi barisan penakluk selanjutnya yang akan membangun kembali khilafah alaa minhajin nubuwwah.

Itu bukan isapan jempol, bukan juga omong kosong. Itu adalah nubuwat Rasulullah akan kemenangan kembali umat Islam di akhir zaman sebelum datangnya hari kiamat. Tidak mudah memang menjadi sosok muslim di zaman ini di mana terkadang sesama muslim masih sering saling menjatuhkan, kemudian kita hidup di bawah tekanan penguasa yang tidak berpihak kepada kaum muslimin serta penindasan ekonomi oleh kapitalisme. Tapi ketika kita memiliki kebanggaan akan sejarah yang agung itu, semoga Allah senantiasa memelihara kehormatan kita untuk tetap hidup sebagai seorang muslim yang kuat. Menjadi agen muslim yang baik di abad modern yang penuh fitnah dan keburukan ini.

Harapan itu masih ada. Tinggal kita beriman atau tidak tentang kemenangan yang dijanjikan itu. Jika sampai waktunya maka kemenangan itu akan terwujud. Maka PR setiap pribadi umat Islam adalah menyiapkan diri agar terpilih sebagai bagian dari sebab kemenangan itu, atau kelak akan tersingkir sebagai orang yang tidak mendapatkan apa-apa.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.