lupa-endonesa1Nah, salah satu hasil memborong buku bulan ini adalah aku ingin mengoleksi tulisan Ki Jancouk, Sujiwo Tejo. Buku yang nyentrik itu berisi kumpulan dari Esai Wayang Durangpo di Jawa Pos secara berseri. Sampul belakangnya bertuliskan demikian,

Tak malu korupsi? Tak malu berperilaku buruk? Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren?

Di buku ini, Sujiwo menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, atau tak memalukan tentang persoalan negeri ini. Juga cerita tentang orang-orang yang lupa akan bangsanya, Indonesia.

Dengaan bahasa yang terselubung dan melibatkan Ponokawan, Jiwo menyentil banyak pihak dengan sangat cerdas. Menohok, nyeleneh, tapi banyak benarnya. Pemikiran-pemikirannya akan membuat malu banyak pihak, terutama yang lupa bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Tentu testimoni menurutku sesuai untuk menggambarkan buku ini. Aku diajak berpikir tentang sesuatu hal yang terjadi di sekitar kita ini dengan sudut pandang yang berbeda. Menertawakan untuk mendapatkan pencerahan, bukan umpatan. Menelisik lebih jauh untuk mendapatkan solusi, bukan memaki.

Aku terpingkal-pingkal dengan parodi tentang politisi yang menghiasi layar kaca diilustrasikan ki Jiwo lebih lucu ketimbang para pelawak sehingga para pelawak kehilangan mata pencaharian mereka karena masyarakat lebih tertarik melihat komedi politik itu. Hal itu membuat Ponokawan menginisiasi demo yang melibatkan pengangguran tersadar akibat komedi politik itu. Ribuan masa yang memadati depan gedung DPR/MPR bukannya mengajukan tuntutan wakil rakyatnya untuk mundur jika hanya jadi komedi justru berujung foto-foto bersama. Alasannya sederhana, karena wajah para wakil rakyatnya saat aslinya masih lebih lucu ketimbang saat di televisi.

Ini mungkin keterlaluan, tetapi sentilan ini menurutku sehat untuk membuat kita berpikir lebih jernih tentang orang-orang yang menjadi representasi politik di negeri ini. Siapa yang sesungguhnya bodoh, siapa yang sesungguhnya tidak waras. Jika kita hanya saling menyalahkan apa gunanya, toh itu sama-sama perilaku bodoh yang lebih baik kita tertawakan bersama. Buku yang terbagi dalam 7 chapter dengan judul masing-masing chapternya 4-5 ini cukup untuk menggugah dan membongkar pola pikir kita yang sudah terlalu formal karena kelamanan sekolah.

Ini bukan buku induk, tetapi lebih sekedar buku penunjang untuk mengasah sisi pemahaman filosofis kita agar menjadi lebih luas perspektifnya. Tidak mudah emosi apalagi bertindak anarki. Karena tindakan anarki yang sangat menyebalkan dewasa ini bukan berasal dari tangan dan kaki, melainkan dari lidah dan dua bibir yang dikendalikan oleh pikiran dengki dan sombong. Yuk kalem, tertawa, tetapi tetap berpikir apa yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.