Membaca sejarah Islam adalah hal yang sangat menarik bagiku. Sebagai generasi Islam di masa kini, menghadirkan imajinasi kebesaran para pendahulu masa lalu adalah penting di tengah kondisi umat yang tercerai berai dan dikungkung suasana inferioritas. Tak jarang kita jumpai banyak kaum muslimini yang tidak lagi menemukan kebanggaan dengan Islam yang dipeluknya. Sementara itu di sisi lain, kita dihadapkan pada wajah ekstrim dari sebagian kecil pemeluk Islam yang cenderung dijadikan musuh-musuh peradaban ini untuk mendiskreditkan Islam.

Jika kita membaca shirah nabawiyah, shahabat dan daulah Islam dari dinasti Umayyah hingga Turki Usmaniyah melalui catatan sejarawan muslim kita dapati catatan-catatan kebanggaan dan kemuliaan para pemimpin Islam. Para penakluk yang telah membawa cahaya Islam dari Madinah ke seluruh penjuru dunia ini telah tertorehkan namanya di tinta emas para ulama dan penulis sezaman mereka itu. Namanya terus disebut dalam khutbah Jumat di tempat-tempat baru yang mereka taklukkan dan juga dalam lisan kita kaum muslimin dalam doa.

Namun itu akan menjadi cibiran di kalangan orang yang hari ini berada dalam kebimbangan. Mereka yang mungkin ber-Islam secara lahir namun masih menjumpai keengganan dalam dirinya. Atau mereka yang tidak ber-Islam namun memiliki kenangan dan catatan buruk tentang Islam, tentu kisah indah para penulis sejarah Islam akan menjadi olok-olokan. Tak jarang mereka membuat tuduhan yang keji kepada umat Islam sebagai bangsa barbar yang cenderung merusak peradaban dan mengakibatkan kehancuran. Lalu bagaimana seharusnya kita?

Penaklukan oleh kaum muslimnin sejak Rasulullah berkuasa di Madinah adalah sebuah keniscayaan. Misi utama kaum muslimin menaklukkan dunia adalah untuk menyebarkan Islam sehingga dalam catatan sejarah 150 tahun pertama penaklukannya. Mereka selalu mendahulukan seruan dan ajakan sebelum akhirnya menundukkan penguasanya bagi yang membangkang atau menghina. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian akar-akar peradaban Islam mengakar kuat di jiwa masyarakat di 150 awal penaklukan pertama yang terhampar dari Andalusia -Afrika Barat hingga lembah sungai Indus.

Mereka yang semula adalah para penutur bahasa non-Arab dan sama sekali bukan penganut agama monoteistik akhir zaman itu akhirnya saat ini masih menjadi golongan penganut yang kuat meskipun dalam catatan sejarah akhir ini kondisi umat Islam dalam keadaan tercerai berai. Ini kondisi yang tidak biasa, karena secara logika jika penaklukan itu adalah penindasan, dalam teori sejarah tentu akan melahirkan sebuah perlawanan dan kebencian yang besar. Maka tuduhan bahwa penaklukan kaum muslimin adalah penaklukan barbar adalah hal yang tidak masuk akal sementara Romawi, Persia, atau bahkan Mongol yang juga pernah mencatatkan pengaruh kekuasaannya yang luas tidak menyisakan pengaruhnya dalam ingatan dan kebudayaan masyarakat yang ditaklukkannya.

Bagaimana kita mengetahui hal ini? Jika membaca catatan sejarah para sejarawan Islam tentu kita lebih fokus untuk mendalami ibrah dan menebalkan keimanan bahwa Allah senantiasa memberikan pertolongannya bagi orang-orang yang berjihad untuk agamanya. Namun di sisi lain, kita juga patut untuk membaca catatan-catatan para sejarawan Barat. Meskipun mereka mungkin membenci Islam, namun catatan-catatan mereka tetaplah menjadi isyarat yang jujur bagaimana kekuasaan Islam itu memiliki nilai lebih dibandingkan yang lainnya sehingga keberadaannya adalah ancaman serius baik dalam aspek politik maupun kepentingan peradaban.

Menyimak beberapa catatan sejarawan Barat tentu hanya akan berfaidah bagi kita ketika kita telah memahami dasar-dasar sejarah Islam dengan benar. Bagaimana pun catatan-catatan sejarawan Barat adalah produk dari pemikiran sekuler mereka dalam memandang dunia Islam. Namun demikian, banyak kita jumpai karya-karya mereka yang jujur dalam memaparkan bagaimana kemuliaan Islam diusung oleh para pasukan yang menyebarkan agama ini, sehingga argumentasi rasional mereka untuk mematahkan atau setidaknya mendistorsi fakta sesungguhnya dalam penyebaran Islam tersebut sering menemui kegagalan. Mereka menemui kegagalan dan harus mengakui bagaimana bahwa pasukan muslim adalah para pejuang terhebat dalam catatan sejarah yang pernah ada.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.