Seringkali ketika mendengar perdebatan atau perbedaan yang sering terjadi di kalangan teman-teman aktivis lagi-lagi temanya hanya seputar label dan berbagai justifikasi label. Entahlah apa yang selama ini dipikirkan atau diajarkan para senior terhadap juniornya. Tidak semua sih, tetapi ada saja yang begini. Sehingga terkadang muncul generasi-generasi intelektual yang tidak mau belajar banyak hal tetapi mengedepankan tameng pribadi untuk selalu membenarkan perkataan para pemimpinnya dan berkata tidak terhadap siapa pun yang dibenci oleh pemimpinnya.

Hari ini, dunia kampus diuji dengan wawasan intelektualnya. Entah mengapa, kampus yang seharusnya memberi ruang dialog yang mapan untuk para kaum intelektual perlahan mulai diarahkan pada pembusukan idealisme oleh orang-orang yang tidak lagi suka dengan dakwah dan perbaikan umat. Mulai dari proses boikot dan berbagai cara yang tidak sehat demi sebuah persaingan yang tidak pernah jelas masalahnya namun selalu dicari-cari masalahnya.

Jika di kampus itu mengalami perbedaan warna, bukankah itu wajar. Kan naluriah dan sangat alami jika mahasiswa itu berinteraksi dengan banyak orang dan dia menemukan kecenderungannya. Jika di kampus ada segolongan kelompok yang dominan dan mampu berkiprah banyak, bukankah itu wajar sebagai hasil jerih payah mereka. Lalu mengapa setiap perbedaan warna itu justru dibesar-besarkan sebagai masalah yang seharusnya bukan masalah? Kedewasaan kaum intelektual kita diuji.

Sebuah pesan saja, mari luruskan niat wahai para aktivis kampus. Mungkin warna-warna kita berbeda, tapi bukankah ada tujuan besar yang harus diraih, yakni perbaikan umat. Memerangi kebodohan dan kemiskinan dan mengembalikan kehormatan kaum muslimin dan bangsa Indonesia. Mari kita mengambil bagian masing-masing tanpa harus saling tuding dan banting. Yang saat ini dominan, semoga tetap bisa menjaga keistiqomahan dalam menghadhonahi yang lain. Yang saat ini masih sering mencurigai, buat apa sih diterus-teruskan, bukankah sinergi itu lebih indah bagi kita. Karena energi kita yang luar biasa ini akan lebih berharga ketika kita gunakan untuk perbaikan dan perubahan.

Siapa kita? Kita hanyalah para pejuang yang yakin dengan janji Allah atas lisan rasulnya. Seperti halnya Khalid bin Walid, mari kita katakana, “Aku berjuang bukan karena Umar, tetapi karena Tuhannya Umar“.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.