Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #1

Alhamdulillah, revisi makalah ujian seminar fisika selesai sebelum dzuhur kemarin. Tadi malam menjadi spesial sekali karena aku berencana nonton bareng dengan adik-adik. Lingkaran inspiratif malam ini bentuknya tidak seperti biasanya. Ya sesekali cari suasana baru lah. Kita putuskan nonton bareng Red Cliff. Apa itu, film yang mensarikan novel Three Kingdoms (San Guo Yan Yi) yang sangat populer di China itu lho, yang ditulis Luo Guan Zhong!

Tidak tanggung-tanggung, kami menyewa LCD Projector dan menonton dua seri film itu sekaligus. Artinya malam itu kami menginvestasikan waktu 4 jam untuk sebuah film yang menurutku memang berkualitas. Bahkan sampai-sampai sekelas ustadz Salim A. Fillah juga membuat ulasan menarik tentang film tersebut pada bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Memang film yang dibuat John Woo ini berbeda sekali dengan film-film silat Mandarin seperti biasanya. Meskipun aku sudah melihat beberapa tahun lalu, tapi seolah inspirasi film ini forever banget.

Sosok Pemimpin yang Melahirkan Kesetiaan

Pada intinya film itu mengisahkan sebuah perjalanan seorang pemimpin besar yang berasal dari negeri Shu, Liu Bei. Berdarah ningrat dari dinasti Han, salah seorang paman jauh Kaisar Dinasti Han ketika itu, yang sebentar lagi berada di ambang keruntuhannya karena sosok Kaisar yang digambarkan dalam film itu bahkan sangat bloon. Ambisi sang perdana menteri kerajaan, Cao Cao membuat sang kaisar hanya pasrah dengan rencana penyerbuan ke selatan dalam rangka membuat kerajaan-kerajaan selatan memiliki ketundukan penuh kepada imperium Han.

Dalam film itu, diperlihatkan bagaimana perbedaan Cao Cao yang gampang main bunuh, apalagi jika Anda membaca novel itu lebih lengkap, nyata bagaimana parahnya Cao Cao yang memang tidak punya rasa percaya pada orang dan lebih suka mengakhiri mereka dengan membunuhnya. Cao Cao yang berhasil mendirikan negara Wei akhirnya berambisi untuk menguasai negeri Shu dan Wu yang berada di selatan. Dan itulah babak pertempuran yang kemudian diambil judul filmnya, Red Cliff (karang merah).

Sosok Liu Bei digambarkan sebagai sosok yang sangat adil dan lembut. Raja yang tidak malu-malu untuk turun membantu rakyat dan menganyam sandalnya sendiri dan untuk rakyatnya. Bahkan memasakkan dan menyiapkan bekal perjalanan untuk anak buahnya. Jiwa pengabdiannya untuk rakyatnya sangat kentara ketika digambarkan dirinya yang tidak terlalu peduli dengan kematian keluarganya ketika istananya di Xinye diserbu oleh pasukan Cao Cao. Sosok Liu Bei yang sangat baik itulah yang membuat para pengikutnya begitu setia. Salah satu panglimanya, Zhao Zi Long bahkan berjuang mati-matian mempertahankan serbuan Cao Cao di kota Xinye meskipun akhirnya hanya mampu membawa putranya yang paling kecil dan seluruh keluarga Liu Bei terbunuh dalam serbuan itu. Liu Bei tidak begitu terpukul, dia lebih fokus membawa rakyat Han selamat dari gempuran Cao Cao.

Selain Zi Long, Liu Bei memiliki dua panglima lain yang sangat keren, Jenderal Guan Yu dan Zhang Fei. Dalam film itu, sosok Guan Yu sangat seram ketika di pertempuran tetapi sangat sayang dan penyantun ketika berhadapan dengan anak kecil. Di pengungsian, dialah yang menjadi guru bagi anak-anak. Sedangkan Zhang Fei adalah panglima yang memiliki auman mengerikan untuk menggetarkan musuh. Tapi dia sangat ahli dalam kaligrafi. Sehinggga di waktu senggangnya digunakan untuk menulis kata-kata yang indah.

bersambung …..

Kategori
Misi Perubahan

Memulai Jalan Cinta

Setiap hal yang menjadi kebiasaan tentu saja pasti ada permulaannya. Bagaimana kita melihat kondisi pemuda sekarang yang carut marut tidak jelas dan penuh dengan kerusakan, tentu ada biang keladinya. Semuanya bikin kita mengelus dada dan beristighfar. Kenapa? Barangkali kita dulu juga begitu, menjadi bagian dan orang-orang yang tidak jelas itu. Jika teringat kita pasti akan kembali beristighfar dan berharap sekali pada Allah agar kita tidak kembali ke masa rusak itu.

Alhamdulillah, sekarang aku merasa bahwa diriku telah menemukan jalan yang sesuai untuk fitrahku. Itulah jalan yang senantiasa dipenuhi perjuangan dan ujian keikhlasan. Namun di dalamnya syarat hikmah dan berbagai kenikmatan. Kata ustadz Salim, ini adalah jalan cinta. Ya Jalan Cinta Para Pejuang. Kata rekanku penerima beasiswa aktivis DD, inilah jalan cinta para aktivis. Jalan yang katanya penuh dengan logika yang membingungkan. Tetapi amat indah kawan. Itulah jalan ku, jalan kita.

Berbagi Nikmat

Di antara yang  Allah wasiatkan kepada kita ketika merasakan nikmat-Nya maka ceritakanlah (ayat terakhir surat adh-dhuha). Dan jalan cinta ini adalah sebuah kenikmatan. Benar-benar kenikmatan. Namun memang sekilas terlihat mengerikan. Maka tidakkah kita ingin berbagi nikmat ini barang sedikit saja. Alangkah pelitnya kita, padahal jika kita bagi hingga ratusan bahkan jutaan orang sekalipun kenikmatan di jalan ini pun tak akan pernah berkurang. Bahkan justru akan semakin bertambah nikmatnya.

Jika kita sekarang sedang aktif di kampus, tak sudikah kita berbagi cerita cinta ini untuk adik-adik kita. Di asistensi, liqo atau di forum-forum diskusi yang bisa kita masuki. Mungkin kita memang berkeinginan untuk itu, tapi sudahkah kita menjadi penikmat setia jalan cinta ini. Hemmm, rasanya kita harus banyak-banyak bertanya dan memaksa diri kita menjawab pertanyaan kita. Sudahkah kita mencintai jalan yang kita lalui ini?

Maka adalah sangat naïf jika kita hanya menghabiskan waktu untuk banyak berdebat kusir atau beradu argumentasi untuk sebuah impian utopis tanpa ada sebuah gerak nyata yang membuat kita satu sama lain tersenyum menghargai pilihan hidup masing-masing. Apa yang penting untuk kita satukan? Persepsi kita dan kesamaan tujuan kita. Selanjutnya kita bisa berkontribusi sesuai dengan rel kita masing-masing. Dan inilah kenikmatan di jalan cinta itu. Inilah yang seharusnya kita bagi ke adik-adik kita. Mimpi dan mimpi. Adik-adik kita butuh mimpi itu dan ajakan untuk berlari, berlomba atau berpacu dalam arena kebaikan. Bukan sebuah beban yang tujuannya abstrak bahkan belum bisa mereka definisikan. Sudahkah kita berbagi nikmat tentang indahnya jalan cinta ini?

Mulai

Dan di antara pertanyaan yang paling sulit dijawab setelah kita sadar adalah bagaimana memulai? Jika ini kemudian berujung pada diskusi kosong lagi, pasti hasilnya hanya berputar dan ruwet seperti sejak sebelum menemukan kesadaran. Tetapi jika jawabannya adalah langkah belajar, mbolang ke yang lebih ngerti, trus praktek kecil-kecilan, dikokohkan dengan semangat dan istiqomah, maka kenikmatan itu akan segera menular kepada adik-adik kita. Tindakan nyata, kerja dan kebersamaan.

jalan-sakuraJujur, aku mengakui ini hal yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Tidak semua momentum berhasil ku pecahkan. Hingga tidak jarang aku hanya berada dalam pusaran yang tidak tentu arahnya. Bingung mau ngapain juga. Padahal seabrek tantangan yang akan semakin menambah nikmatnya jalan Cinta ini telah menanti di depan mata. Namun diri masih saja sibuk berkutat pada masalah yang seharusnya sudah kuselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa pun itu, ada ibrah yang dapat ku petik bahwa aku tidak boleh mengesampingkan hal yang paling remeh sekalipun. Mungkin sekedar memperhatikan itu jauh lebih penting dari pada banyak bercerita. Lebih baik segera melakukan dari pada sering membuat perencanaan meskipun perencanaan itu penting. Tetapi sebenarnya dibalik apa yang kita lakukan, akan semakin sempurna rencana kita ke depan. Yah, karena kita kan sedang menuju masa depan. Kita tidak tahu pastinya, tetapi kita bisa membuat impiannya. Kita ketuk pintu langit agar Allah berkenan mengijabah. Tetapi jika pun tidak, garis-Nya tentu lebih indah.

Dari sebuah nasihat dan keteladanan kecil, kita mulai jalan cinta. Biarlah adik-adik melihat dari apa pun tindakan kita, bukan mendengar dari mulut kita saja. Khususnya aku yang masih hobi bergumul dalam retorika. Akhiri semua itu, dan segera investasikan jalan cintamu untuk generasi selanjutnya.