Kategori
Refleksi

Pembuka di Hari Ulang Tahun Negara Kita

Aku kagum dengan China yang berhasil merekam semangat dari para pendahulunya dengan berbagai film legenda yang sarat nasihat. Di balik sejarahnya yang panjang, mereka sangat rapi dan berhasil mengemasnya kembali untuk menjaga kehidupan sang naga.

Hal yang tidak pernah diseriusi oleh Indonesia dalam menggarap film sejarah mereka yang sebenarnya tak kalah hebat sejak zaman Sriwijaya hingga perjuangan heroik mengusir para penjajah oleh para sultan di nusantara. Kalaupun ada drama serial penggarapannya terkesan kejar tayang, plotnya belum verified berdasarkan fakta sejarah (lah sejarahnya juga belum diklarifikasi dengan serius oleh para pakar sejarah negeri ini).

Kini babak “kemerdekaan” itu telah memasuki usia yang ke-68. Sebenarnya tidak ada kata merdeka dalam negeri kita. Karena itu hanya babak sejarah tentang kekuasaan yang terus berganti. Mau zaman Sriwijaya atau pun reformasi ya sama saja, perang perebutan kekuasaan tetap ada. Bedanya mereka bisa membuat karya dan mewariskan semangat juang yang hebat, tapi yang masa kini lebih banyak mewariskan luka.

Atau jangan-jangan ini potret bangsa kita hari ini. Karena bukankah pemimpin itu representasi mayoritas rakyatnya. ?#?introspeksidiri?

Sumber : My FB

Kategori
Resensi Film

Red Cliff, Inspirasi Kepemimpinan Adil dan Arti Kehormatan Sebuah Perang #1

Alhamdulillah, revisi makalah ujian seminar fisika selesai sebelum dzuhur kemarin. Tadi malam menjadi spesial sekali karena aku berencana nonton bareng dengan adik-adik. Lingkaran inspiratif malam ini bentuknya tidak seperti biasanya. Ya sesekali cari suasana baru lah. Kita putuskan nonton bareng Red Cliff. Apa itu, film yang mensarikan novel Three Kingdoms (San Guo Yan Yi) yang sangat populer di China itu lho, yang ditulis Luo Guan Zhong!

Tidak tanggung-tanggung, kami menyewa LCD Projector dan menonton dua seri film itu sekaligus. Artinya malam itu kami menginvestasikan waktu 4 jam untuk sebuah film yang menurutku memang berkualitas. Bahkan sampai-sampai sekelas ustadz Salim A. Fillah juga membuat ulasan menarik tentang film tersebut pada bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Memang film yang dibuat John Woo ini berbeda sekali dengan film-film silat Mandarin seperti biasanya. Meskipun aku sudah melihat beberapa tahun lalu, tapi seolah inspirasi film ini forever banget.

Sosok Pemimpin yang Melahirkan Kesetiaan

Pada intinya film itu mengisahkan sebuah perjalanan seorang pemimpin besar yang berasal dari negeri Shu, Liu Bei. Berdarah ningrat dari dinasti Han, salah seorang paman jauh Kaisar Dinasti Han ketika itu, yang sebentar lagi berada di ambang keruntuhannya karena sosok Kaisar yang digambarkan dalam film itu bahkan sangat bloon. Ambisi sang perdana menteri kerajaan, Cao Cao membuat sang kaisar hanya pasrah dengan rencana penyerbuan ke selatan dalam rangka membuat kerajaan-kerajaan selatan memiliki ketundukan penuh kepada imperium Han.

Dalam film itu, diperlihatkan bagaimana perbedaan Cao Cao yang gampang main bunuh, apalagi jika Anda membaca novel itu lebih lengkap, nyata bagaimana parahnya Cao Cao yang memang tidak punya rasa percaya pada orang dan lebih suka mengakhiri mereka dengan membunuhnya. Cao Cao yang berhasil mendirikan negara Wei akhirnya berambisi untuk menguasai negeri Shu dan Wu yang berada di selatan. Dan itulah babak pertempuran yang kemudian diambil judul filmnya, Red Cliff (karang merah).

Sosok Liu Bei digambarkan sebagai sosok yang sangat adil dan lembut. Raja yang tidak malu-malu untuk turun membantu rakyat dan menganyam sandalnya sendiri dan untuk rakyatnya. Bahkan memasakkan dan menyiapkan bekal perjalanan untuk anak buahnya. Jiwa pengabdiannya untuk rakyatnya sangat kentara ketika digambarkan dirinya yang tidak terlalu peduli dengan kematian keluarganya ketika istananya di Xinye diserbu oleh pasukan Cao Cao. Sosok Liu Bei yang sangat baik itulah yang membuat para pengikutnya begitu setia. Salah satu panglimanya, Zhao Zi Long bahkan berjuang mati-matian mempertahankan serbuan Cao Cao di kota Xinye meskipun akhirnya hanya mampu membawa putranya yang paling kecil dan seluruh keluarga Liu Bei terbunuh dalam serbuan itu. Liu Bei tidak begitu terpukul, dia lebih fokus membawa rakyat Han selamat dari gempuran Cao Cao.

Selain Zi Long, Liu Bei memiliki dua panglima lain yang sangat keren, Jenderal Guan Yu dan Zhang Fei. Dalam film itu, sosok Guan Yu sangat seram ketika di pertempuran tetapi sangat sayang dan penyantun ketika berhadapan dengan anak kecil. Di pengungsian, dialah yang menjadi guru bagi anak-anak. Sedangkan Zhang Fei adalah panglima yang memiliki auman mengerikan untuk menggetarkan musuh. Tapi dia sangat ahli dalam kaligrafi. Sehinggga di waktu senggangnya digunakan untuk menulis kata-kata yang indah.

bersambung …..