Kategori
Misi Perubahan

Jangan Jadi Pelupa #2

Maka pengingat hari ini adalah untuk membuat kita melawan lupa. Mari jangan jadi pelupa. Karena kita seorang muslim. Kita nikmati hidup kita menjadi seorang muslim dan menjadikan Quran sebagai jalan hidup kita. Kita runut pula perjalanan panjang para rasul untuk mendapatkan hikmah hidup dalam mengaplikasikan nilai-nilai Quran tersebut. Kita menjadi umat pertengahan yang tegas dengan keyakinan tauhid kita dan sangat berlemah lembut kepada sesama manusia. Kita kembalikan keindahan Islam yang selama ini cemang-cemong dengan wajah perang dalam persepsi masyarakat awam karena terlalu banyaknya umat Islam yang bodoh dan banyaknya kesalahan persepsi dari kalangan umat lain.

Mari melawan lupa Sahabatku. Mari jangan jadi pelupa. Ada banyak hal yang harus kita ketahui dan kita ingat. Mari ikut AAI agar kita senantiasa diingatkan sehingga kita tidak jadi pelupa. Dengan AAI kita coba eksplorasi diri (tentunya bagi yang jadi asisten, mulailah belajar psikologi agar komunikasi kita semakin baik dengan adik-adik kita). Kita tidak akan pernah jadi malaikat, kita tetap akan jadi manusia yang semoga tidak menjadi pelupa lagi. Mari jangan jadi pelupa.

SWOT itu Sweet

Sorenya aku dapat kesempatan untuk main ke ujung wetan alias Tawang Mangu. Seperti yang disebutkan di atas aku menggantikan seorang pembicara hebat di acara tersebut atas rekomendasi beliau untuk bercerita tentang SWOT. Hemm, aku belum pernah punya pengalaman tentang itu. Tetapi bismillah, ini tantangan berikutnya setelah pagi hari sukses terlewati.

Tentang SWOT pastinya referensi di internet terlalu banyak. Jadi tidak usah kubahas di sini, karena juga tidak jauh beda. Hanya saja yang menurutku penting adalah bahwa SWOT itu harus sweet, artinya dia adalah sebuah mekanisme yang mendukung langkah kita. Banyaknya pertimbangan yang dihasilkan membuat langkah kita semakin mantap dan cerdas, bukan malah kebanyakan pertimbangan jadi nihil aksi dan terus dikepung berbagai keraguan. SWOT dan aksi itu berjalan beriringan sehingga sweet sekali. SWOT itu terus menerus dilakukan, tidak hanya di awal, tetapi di pertengahan, bahkan di akhir setiap tahapan-tahapan yang kita lalui.

Sejak awal aku sudah menyampaikan, aku bukan orang yang mengerti banyak teori psikologi, maka izinkan aku bercerita sebagai seorang guru fisika yang terlalu banyak berpikir filosofis. Maka SWOT itu adalah bagian penting agar kita bisa membereskan urusan pribadi kita agar bisa menjadi insan yang baik lagi bermanfaat. Kemudian dari sekumpulan kita terciptalah gerakan kebaikan yang dapat memberi warna bagi kehidupan ini.

That’s all my inspiration today.

Kategori
Misi Perubahan

Jangan Jadi Pelupa #1

Hari ini ada dua jadwal konser nih (bukan konser beneran)! Pertama, aku diminta berbagi di kuliah perdana Asistensi Agama Islam (AAI) Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS. Yang kedua aku ditelpon dadakan untuk menggantikan salah satu pembicara hebat di training anak-anak Psikologi.

AAI itu Melawan Lupa

Acara pertama, TOR yang dikirim kepadaku lebih menekankan bagaimana AAI itu asyik. Hemm, ini TOR yang orientasinya gampang tapi servisnya lumayan menantang. Berbicara tentang kegiatan pembinaan agama Islam di kultur teman-teman yang konsen pada seni dan budaya tentu tak seperti bercerita di depan teman-teman FKIP.

Namun dengan izin Allah, aku menemukan kata kunci yang tepat untuk semua itu, yakni #Jangan Jadi Pelupa. Yah, kita hari ini sering mengalami amnesia, terutama amnesia sejarah. Jika tidak ingin dibilang amnesia, kita mungkin juga sedang mengalami penyakit pikun muda (Alzheimer) yang akut. Bukankah banyak di antara kita yang bilang kalau Nabi Muhammad itu rasul junjungan kita. Tapi kenalkah kita dengan beliau, siapa beliau, apa yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. Semua hanya terjawab dalam klaim bahwa dia nabi kita, cukup.

Sesederhana itu? Kita adalah pelupa. Sehingga kita tak pernah tahu apa-apa tentang masa lalu. Masa di mana keemasan peradaban Islam itu menyapa dunia. Masa di mana banyak terlahir bijak bestari untuk berkarya bagi umat manusia, dalam membimbing umat menuju keimanan, dalam mengajak umat bekerja keras membangun peradaban. Dan semua itu kita sempitkan dalam berbagai persepsi yang tidak pernah kita perbaharui. Kita telah mencukupkan diri dengan definisi pertama, dan akhirnya kita lupa.

Siapa Ibnu Sina? Banyak yang bilang dia bapak kedokteran. Benarkah? Sejak kecil dia hafal al-Quran dan belajar fiqih kepada para ulama di negerinya. Kemudian dia juga menulis banyak kitab tentang filsafat. Dia juga mewariskan konsep pendidikan yang ideal untuk generasi muda. Dan dia pun melakukan eksperimentasi di dunia kedokteran lengkap dengan berbagai alat kesehatan dan kitab al-Qanun fii Thib atau dikenal dengan The Canon yang menjadi rujukan kedokteran oleh para mahasiswa Eropa hingga abad 18. Lalu siapakah dia? Maka kita yang pelupa pun bingung. Bukankah cukup kita jawab, dia adalah bijak bestari kita.

Hari ini kita telah terkotak-kotak dalam ruang ilmu yang seharusnya tidak harus dikotak-kotakkan. Kita sering beralasan tidak bisa baca al-Quran dengan baik atau tidak hafal surat-surat di Juz Amma gara-gara tidak kuliah di jurusan Islam. Kita juga sering beralasan untuk malu-malu menyatakan ke-Islam-an kita dihadapan banyak orang gara-gara mereka tidak ada yang shalat lantas kita juga minder untuk menunjukkan komitmen kita dalam berbuat demikian. Kita lupa siapa kita? Kita memang pelupa.

bersambung …