Yang bisa dilakukan adalah berprestasilah di posisi yang kita tempati saat ini. Bangun kemandirian ekonomi agar kita dapat selalu berteriak lantang untuk mengatakan yang benar dengan sarana-sarana yang ada. Tidak waton njeplak, apalagi sok pamer kecerdasan di muka umum saat pembaca di kalangan masyarakat kita yang masih awam dengan Islam ini dan perlu dikenalkan dari landasan utamanya, yakni Tauhid. Bukan saja dari pendekatan dalil tetapi juga membangun kesadaran dalam hati untuk kembali kepada fitrahnya.

Terlalu banyak mengomentari orang lain sesungguhnya menunjukkan bentuk kelalaian kita pada diri sendiri. Jika memang ingin mengingatkan orang hari ini, maka email, PM, surat adalah sarana yang lebih indah untuk mengikat ukhuwah, bukan mempermalukan saudara kita dengan status terbuka di FB, Twitter dan segala sarana yang bisa dibaca oleh publik. Jika itu yang dibesar-besarkan, kesan yang muncul adalah umat Islam suka ribut dengan sesamanya. Apalagi jika banyak kepentingan yang menunggangi, dan lebih celaka lagi yang ditunggangi tidak merasa bahwa sedang jadi alat kepentingan itu. Keren bukan. Katanya itu konspirasi ya. Bodoh amat, yang jelas kita diajari untuk bekerja dengan tulus dan tidak nyindiri orang.

Jika tidak setuju dengan aktivitas orang lain yang itu menyangkut teknis, mengapa tidak selesai dengan menerima dan menghargai. Selama itu bukan hal yang mendasar menyangkut akidah kita, mengapa Anda memberi kesan lebih kejam terhadap kawan di muka umum ketimbang terhadap lawan. Bukankah pertemuan dan tegur sapa lebih menyelesaikan ketimbang serang-serangan di dunia maya. Anak kecil saja mereka masih mau bermain lagi usai bertengkar, lalu kita?

Mari pahami situasi hari ini, jangan hanya memperturutkan ego yang kadang bukan datang dari hati nurani kita. Setidaknya jika kita percaya perkataan orang, kita tidak boleh kan menjadikan alasan orang sebagai dasar tindakan kita. Jika bertindak itu karena pilihan mendasar dari hati nurani kita, bukan kata si A, B, C dan D. Maka, APA PUN YANG TERJADI, KAMI TETAP MENGAJI, MENYAPA, MEMBANGUN SINERGI, MENGABDI, dan MELAYANI.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.