Mari bertekad untuk tetap tegak berdiri di saat yang lain telah rapuh. Kami adalah pewaris sah ibu pertiwi ini. Kita semua umat Islam dan semua yang memang dahulu telah berjuang merebut kembali ibu pertiwi yang dijajah oleh kaum imperialis adalah pewaris sah yang berhak untuk memerintah negeri ini. Bukan pemimpin-pemimpin yang justru membiarkan kapitalis asing merebut sumber-sumber kehidupan masyarakat negeri ini.

Jika hari ini sebagian dari kita memilih jalur politik mengapa harus dikomentari. Jika sebagian yang lain memilih jalur birokrat, mengapa pula dipermasalahkan. Jika sebagian yang lain memilih jalur jadi pengusaha mengapa pula dicibir. Apa yang Anda sendiri lakukan sehingga gampang sekali mengomentari hingga menjustifikasi setiap orang yang berseberangan dengan Anda.

Jangan-jangan Anda memang pion yang dibentuk oleh banyak kepentingan untuk merontokkan saudara-saudara Anda sendiri demi kemakmuran dan kedamaian Anda sendiri. Memang Anda tidak pernah diusik karena aktivitas Anda sama sekali tidak mengusik kepentingan mereka yang ingin mencuri kekayaan negeri ini. Jika memang Anda tulus, seharusnya Anda datang dengan senyum dan menawarkan nasihat itu dengan lemah lembut. Bukan malah dengan membuat lapak yang setiap orang bisa membaca dan menginterpretasikan berdasarkan kadar akalnya. Apa niatnya, menasihati atau sekaligus memprovokasi. Kita bisa membedakan hal itu dengan jeli bukan.

Kami bukanlah golongan yang merasa paling benar. Tapi kami berusaha untuk membangun kebersamaan demi merebut kembali hak kita yang telah dirampas, ibu pertiwi. Tak ibakah saat saudara-saudara kita tidak bisa berhijab dengan baik di negeri yang mayoritas kaum muslimin. Tak inginkah kita ber-Islam dengan damai tanpa harus menimbulkan kesan berbau teror terhadap umat agama lain.

Umat Islam harus terus belajar tentang kemuliaan agamanya. Lalu berdialog dengan baik terhadap pemeluk lainnya. Membangun masyarakat madani seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah di madinah. Sebuah tatanan sosial ideal di mana orang-orang munafik pun tetap bisa hidup. Yahudi pun yang sejak awal mendengki Rasulullah tetap dapat hidup sampai mereka menunjukkan pengkhianatannya terhadap Madinah ketika dikepung oleh koalisi kabilah Arab. Jika mereka dihukum, jelas mereka melakukan makar disaat wilayahnya sedang dikepung oleh kabilah Arab di luar Madinah, padahal berdasarkan perjanjian damai yang dilakukan mereka wajib mempertahankan tanah air mereka. Lantas apa sebutan bagi orang-orang negeri kita dengan segala posisi mereka yang mendukung kebijakan penguasaan asing atas negeri kita dalam berbagai bidang? Maaf, aku ga berani sebut mereka seperti orang-orang Yahudi Madinah ketika itu.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.