Salah satu hal yang tidak dapat dilewatkan dalam kegiatan perkemahan ini adalah simulasi perang. Esensinya bukan terletak pada persiapan untuk melakukan revolusi atau menjadi pemberontak, jangan salah paham dulu. Karena kami sama sekali tidak didoktrin untuk menjadi oposisi pemerintah. Kami diajari untuk mengambil peluang partisipasi dalam edukasi masyarakat agar menjadi bagian dari masyarakat yang cerdas dan beragama dengan baik.

Simulasi perang ini mendidik kami bagaimana saling percaya satu sama lain, mampu bekerja sama dan berbagi peran serta mengambil keputusan yang tepat di saat-saat yang rumit. Dengan medan yang begitu keren, lokasi berhutan dan berbukit dengan semak-semak belukar tinggi tentu saja menguji nyali kami untuk berduel mempertahankan nyawa kami yang berbentuk slayer. Tidak ada senjata apalagi aksi pukul memukul. Kami hanya dibolehkan bergulat sampai berhasil merebut slayer, maka pertarungan segera berhenti karena salah satu dinyatakan mati.

Karena aku sebelumnya pernah melihat anime Shingeki No Kyojin, serta merta aku memutuskan menjadi bagian dari pasukan khusus yang bertugas bergerak menyerbu jantung pertahanan lawan. Dibandingkan pasukan pertahanan yang kekuatannya terletak pada jumlah dan kesigapan di tempat, kami belajar bagaimana waspada saat bergerak dengan segala peralatan yang minim. Kami hanya bergerak tanpa apa pun, tanpa lampu senter belantara medan yang gelap dan penuh bahaya itu. Tapi itulah pilihan yang harus diambil atau kami akan segera berakhir dikeroyok pasukan penjaga musuh yang telah siaga di pos mereka.

Persiapan perang tidak bicara tentang membantai, tetapi fokus pada apa yang menjadi tujuan. Inilah yang sejak awal Islam ajarkan kepada umatnya. Umat Islam tidak pernah diajari untuk memerangi musuh sehingga mereka yang memulai lebih awal. Tugas kita adalah menyampaikan ajaran Islam, jika itu diterima maka tidak pernah ada perang. Jika mereka tidak berkenan maka ada perjanjian damai diikuti pembayaran jizyah kepada negara yang diikuti dengan perlindungan dari pasukan Islam untuk mereka. Atau jika mereka menyatakan melawan atau melukai utusan kaum muslimin, barulah bendera perang dikibarkan.

Maka sejarah perang di masa Rasulullah dan empat khalifah setelahnya lebih banyak dihiasi kesantunan kaum muslimin yang memperlakukan tawanan perang dengan baik. Tidak ada cerita tentang pembantaian kecuali dua kali saja yang merupakan khilaf dari Khalid bin Walid, semoga Allah meridhainya di awal-awal dia masuk Islam dan masa-masa fitnah yang disulut oleh orang Yahudi yang pura-pura masuk Islam, Ibnu Saba‘.

Perang dalam Islam adalah saat dimana keimanan di pertaruhkan. Karena kaum muslimin tidak diminta menggunakan perhitungan matematika terhadap musuh. Kaum muslimin dididik untuk menyiapkan segala kemampuan yang dimiliki, lantas bersujud mengadu kepada Allah untuk memberikan keputusan terbaik-Nya. Maka tak heran jika perjalanan perang kita senantiasa diliputi kemenangan, karena perang adalah masa terdekat dan makbulnya untuk berdoa.

Sekali lagi, jika Anda mengatakan Islam adalah agama perang, maka saya simpulkan Anda adalah di antara dua orang berikut, orang yang tak paham sejarah Islam atau memang pembenci Islam. Jika Anda muslim tapi tidak menemukan kebanggaan pada Islam yang Anda peluk, maka hati-hatilah bahwa ada penyakit kemunafikan yang berbahaya dalam diri.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.