Ali dan Muawiyah pernah mengalami perselisihan meruncing. Tapi apakah mereka saling mencaci. Tidak. Yang saling mencaci adalah pendukung-pendukung mereka. Dan yang paling parah mencacinya adalah orang-orang Khawarij, yang berlepas diri dari mereka berdua lalu membuat gerakan sendiri. Bahkan Muawiyah menangis saat mendengarkan kabar terbunuhnya Ali oleh orang-orang Khawarij. Saling berselisih itu masalah kepentingan, maka solusinya ya didamaikan. Baik dengan cara win win solution, atau salah satu mengalah. Hasan bin Ali pun memberikan jawaban itu dengan mengalah dan mengakui kepemimpinan Muawiyah. Di kalangan orang-orang mulia, berselisih pendapat, pemikiran, dan sebagainya, tidak akan membuatnya merendahkan orang lain. Bahkan mendebat orang yang bejat sekalipun, kata-katanya tetap santun dan substansial. Lalu bagaimana dengan kita yang sebenarnya hanya mengalami masalah dengan prasangka akibat info-info yang belum diklarifikasi ke sumbernya. Alangkah ruginya kita larut dalam polarisasi kepentingan yang kita sendiri tidak melakukan klarifikasi tentangnya.
Jika kita berkomitmen pada sebuah keluarga, jamaah, atau komunitas, dan kita telah tahu bagaimana orang-orang yang di dalamnya, maka tidak larut dalam polarisasi ketika ada perselisihan di dalamnya adalah pilihan terbaik. Bukankah mereka sahabat-sahabat kita. Jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, bukankah upaya terbaik adalah menyadarkan dan mengingatkan. Jika itu menyangkut pelanggaran disiplin, maka biarlah yang berwenang memberikan keputusan, bukan ikut-ikutan menghakimi dengan pembicaraan yang ramai. Jika tidak sanggup melakukan semua itu, bukankah diam lebih mendamaikan ketimbang menyulut api fitnah.
Setiap kita, dilengkapi Allah dengan akal dan pikiran. Maka setiap diri kita pasti akan mengalami perbedaan. Perselisihan pendapat tidak berarti menimbulkan saling curiga apalagi kebencian. Terlebih jika kita pernah berikrar untuk cita-cita yang sama. Kukira inilah makna keindahan ukhuwah itu. Bahwa di setiap perbedaan itu tidak seharusnya melahirkan prasangka, kebencian dan perpecahan. Tetapi membuat kita untuk berkomunikasi dan saling mendoakan kebaikan agar Allah menjaga sahabat-sahabat kita. Karena sebenarnya kita hanya bisa bertemu dalam kondisi lahir masing-masing, berbagi senyum dan segala kebaikan lahir. Maka keikhlasan hati kita yang membuat kita bisa saling mempercayai satu sama lain. Jika demikian, bukankah yang bisa menjaga hati kita adalah Allah? Maka berdoa untuk kebaikan kita semua tentu lebih utama baik ketimbang mencari-cari celah orang lain untuk membuat isu bahwa dia seorang munafik ini dan itu.
Tulisan ini sebenarnya hanya refleksi atas kejadian-kejadian yang telah berlalu selama beberapa tahun terakhir ini hingga baru-baru ini. Baik dalam skala yang besar maupun yang kecil. Tulisan ini untuk mengenang diriku sendiri yang begitu lucu dalam menyikapi berbagai realita ini hingga akhirnya hari ini tersenyum sendiri melihat kebodohan diri. Oh, kawan, mari kita buat hidup selalu indah dengan senyuman. Mungkin kita perlu sedikit cuek jika itu membuat kita berhenti memikirkan keburukan orang lain ketimbang kita sok aktif tetapi akhirnya hanya menggunjing soal keburukan orang. Jika terpaksa “menggunjing”, mari kita gunjingkan setiap hal yang baik dari orang tersebut. Jika ada kawan kita yang punya pengalaman buruk atau aib dan merasa penting untuk diungkapkan, maka gunakan bahasa samaran atau dikiaskan agar dapat tetap menjaga harga dirinya.
Semoga Allah mengampuni yang menulis ini atas dosa-dosa yang masih kadang dilakukan di saat futur. Semakin membaikkan hari-hari untuk tidak larut dalam fitnah. Dan terus belajar untuk mendengar, mengerti, dan memahami keadaan orang lain.





