Kategori
Dakwah Islam

Ukhuwah itu Sesuatu Banget #2

Ali dan Muawiyah pernah mengalami perselisihan meruncing. Tapi apakah mereka saling mencaci. Tidak. Yang saling mencaci adalah pendukung-pendukung mereka. Dan yang paling parah mencacinya adalah orang-orang Khawarij, yang berlepas diri dari mereka berdua lalu membuat gerakan sendiri. Bahkan Muawiyah menangis saat mendengarkan kabar terbunuhnya Ali oleh orang-orang Khawarij. Saling berselisih itu masalah kepentingan, maka solusinya ya didamaikan. Baik dengan cara win win solution, atau salah satu mengalah. Hasan bin Ali pun memberikan jawaban itu dengan mengalah dan mengakui kepemimpinan Muawiyah. Di kalangan orang-orang mulia, berselisih pendapat, pemikiran, dan sebagainya, tidak akan membuatnya merendahkan orang lain. Bahkan mendebat orang yang bejat sekalipun, kata-katanya tetap santun dan substansial. Lalu bagaimana dengan kita yang sebenarnya hanya mengalami masalah dengan prasangka akibat info-info yang belum diklarifikasi ke sumbernya. Alangkah ruginya kita larut dalam polarisasi kepentingan yang kita sendiri tidak melakukan klarifikasi tentangnya.

Jika kita berkomitmen pada sebuah keluarga, jamaah, atau komunitas, dan kita telah tahu bagaimana orang-orang yang di dalamnya, maka tidak larut dalam polarisasi ketika ada perselisihan di dalamnya adalah pilihan terbaik. Bukankah mereka sahabat-sahabat kita. Jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, bukankah upaya terbaik adalah menyadarkan dan mengingatkan. Jika itu menyangkut pelanggaran disiplin, maka biarlah yang berwenang memberikan keputusan, bukan ikut-ikutan menghakimi dengan pembicaraan yang ramai. Jika tidak sanggup melakukan semua itu, bukankah diam lebih mendamaikan ketimbang menyulut api fitnah.

Setiap kita, dilengkapi Allah dengan akal dan pikiran. Maka setiap diri kita pasti akan mengalami perbedaan. Perselisihan pendapat tidak berarti menimbulkan saling curiga apalagi kebencian. Terlebih jika kita pernah berikrar untuk cita-cita yang sama. Kukira inilah makna keindahan ukhuwah itu. Bahwa di setiap perbedaan itu tidak seharusnya melahirkan prasangka, kebencian dan perpecahan. Tetapi membuat kita untuk berkomunikasi dan saling mendoakan kebaikan agar Allah menjaga sahabat-sahabat kita. Karena sebenarnya kita hanya bisa bertemu dalam kondisi lahir masing-masing, berbagi senyum dan segala kebaikan lahir. Maka keikhlasan hati kita yang membuat kita bisa saling mempercayai satu sama lain. Jika demikian, bukankah yang bisa menjaga hati kita adalah Allah? Maka berdoa untuk kebaikan kita semua tentu lebih utama baik ketimbang mencari-cari celah orang lain untuk membuat isu bahwa dia seorang munafik ini dan itu.

Tulisan ini sebenarnya hanya refleksi atas kejadian-kejadian yang telah berlalu selama beberapa tahun terakhir ini hingga baru-baru ini. Baik dalam skala yang besar maupun yang kecil. Tulisan ini untuk mengenang diriku sendiri yang begitu lucu dalam menyikapi berbagai realita ini hingga akhirnya hari ini tersenyum sendiri melihat kebodohan diri. Oh, kawan, mari kita buat hidup selalu indah dengan senyuman. Mungkin kita perlu sedikit cuek jika itu membuat kita berhenti memikirkan keburukan orang lain ketimbang kita sok aktif tetapi akhirnya hanya menggunjing soal keburukan orang. Jika terpaksa “menggunjing”, mari kita gunjingkan setiap hal yang baik dari orang tersebut. Jika ada kawan kita yang punya pengalaman buruk atau aib dan merasa penting untuk diungkapkan, maka gunakan bahasa samaran atau dikiaskan agar dapat tetap menjaga harga dirinya.

Semoga Allah mengampuni yang menulis ini atas dosa-dosa yang masih kadang dilakukan di saat futur. Semakin membaikkan hari-hari untuk tidak larut dalam fitnah. Dan terus belajar untuk mendengar, mengerti, dan memahami keadaan orang lain.

Kategori
Dakwah Islam

Ukhuwah itu Sesuatu Banget #1

Salah satu ujian orang-orang yang berorganisasi, bergabung di pergerakan, dan sejenisnya adalah menjaga rasa kepercayaan. Percaya pada teman itu adalah hal yang gampang-gampang susah. Terlebih ketika ilmu masih dangkal dan ketidakpahaman pada konteks, maka seringkali kita mulai curiga dan kehilangan rasa percaya, bahkan itu terhadap teman kita. Why? Saya sendiri juga pernah merasakan demikian.

Mengapa kaum muslimin saat ini masih tercerai berai dengan berbagai kondisinya seperti sekarang? Kalau aku boleh berpendapat, salah satu faktornya adalah krisis kepercayaan yang kita miliki kepada saudara-saudara kita yang lain. Apakah sesederhana itu? Tidak juga. Hanya saja itu menurutku sebagai salah satu faktor pembuka berbagai masalah yang lain. Karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.

Karena prasangka, terkadang kita lebih sibuk untuk memperbincangkan sisi keburukan saudara kita ketimbang mengambil inspirasi yang baik dari saudara-saudara kita. Bukankah setiap manusia itu pasti bisa berbuat salah, kecuali Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam? Lalu apa masalahnya bagi kita ketika dia berbuat salah. Kalau kita tidak sanggup mengingatkan, toh tidak perlu juga kan kita mencelanya habis-habisan. Kalau pun menceritakan keburukannya, bukankah lebih baik kita gunakan bahasa kiasan dan kita lakukan hanya untuk tujuan ibrah di waktu-waktu yang tepat, bukan menggunjing? Tapi sepertinya hobi melakukan kasak-kusuk sesama saudara kita ini masih menjadi kebiasaan. Pun yang menulis ini juga masih berjuang untuk mengikis sifat buruk yang asyik ini karena lingkungan yang mendukung. Bukankah ada sisi kebaikan orang itu untuk dieksplorasi dalam mengisi diskusi kita ketimbang mengobrolkan kekurangan orang yang tidak perlu.

Karena prasangka, bahkan terkadang kita menjadi lebih curiga terhadap teman sendiri yang sudah diamanahi tugas ketimbang pada pihak-pihak yang jelas di depan mata melakukan berbagai makar untuk memperburuk citra kita. Nafsu untuk selalu berprasangka buruk pada orang akan menumpulkan logika kita untuk berpikir analitis tentang setiap kejadian yang ada di sekeliling kita, karena semua energi kita hanya terfokus untuk mencurigai teman kita sendiri. Tak sia-siakah waktu kita hanya karena sebuah informasi yang tidak ditabayuni tapi segera menyebar efektif dalam ghibah yang dahsyat. Ditambah model komunikasi bangsa timur yang circular ini, kita tidak tertarik untuk klarifikasi ke sumbernya langsung. Bukankah lebih baik jika memang kita tidak tertarik untuk tabayyun, ya cuek dan doakan kebaikan untuk kita semua dan untuk orang yang dijadikan pembicaraan?

Karena prasangka, menjadi orang yang sulit berposisi di tengah lantaran kita mudah terpolarisasi pada keadaan. Dan sejak saat itulah kita tidak akan pernah mendengar informasi pembanding, karena memang kita telah menutup diri. Suatu ketika ada si A yang curhat ke kita tentang si B. Di kesempatan yang lain si B curhat ke kita tentang si A. Sementara publik terpolarisasi untuk mendukung si A dan si B. Padahal ditilik dari informasi yang disampaikan keduanya, masalahnya hanya satu, karena si A dan B tidak pernah bertemu untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Sedangkan si A dan B sebenarnya hanya dua sahabat yang sedang berselisih. Tapi kenapa si A punya pendukung, dan si B punya pendukung. Itu karena tabayyun kepada keduanya tidak dijalankan maksimal, makanya memilih berpihak ke salah satu. Dari itu pentingnya kita menjadi jembatan di tengah. Yang tidak banyak berprasangka macam-macam, dan lebih banyak mendengarkan. Setidaknya melegakan mereka yang sedang mengalami guncangan hati itu. Bukankah orang yang galau itu butuh didengarkan orang lain. Dengarkan, tenangkan, jika ada ide, damaikan.

bersambung ….