Setelah di bagian pertama dibahas tentang karakter bangsa kita dan kaitannya dengan musik. Kali ini kita akan membahas pertanyaan dari kebanyakan para peserta tentang musik Islami. Ketika pertanyaan ini dilontarkan, bang Noe justru membalikkan pertanyaan apakah ada musik Islami, atau musik Islami itu seperti apa? Beliau membuat pertanyaan lagi, apakah musik yang memakai rebana itu lantas dikatakan musik Islami, kemudian musik yang memakai gitar itu lantas tidak Islami?

Dengan satir beliau kemudian memaparkan kejadian orang yang sok tahu tentang masalah Islami. Suatu ketika orang itu disetelkan sebuah doa orang Lebanon yang beragama nasrani. Yah, bahasa Lebanon kan juga bahasa Arab. Orang tersebut ikut berkata amin-amin hingga selesai. Sampai di sini, beliau berkata, itulah masalah orang-orang yang hari ini sok ngerti masalah sesuatu yang Islami.  Yang ada adalah musik Arab dan non Arab. Ada-ada saja istilah musik Islami.

Sehingga istilah Islami itu dimanfaatkan oleh para pelaku pasar untuk mengeruk keuntungan bisnis. Luar biasa ya! Luar biasa bodohnya ya bangsa kita kalau seperti ini sampai ikut diamini. Nanti akhirnya ada makanan Islami, busana Islami, kafe Islami, tempat nongkrong Islami, lama-lama ada pacaran Islami. Semua bisa dikomersilkan, dan penikmatnya adalah generasi bangsa kita yang makin lama makin tidak jelas dan larut dalam kebodohan yang menjebak mereka dalam nuansa cerdas. Kalau bodoh tapi tahu bahwa kita bodoh itu masih mending, la kalau udah bodoh masih ngaku pinter apalagi gaul trus juga percaya aja ama pujian orang bahwa kita keren, hemm, bikin geleng-geleng kepala.

Kesimpulan tulisan ini adalah bahwa kita itu harus terbiasa belajar dari akar permasalahannya. Jangan hanya suka mengambil sisi formalitasnya saja. Ini juga penting untuk menjadi inspirasi bagi para aktivis dakwah yang hari ini sudah banyak dipasrahi amanah. Yang sudah diberi nikmat Allah menutup diri dengan sempurna (bagi yang akhwat) atau sudah tidak gampangan (bagi yang ikhwan), maksudnya gampang kena tegangan 220 V, hendaknya melakukan refleksi diri kembali agar apa yang telah dianugerahkan Allah hari ini bisa terus tertanam kuat, karena dasarnya dapat dan telah menjadi bagian dari hati. Bukan hanya karena terkondisikan lingkungan atau karena lagi rame-ramenya orang alim di kampus.

Sedikit sindiran kecil, jadi senior yang udah sering ngajarin adik-adiknya ngaji di kampus, sudahkan berusaha totalitas membenarnya bacaan tilawahnya? Atau jangan-jangan menjadi bagian yang tidak sengaja membangun image kepada adik-adik yang relatif “sungkan” bertanya, bahwa membaca al-Quran dengan “pas-pasan” itu sudah baik? Hemm, harus dipikir serius lho ini. Karena yang bahaya itu adik-adik diam dan apa yang kita contohkan adalah bentuk pembenaran dalam pikiran mereka. Beruntunglah kalo ada adik-adik yang nyeletuk, “mas bacaan yang baik itu kayak gitu ya mas?”. Setidaknya rasa kesambar petir itu bakal bikin kita ga bisa tidur semalaman, entah karena marah atau disadarkan.

Dan lagi-lagi kita itu sebenarnya tidak perlu mendikte mereka bahwa mereka harus seperti ini seperti itu, ajaklah mereka untuk melihat contohnya secara langsung, baik itu diri kita, atau orang lain yang menginspirasi. Maka berkaitan dengan bacaan Quran tadi, jika kita mampu memberi contoh membaca yang baik, insya Allah adik-adik akan termotivasi menjadi lebih baik. Demikian pula untuk hal yang lain. Karena hati itu hanya bisa disentuh oleh hati.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)

to be continued

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.