Kategori
Seni

Telaah Kritis Musik Sebagai Pembangun Moral Bangsa #1

Kesempatan kedua bertemu dengan Noe Letto di Taman Budaya Jawa Tengah, dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Divisi Kebudayaan Pemuda MTA. Kenapa aku ikut? Pertama gratis (ini jelas merupakan alasan terkuat seorang mahasiswa), kedua pembicaranya Noe, salah satu musisi yang intelek. Loh emang musisi yang lain ga intelek ya? Mungkin iya, menurutku sih karena kebanyakan lagu-lagu grub band muda hari ini ya cuma ramai-ramai saja tanpa ada karakter yang jelas.

Sempat molor mulainya, meskipun aku tidak terlalu terganggu dengan kemolorannya karena aku sudah terlalu asyik bersuka ria dengan lepi kesayanganku, my Inspiron. Diskusi pun dimulai dengan pemaparan Bang Prima dari ISI Surakarta. Dengan gayanya yang khas sebagai akademisi yang terinfeksi jiwa seni beliau mulai dengan pemaparan ilmiah, meskipun aku suka dengan pemaparan beliau yang sederhana dengan logat Jawanya yang cukup terlihat. Kalem santai dan tenang. Intinya beliau memberi kunci bahwa ada sebuah studi tentang sosiologi musik yang itu dapat menjadi jalan bagaimana kita dapat membangun moral suatu masyarakat dengan musik.

Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Bang Noe. Seperti ayahnya yang terkenal unik dalam mengisi materi, rupanya bakat itu menurun pada putranya yang keren ini meski berbeda karakternya. Beliau memulai dengan pertanyaan tentang nada dan gamelan pelog dan slendro. Ternyata banyak peserta yang mengerti tentang hal itu. Alamak, kata beliau hari ini kita bisa jadi terjajah. Terjajah dengan karakter musik asing dan kita lupa dengan karakter musik kita sendiri yang pentatonis. Kita menjadi penyuka musik diatonis yang sering dianggap keren, padahal sebenarnya kepunyaan kita sendiri tak kalah keren. Kata kunci yang beliau sampaikan kemudian adalah musik itu cermin budaya bangsa.

Lanjut beliau, musik adalah representasi diri. Jika hari ini banyak dari masyarakat yang suka dengan musik koplo dan berbagai hal yang tidak jelas, maka itu adalah karena representasi masyarakat kita yang sedang butuh kedamaian akibat kegalauan yang mereka alami sendiri. Maka bagi beliau musik itu cerminan jati diri suatu masyarakat itu sendiri. Maka tegas beliau, sebaiknya kita sungguh-sungguh mengenali siapa kita dan bagaimana akar budaya kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang terjajah dalam seni atau hanya menjadi mesin fotokopi amatiran yang terus menerus memfotokopi budaya asing tanpa ada rasa risih dan bersalah terhadap semakin ditinggalkannya akar budaya sendiri.

Di sisi lain banyak memenuhi layar kaca musisi-musisi baru yang minim karakter mulai dari grub band alay, girlband, boyband dan berbagai bentuk jiplakan tidak berkelas yang tidak hanya menimbulkan berisik permusikan Indonesia, tetapi merubah gaya hidup masyarakat, khususnya para pemuda menjadi semakin tidak karuan. Wajah pas-pasan dipermak layaknya gadis korea sehingga makin rusak dan mirip hantu di televisi. Masyarakat yang jadi audiens juga menikmati musik sekedar angin lalu yang suatu saat bisa berganti tergantung trendnya. Maka tidak berlebihan jika beliau mengatakan bahwa karakter pendengar musik di Indonesia adalah tidak berkarakter. Ketika aku mendengarkan statemen ini rasanya pingin jungkir balik ketawanya. Rasanya memang benar, karena bangsa kita kan memang minim karakter, bahkan mungkin tidak punya karakter. Padahal labelnya adalah bangsa muslim terbesar di dunia. Sebuah pekerjaan rumah besar bagi generasi pejuang untuk memperbaiki bangsa.

(Diskusi Dengan Bang Noe dan Bang Prima)

to be continued …..

Kategori
Sastra

Inspirasi dari Noe

Siapa sih yang ga kenal Noe Letto. Ha, dia adalah vokalis grup band Letto. Grup band yang begitu ku apresiasi karena kekhasan yang dimiliki. Syair-syairnya sastra banget, indah dan ga alay. Karena saking sastranya, siapa pun bisa menafsirkan lagu-lagu Letto sesuai dengan pembawaan dasar yang dimiliki. Misalnya Ruang Rindu atau Sebelum Cahaya, itu bukan syair cinta asmara doang kawan. Hemm, kalo mau memaknai dengan sudut pandang lain, pasti sangat bisa.

Nah, ada apa tiba-tiba aku cerita tentang dia. Karena Sabtu kemarin, 2 Juni 2012 dia nongol di acaranya adik-adik Himprobsi FKIP UNS. Dia ngisi workshop penulisan lirik lagu bercita rasa sastra di gedung F FKIP UNS. Hemm, meski acaranya terkesan sastra banget, ternyata mampu menarik minat orang-orang non sastra untuk datang, contohnya aku (ha ha ha, calon guru fisika yang kurang kerjaan).

Pada intinya dia menekankan bahwa ketika menulis lagu hendaknya kita memiliki sebuah makna yang kuat atas apa yang kita sampaikan. Rasakan nuansanya dan temukan nada-nada yang tepat di dalamnya. Ada berbagai cara untuk memulainya. Jika kita lebih kuat di musiknya, ciptakan dulu nada-nada yang akan menjadi dasar lagu kita, baru tuliskan syairnya berdasarkan perasaan atau inspirasi yang muncul saat membuatnya. Atau jika kita kuat di puisinya, buatlah liriknya dulu baru kemudian disusun lagunya dengan menyesuaikan rasa dari puisinya itu. Dan pada dasarnya, kualitas sebuah lagu itu tergantung dari kekuatan getaran yang terpancar dari sang pembuatnya.

Ada quote menarik ni dari Noe. Baginya tidak ada karya yang tidak baik, yang ada adalah karya yang TULUS atau karya yang PALSU. Karya yang tulus akan senantiasa meresap dalam dihati pembuatnya sendiri dan akan memancarkan getaran-getaran kepada yang di sekitarnya.

Yah, mas Noe, meski aku bukan pecinta music kelas berat. Tetapi inspirasimu hari ini luar biasa. Bagaimana kita belajar untuk berbagi dengan tulus, itu yang penting. Bukan mengejar pasar dan tanggapan semata. Hemm, Letto tetap konsisten dengan hal itu. Musik-musik kalian elegan dan tidak murahan. Semoga terus konsisten yach. Ha ha ha. Terima kasih mas Noe telah menyanyikan syairku dan terima kasih juga telah menghibur kami dengan suara indahmu. Aku senang, karena semua orang mendengarkan dengan penuh khidmat, tidak melambai-lambaikan tangan dan tergila-gila seperti di TV-TV itu. (yah, secara di ruang seminar). Tapi tetep keren dah. Thanks mas Noe. Gamsha habnida.