Kategori
Resensi Buku

Kata Siapa Ga Bisa? #3

cover-maf1453Mempersembahkan Kepemimpinan

Yang tidak kalah penting, kepemimpinan itu adalah proses yang tidak dapat diakselerasi seperti mengembangkan roti atau membuat kembang gula. Ia tumbuh secara masif melalui berbagai penempaan yang hebat sejak kecil. Jika ingin pemimpin itu menjelma di usia belia, maka tarbiyah kepemimpinan itu juga harus sudah dipersiapkan sejak kecil, bahkan jauh sebelum masa itu, yaitu masa membina rumah tangga. Rasulullah menjelma menjadi pemimpin paling efektif di dunia karena memang pengalaman hidup dan berbagai proses pembelajaran masif telah dihimpunkan Allah untuknya sehingga ketika wahyu turun beliau telah menjadi pribadi yang sangat siap untuk menanggung segala tugas yang super berat itu. Begitu pun dengan pemimpin-pemimpin hebat yang lain, mereka pasti tumbuh dengan karakter yang dia bina dan dia bentuk sejak kecil lewat bimbingan para guru terbaik yang pernah ada.

Dari sini perlukah sebuah pencitraan untuk seorang calon pemimpin? Karena berkembangnya media masa dan tumbuhnya model demokrasi sehingga istilah itu kemudian dimunculkan, bahkan dalam ini menjadi propaganda rutin dalam menyukseskan kepemimpinan. Sekali lagi pertanyaannya pentingkah ini semua? Melihat dari kredibilitas pemimpin-pemimpin besar yang telah lalu dan wafat itu maka secara pribadi aku tidak terlalu menganggap hal itu penting. Mengapa? Ketika memang pemimpin itu baik dan kredibel, maka sebesar apa pun fitnah yang dialamatkan kepada mereka masa sejarah pasti akan mengembalikan namanya, cepat atau lambat. Begitupun ketika ingin mencapai kemenangan maka mereka-mereka itulah sudah pasti dapat memimpin umat ini dengan baik.

Justru yang mengkhawatirkan hari ini adalah kebodohan kolektif dan kemaksiatan kolektif yang dimiliki oleh umat Islam dan bangsa Indonesia inilah yang membahayakan. Karena kebodohan yang terus ditumpuk-tumpuk dan tak kunjung diselesaikan ini yang semakin menyempurnakan penjajahan di negeri sendiri. Silahkan dibuktikan sendiri, asumsiku mengapa kita dapat dijajah selama hampir 3,5 abad lamanya adalah pertama kita sendiri merasa yakin bahwa masa itu penjajahan, padahal itu sebenarnya adalah masa perang, jadi kata penjajahan sendiri yang terus digaungkan oleh para guru sejarah di sekolah-sekolah itu adalah pembodohan. Yang kedua adalah Belanda kokoh berkuasa itu bukan karena tentaranya, tetapi karena para pengkhianat bangsa sendiri yang terus menyembah-nyembah mereka dan kini mungkin darah-darah mereka terwariskan di dada-dada para koruptor dan para pengusaha rakus sekarang.

Mari sebut saja perjuangan rakyat Aceh yang mengagumkan itu akhirnya harus kandas di tangan para pasukan Marsose, disamping juga karena akal bulus si Snouck Hurgronje. Siapa mereka? simak salah satu ulasan sejarah ini

Pasukan ini dibentuk pada tanggal 20 April 1890—digolongkan oleh beberapa kalangan sebagai pasukan komando modern. Menurut Paul van’t Veer, Marsose dibentuk atas prakarsa dari Teuku Muhamad Arif, seorang Jaksa Kepala di Kutaraja, Aceh. Pastinya Teuku Muhamad Arif adalah orang Indonesia yang pro Belanda setelah pendudukan Belanda di Aceh dimulai. Dia memberi nasehat kepada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal van Teijn juga Kepala Staf-nya J.B. van Heutsz, untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri yang memiliki mobilitas tinggi. Pasukan ini tentunya pasukan anti gerilya. Pembentukan pasukan ini tidaklah sulit, tahun 1889, Komando Tentara Belanda di Aceh sudah menyusun dua detasemen pengawalan mobil yang memiliki kemampuan antigerilya.

……..

Setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin seorang sersan Belanda yang dibantu seorang kopral pribumi. Setiap pasukan biasanya terdiri dari satu peleton yang terdiri dari 40 orang dan dipimpin seorang Letnan Belanda. Secara keseluruhan, korps Marsose terdiri dari 1.200 orang—dari berbagai bangsa. Pasukan ini, selain dipersenjatai karaben, juga dipersenjatai dengan senjata tradisional seperti klewang, rencong dan sebagainya.

Lebih lengkap silahkan simak di sini

Nah itulah, jiwa mengkhianati dan membeo adalah efek dari perilaku korup dan bodoh yang harus dienyahkan dari bangsa ini. Siapa lagi garda terdepan untuk menuntaskan masalah ini kalau bukan kaum intelektual. Masak iya sih orang-orang pedalaman bakal menjadi pengkhianat berikutnya. Maka mari selamatkan diri kita masing-masing. Mari kita persembahkan kepemimpinan yang terbaik untuk masa depan.

Mengingat Sejenak

Hari ini adalah 12 Rabiul Awal, hari yang mengingatkan kita pada kelahiran Rasulullah. Sang Fajar yang telah membawa kaum terbelakang pada zamannya bangkit bersinar memimpin dunia, menjadi ghazi Allah yang terus menebarkan kebaikan dan mengajarkan keluhuran budi. Dan hari ini lagi-lagi kita masih menghadapi ujian yang sebenarnya berasal dari masalah kita sendiri, yaitu membuktikan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin (rahmat untuk sekalian alam), bukan cap teroris seperti yang sering dituduhkan karena ulah orang-orang yang diindikasikan kepada Islam. Islam adalah jalan keselamatan, bukan jalan yang menghancurkan.

Semoga tulisan ini dapat membukakan pikiran pembaca yang masih berstigma buruk tentang Islam. Ini sebuah persembahan kecil dari seorang yang telah meyakini keindahan risalah ini. Semoga kita semakin lebih baik dan dewasa dalam memandang setiap perbedaan yang ada ini. Salam kedamaian. Salam keselamatan bagi yang senantiasa mengikuti petunjuk.

Kategori
Resensi Buku

Kata Siapa Ga Bisa? #2

cover-maf1453Memetik Inspirasi

Ibrah yang bisa kita petik adalah sehebat apa pun kita, maka menjaga keistiqomahan itu adalah keniscayaan. Kita bisa saja berkata tentang hal-hal besar, mimpi-mimpi besar, bahkan sebuah rencana besar. Tetapi mempertahankan keistiqomahan dalam visi itu, kemudian mengiringinya dalam proses belajar yang tak kenal lelah, hingga berfikir di luar batas nalar dan kebiasaan manusia untuk meraih sarana dan kemenangan yang dijanjikan itu sesungguhnya hal terpenting yang harus senantiasa dijaga. Mungkin itulah ujian yang harus kita lewati, khususnya bangsa Indonesia ini yang ingin melepaskan diri dari penjajahan dan berbagai kesengsaraan ini.

Butuh pemimpin yang jujur dan penuh integritas. Butuh keberanian pemimpin untuk tegas dan siap mati. Butuh kepedulian rakyat untuk belajar dan mengerti kemudian menjadi partner para pemimpinnya. Butuh sinergi dan ketaatan yang didasari oleh ketakwaan. Maka selagi korupsi dan kebencian masih berakar pada kepala orang-orang yang memerintah maupun yang diperintah maka mimpi Indonesia merdeka itu akan tetap menjadi imaginasi. Bagaimana pahlawan kita telah wafat hingga tokoh-tokoh terbaik yang dimiliki bangsa ini telah berjuang sedemikian keras, seharusnya menjadikan kita kembali bangkit untuk meneladani mereka.

Mungkin kita perlu merubah istilah dari generasi penerus menjadi generasi pemimpin berikutnya. Generasi penerus itu terkesan hanya menjadi pembebek yang tidak memiliki inisiatif. Padahal setiap masa itu masalahnya berbeda, dan setiap masa itu butuh ketajaman pikir untuk menyelesaikannya. Kata Ust. Muchtarom, jadilah kita mahasiswa yang peka zaman. Dakwah Islam itu tidak melulu dengan cara yang monoton, tetapi butuh keluwesan dan cara-cara yang paling sesuai untuk zamannya. Jadi kesimpulanku, kita harus jadi generasi pemimpin berikutnya, buklan generasi penerus.

Kategori
Resensi Buku

Kata Siapa Ga Bisa? #1

cover-maf1453Penaklukan Konstantinopel

Sebesar apa pun itu, selagi Al-Quran dan As-Sunnah tidak pernah menuliskan mustahil maka pasti bisa diwujudkan. Sebuah inspirasi besar dari penaklukan kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II (al-Fatih) adalah bukti bagaimana aksioma benteng Konstantinopel yang telah menjadi benteng terkuat selama satu milenium lebih itu akhirnya ditaklukkan dengan pertolongan Allah. Terakhir aku membaca tulisan indah karya ustadz Felix Y. Siaw di atas kereta waktu mau berangkat ke Jakarta, butuh 5 jam saja untuk menyelesaikan 310an halaman itu. Mengapa? Karena memang inspiratif banget kisahnya.

Sebenarnya jejah Mehmed II ini memang sejak lama sudah ku kenal. Dan aku sangat terinspirasi dari kepemimpinan beliau. Masih muda tetapi sangat luar biasa. Cara-cara yang beliau lakukan untuk mewujudkan mimpi dan bisyarah Rasulillah itu memang diluar kebiasaan pemimpin yang pernah ada. Memang demikianlah sejarah akan selalu menuliskan keberhasilan para pemimpin yang selalu inovatif, dan tentunya dekat dengan sang Maha Perkasa.

Aku mencoba menera sisi lain dari keberhasilan ini. Hasil didikan dua guru luar biasa, Syaikh Kurani dan Syaikh Syamsuddin telah menjadikan Mehmed muda yang nakal dan keras kepala menjadi pribadi kokok yang penuh keteguhan. Dan tentu saja kekokohan visi inilah yang menjadikan dia dipilih oleh Allah untuk membuktikan sabda Rasulullah sebagai pemimpin terbaik penakluk konstantinopel yang telah diucapkannya 8 abad sebelumnya. Di belakangnya ada pasukan terbaik pula yang selalu memegang teguh visi untuk bersama sang pemimpin.

Maka menjelmalah sebuah usaha keras itu menjadi sebuah karya sejarah. Siapa pun ketika tidak akan pernah menyangka seorang remaja usia 21 tahun memprakarsai sebuah meriam raksasa yang mengerikan sehingga mampu mengguncang benteng Konstantinopel yang tidak pernah tertembus hampir selama 1000 tahun. Siapa pula yang percaya bahwa pasukan beliau akhirnya mampu melayarkan kapal di darat dari Selat Bosphorus menuju Teluk Tanduk Emas hanya dalam semalam. Itulah ketika kekuatan visi yang kuat bertemu dengan energi yang tidak terbatas di alam semesta ini, kehendak Allah.