Sejak aku tahu bagaimana caranya informasi itu bisa dikonversi menjadi uang, aku tidak terlalu percaya lagi dengan berita-berita hari ini. Bukan masalah benar atau salahnya, tetapi untuk apa mengisi kepala dengan sampah informasi yang seperti itu. Cukup ambil, proses lagi, jadikan uang. Sebuah proses kerja yang efisien, murah meriah, dan mengasyikkan.

Kembali saja pada sumber informasi yang terpercaya dan tidak habis untuk direnungi, Kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan sejarah masa kejayaan kita yang telah terbukti memayungi dunia itu. Kejar itu, maka tenteramlah hati kita, terisilah waktu kita dari sekedar mengomentari barang-barang sampah dan segala bentuk realita pedih.

Sudahlah, aku ingat ada secercah harapan dari senyum polos sang bocah ketika pasukan pengintai memasuki gerbang kota dalam Singeki No Kyojin. Kira-kira seperti itulah ketika dahulu anak-anak kaum muslimin dididik dengan baik oleh orang tuanya untuk berjihad seperti para pasukan itu. Mereka menatap bangga para pejuangnya ketika melintasi jalan kota sepulang dari berjihad. Bukan malah kebanyakan tuntutan seperti hari ini.

Dan catatan perang yang jarang diungkap, termasuk oleh umat Islam sendiri bagaimana etika perang yang diajarkan Al-Quran begitu dahsyatnya. Aku lebih berpikir betapa tenangnya pasukan kaum muslimin dalam mengontrol diri mereka, menekan rasa takutnya ketika dimedan perang. Termasuk bahkan mengendalikan rasa marah mereka sehingga tidak membantai saat musuh telah menyerah. Maka tidak heran jika persaksian sahabat-sahabat dari kaum Quraisy yang awalnya kafir kemudian masuk Islam setelah perang Badar menyatakan betapa mengerikannya mereka menghadapi musuh yang awalnya 300 orang menjadi ribuan dan beterbangan di langit. Itulah buah dari ketenangan.

Tauhid itu mengajarkan setiap umat Islam untuk merdeka dari segala intervensi ideologi. Berjuang menjadi orang baik di tengah kondisi yang parah sekalipun. Karena para nabi diutus adalah bukti manusiawi bahwa manusia itu tetap bisa menjadi orang baik meskipun lingkungan rusak seluruhnya. Kita punya pilihan, dan yang ingin masuk syurga maka hanya diberi satu pilihan saja, bukan dipaksa. Jadi mau milih atau tidak, terserah pada diri kita.

Reposted from My Facebook

2 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.