Tadi pagi waktu sedang asyik membuat postingan. Tiba-tiba HP-q berdering. Segaralah kuangkat telpon itu. Ternyata ada suara laki-laki yang langsung menyapaku dengan nama Helmi. Yah, bukan dong. Aku Dika pak. Ternyata sepertinya orang yang telepon itu tidak dapat mendengar klarifikasiku. Akhirnya dihentikanlah perbicangan telepon itu. Karena penasaran aku SMS lagi klarifikasiku dan bertanya keperluannya apa. Maka ada balasan cukup mengejutkan. “ Saya Bp. AMIR FUAD, minta tolong mas bisa dikirimkan nomor Helmi Rian F, Fairuz Fajrianti, dan Amrih Mahanani”. Sempat ada feeling ada yang aneh. Terutama nama yang mengirimkan. Tiba-tiba aku teringat nama PD III ku Pak Amir Fuady. Segeralah kubalas SMS tadi dan meminta maaf karena lama membalasnya. Rasanya masalah sudah selesai.

Tiba-tiba Fairuz mengirim SMS tentang seorang yang bernama Bp. AMIR FUAD. Wah, feelingku langsung mengatakan berarti itu ada penipuan. Segeralah ku SMS-i teman-teman pengurus harian SIM agar memberitahukan staf2nya bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemberitahuan PKM dan karya ilmiah yang mengatasnamakan pejabat UNS adalah penipuan. Sekali lagi itu penipuan. Aku berharap jangan sampai ada adik-adikku di Studi Ilmiah Mahasiswa yang terpengaruh oleh SMS yang menggiurkan itu. Soalnya SMSnya sistematis mulai dari bertanya-tanya nomor hape staf sampai akhirnya menipu staf dengan berbagai tawaran yang menggiurkan.

Adanya peristiwa ini membuatku jadi teringat kasus penipuan berkedok PKM yang mengatasnamakan pejabat DIKTI dan beberapa kampus termasuk UNS yang telah  merugikan mahasiswa senilai total 20an juta rupiah. Beruntung pihak kemahasiswaan UNS segera merespon karena lebih dari 5 korban telah melaporkan kepada pihak kemahasiswaan. Ada yang sudah kebobolan ada yang masih dalam kebimbangan. Setidaknya hal itu segera diketahui khalayak dan pihak kepolisian pun segara melakukan penyelidikan.

Pada intinya, kasus di atas menjadi pelajaran berharga bagi kampus dan mahasiswanya sekaligus itu menjadi indikator kualitas mahasiswa hari ini. Kampus-kampus yang belum memiliki prosedur yang jelas dalam birokrasi dan masih sering main dibelakang akan diingatkan dengan adanya peristiwa ini. Mungkin saja ini adalah hasil kajian dilapangan oleh para pelaku, sehingga ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai upaya penipuan. Maka sebaiknya keterbukaan informasi dan optimalisasi pelayanan sistem online benar-benar direalisasikan sehingga berbagai kecurangan dan penipuan dapat dihindari.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Beberapa mahasiswa yang tertipu waktu kasus berkedok PKM mengaku seperti terkena sihir. Ketika aku mendengar cerita itu dari pihak mawa rasanya pengin tertawa geli. Yang aku ragukan, jangan-jangan mahasiswa juga mudah percaya lantaran tawaran yang dituliskan di SMS menggiurkan. Yah, udah tidak ngerti alur birokrasi maunya asal dapat uang saja. Memalukan sekali. Inikah hasil pendidikan tinggi di negeri ini. Apa bedanya mereka dengan siswa SD yang tergiur untuk berduel dengan temannya karena iming-iming bakso jika menang.

Yah, mahasiswa hari ini akan selalu dipertanyakan perjuangannya. Untuk yang tertipu tadi bisa termasuk kategori gagal berjuang mungkin. Yah, menguasai diri sendiri saja tidak bisa. Mendengar kabar uang dan fasilitas mewah saja hilang kesadaran akalnya. Apa lagi hendak menjadi komponen pembangunan bangsa yang hari ini harus berhadapan dengan orang-orang asing yang siap dengan berbagai produknya untuk menguasai mental dan pikiran anak bangsa. Produk elektronik, makanan, fashion, dan trend hari ini adalah sebuah cara terbaik bagi bangsa asing untuk menjajah bangsa ini lagi. Lebih halus dan suatu saat tinggal menekan detonator untuk benar-benar mengumumkan penjajahan yang sesungguhnya.

Adakah yang tergerak untuk menjadi seperti Teuku Umar yang cerdik? Atau jangan-jangan mahasiswa hari ini secara tidak sadar bertingkah seperti Patih Danureja IV. Apakah bedanya mahasiswa dengan siswa SD jika hari ini kita belum bisa membedakan status  apakah kita sedang berbuat UNTUK Indonesia, atau sedang berbuat DI Indonesia saja? Jawablah dengan bukti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.