Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan Si Kodak …. Kali ini aku akan mengungkap sisi lain dari beliau dari keterangan orang yang paling dekat dengan beliau sepanjang hidup. Siapa lagi kalau bukan istrinya.

Alhamdulillah, selesailah kamera “Kodak”-ku diservis oleh Pak Kliwon. Biaya servisnya pun relatif sangat murah. Untuk perbaikan mekanik lensa ternyata hanya butuh uang 75rb saja. Padahal sebelumnya, ayah sudah hopeless. Aku juga tidak begitu berharap melihat kondisi kamera yang sistem lensanya udah bergeser dan membengkok. Tapi Pak Kliwon sepertinya adalah anugerah yang Allah berikan kepada ku dan orang-orang Jogja yang sudah berputus asa tentang kameranya.

Bersamaan dengan itu, ada seorang pemuda yang bekerja di dealer juga sangat gembira dengan kameranya yang sembuh. Dia sudah berkeliling di service-service kamera Jogja dan rata-rata bilang tidak bisa, atau menawarkan diganti ini itu spare partnya sehingga otomatis biayanya mahal. Dan ternyata lewat sentuhan beliau, harapan yang hampir pupus itu bersemi kembali. Kata dia, hampir saja dia harus mengganti kamera itu, karena itu punya dealer tempat ia bekerja.

Setelah aku mendapatkan kameraku kembali, kusempatkan ngobrol cukup lama dengan istrinya. Kebetulan Pak Kliwonnya sedang tidak ada dirumah. Dalam obrolan santai itu aku mengerti mengapa Pak Kliwon jauh lebih ahli dari para tukang service di gerai yang resmi. Secara, pengalaman beliau sudah 23 tahun dalam menservice kamera (lebih tua pengalamannya dari pada umurku). Aku agak terkejut, berarti beliau sudah cukup berusia, kemungkinan sudah kepala empat dong. Padahal dari wajahnya waktu aku mau servis aku menebak usia beliau masih di kepala tiga. Ternyata dugaanku salah.

Dan uniknya lagi, pembicaraan ini merembet sampai pada masalah pendidikan. Ceritanya begini, berdasarkan pengalaman beliau waktu sekolah dahulu, sekolah-sekolah menengah pertama di erah 70-80an ternyata sudah mengalami proses penjuruan. Kalau SMP yang kejuruannya ekonomi ya SMEP, sehingga setelah lulus bisa ke SMEA. SMP yang kejuruannya teknik ya STMP, sehingga setelah lulus bisa berlanjut ke STM. Sedangkan kalau yang umum, ya SMP kemudian SMA. Dan ternyata kegemaran beliau berawal dari sini waktu dulu sekolah di STMP. Di sekolah-sekolah teknik ternyata ada ekstrakurikuler pengembangan keahlian khusus seperti kelistrikan, elektronika, mesin otomotif dll. Itu sudah dimulai sejak tingkat menengah pertama. Dan hasilnya adalah banyak orang-orang seperti Pak Kliwon tersebar tempat tinggal mereka masing-masing menjadi ahli yang menguasai berbagai keahlian meskipun mereka tidak tercatat sebagai ahli. Yang tidak mematok tarif tinggi, namun sangat mengutamakan pelayanan.

Mari kita bandingkan dengan sistem pendidikan hari ini. Contohnya aku sajalah. Ketika lulus SMP boleh dikatakan aku tidak jauh beda dengan anak SD yang masih terobsesi dengan nilai tinggi dan juara satu. Bahkan mungkin belum memiliki skill yang dibilang mapan sebagai nilai lebih lulusan SMP. Mungkin sedikit minat ke IT yang itupun telat dikembangkan. Mengapa? Ya karena SMP tempatku hanya menawarkan ekstrakurikuler terbatas yang tidak sesuai dengan passionku. Seandainya aku menekuni karawitan dan kerajinan batu alam mungkin hari ini aku tidak kuliah di pendidikan fisika. Itulah jalan hidup untuk menjadi ibrah di waktu hari ini. Itu sudah 9 tahun yang lalu.

Lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah Indonesia hari ini? Sepertinya tidak lebih baik dari pada masa-masaku masih SMP. Orientasi nilai dan lulus UN menjadi obsesi tertinggi sekolah dari pada mendidik siswa menjadi mandiri dan berkeahlian sehingga ketika SMA tinggal dipacu jiwa kewirausahaannya. Agaknya perlu pembenahan mendasar dalam pendidikan kita. Apakah itu sistemnya atau mungkin memang komponen-komponen yang berperan.

Hari ini aku melihat pendidikan sebagai komoditas. Transaksinya mahal dan sepertinya hanyalah sebuah sistem perjanjian antara 2 perwakilan pebisnis, yang pertama berbaju depdikbud dan yang satunya berbaju pengusaha. Pendidikan disiapkan untuk membentuk calon karyawan bukan wirausahawan. Begitukah pendidikan yang baik? Tidak jadi soal setelah lulus mau bekerja jadi karyawan atau wirausahawan, asal mental mereka bermental pemimpin. Tapi kenyataan hari ini banyak orang Indonesia bermental rendah sebagai bawahan. Sehingga mau jadi pemimpin sekalipun kegiatannya ya hanya seputar masalah curang, menipu, menjilat, korupsi dan sebagainya. Jadi masalahnya adalah pendidikan hari ini ternyata hanyalah madrasah calon-calon bawahan, maka tak heran negara kita semakin kacau.

Siapa yang berani mengubah paradigma ini? Acungan jempol kuberikan untuk para tokoh-tokoh baik yang terkenal maupun tersembunyi yang telah melakukan pembaruan pendidikan melalui lembaga-lembaga mereka untuk memprotes sekolah-sekolah negeri yang kini semakin arogan untuk mengeruk kekayaan negara atas nama pembangunan tunas bangsa. Tunas yang mana? Jika tunas itu adalah siswa, maka seharusnya sekolah negeri menjadi sekolah yang paling tidak pragmatis dalam mendidik para siswanya karena kesejahteraannya paling diperhatikan pemerintah. Jika ingin indonesia berubah, berubahlah segera wahai sekolah-sekolah negeri.

Kita tentunya rindu hadirnya generasi-generasi Indonesia yang mandiri dan kuat. Jika tidak dimulai dari diri kita, lantas siapa lagi.

4 Comments

  1. nurwindacitra

    meresahkan sekali nasib generasi sekarang yang berlomba2 mencari skor, tapi tidak punya skill. formalitas lebih dicari daripada aksi nyata. terbukti ketika pendaftaran sebuah organisasi atau updating data anggota rata2 tidak memiliki kemampuan khusus. menyedihkan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.