Kategori
Misi Perubahan

Serba-Serbi #2

Dalam perjalanan pulang sehabis membimbing siswa-siswa SMP al-Abidin dalam pelatihan olimpiade matematika aku berdiskusi banyak hal. Tiba-tiba muncul sebuah quote dari salah seorang dosen yang juga pernah mengajarku, “Dua orang pembohong di dunia ini yaitu, laki-laki dan statistik, jadi yang paling pembohong adalah lelaki yang pandai statistik”. Ketika kata ini terlontar, kami semua tertawa karena ini selorohan yang luar biasa konyo. Tapi aku mendapat inspirasi dari quote ini untuk menulis.

Tentang laki-laki, hemm, makhluk yang satu ini memang unik dan mengerikan. Sejarah mencatat bagaimana para laki-laki itu menjadi terkenal entah karena kemasyuran kebaikannya atau karena kediktatorannya. Intinya laki-laki namanya lebih sering muncul di panggung sejarah dari pada para perempuan. Dan konon katanya laki-laki juga lebih banyak berperan sebagai ahli fisika dari pada perempuan (lah hubungannya apa dengan tulisan ini yak). Intinya memanglah Allah memberikan kelebihan dalam berbagai hal kepada kaum laki-laki agar mampu menjadi pemimpin bagi perempuan dan sekaligus menjadi pemimpin bagi dunia. Maka dalam kepemimpinan Islam, laki-lakilah yang memiliki hak untuk memimpin. Itulah keadilan Allah agar para perempuan merasa aman dalam lindungan makhluknya yang telah diberi kelebihan dan tanggung jawab yang besar.

Lalu bagaimana ceritanya laki-laki menjadi pembohong yang mengerikan di dunia? Itu tabiat yang terkadang muncul di kalangan kaum laki-laki, terutama yang mereka mendewakan hawa nafsunya. Dalam pembicaraan konyol yang tidak ada dalilnya, konon dalam skala 10 untuk lelaki 9 buah adalah akalnya dan hanya satu perasaannya. Sedangkan untuk perempuan justru 9 perasaannya dan hanya satu akalnya. Maka yang sering terjadi adalah laki-laki yang suka menggombal banyak perempuan hingga kadang-kadang melekatlah stempel playboy pada mereka yang suka berbuat demikian. Jadi inilah potensi negatif berbahaya yang terkadang muncul di kalangan laki-laki. Jadi waspadalah wahai saudara-saudaraku. Terutama dalam menjalani hidup dan memanajemen rasa suka terhadap lawan jenis. Berbahaya kalo amunisi ini keluar.

Agar dapat keluar dari jerat dan pamor yang tidak jelas itu, kuncinya hanya satu. Kembalilah ke fitrah kita. Fitrah yang sudah ada prototipnya. Fitrah yang kita bisa menghadirkannya kembali ketika merasa hilang. Yuk kita kembali ke kisah-kisah indah laki-laki yang paling mulia agar kita bisa menjadi mulia sepertinya dan dipertemukan dengannya nanti. Yah, dialah Muhammad al-Amin sang lelaki yang paling bisa dipercaya. Jadi tesis pertama konyol dosen tersebut dapat dipatahkan, karena justru yang paling terpercaya di dunia ini adalah laki-laki.

Selanjutnya tentang statistik. Itu adalah alat yang terkadang digunakan oleh orang yang berkecerdasan lebih tinggi dari lingkungannya untuk memanipulasi informasi hingga menjadi alat untuk memobilisasi. Sesekali itu untuk menjadi alat untuk menyenangkan tuan dan membuat para puan tak gelisah. Yah, statistik terkadang sering menipu rakyat Indonesia yang memang rata-rata bodoh karena tidak mau belajar. Pertumbuhan ekonomi dan berbagai data yang telah diolah memang memberi kesan bahwa kita telah baik. Ya mungkin benar, tapi siapa yang akan mengkonsumsi itu. Tentu para investor asing atau para kapitalis yang mencoba untuk mengambil peruntungan dari kondisi ini.

Bagaimana dengan rakyat? Yah, mereka tetap saja seperti itu. Tetap tertindas, tetap miskin dan tetap bodoh. Kesenjangan sosial hari ini makin mengerikan. Bahkan para guru yang dulu ku anggap menjadi jembatan terbaik dan pasak penjaga kestabilan masyarakat karena kedudukannya dihormati meskipun kategorinya hidup pas-pasan kini justru ikut merangkak menuju kelas menengah ke atas. Guru ikut-ikutan belagu seperti pengusaha, kecuali mereka yang memang berjiwa guru forever. Gaya hidupnya hari ini semakin sulit dipercaya sebagai guru yang notabene digugu lan ditiru.

Di luar sana, kita dapat melihat bagaimana statistik ekonomi Indonesia yang sangat baik itu harus diburamkan dengan angka negatif realita sosial yang tak kunjung bergerak naik. Sama saja mau statistik ekonomi bagus atau turun. Hari ini masyarakat butuh sentuhan kerja nyata dari pemerintah dan semua yang sudah mengerti tentang statistik. Bukan untuk ditipu ataupun dimanipulasi. Mereka juga manusia yang meskipun tidak harus mengerti statistik, tetapi mereka sebaiknya berkontribusi memberi nilai baik dalam hitungan statistik ekonomi Indonesia. Yang lebih penting lagi untuk dipahami para pembaca, yang menulis tentang statistik ini bukan orang yang mengerti statistik, jadi jika tidak relevan dengan acuan maupun teori yang berlaku silahkan diluruskan.

Jadi sebaiknya gimana? Tetaplah jadi laki-laki yang jujur namun pandai satistik. Maka itulah antitesis untuk quote pak dosen yang pernah berkata seperti sebelumnya.

Kategori
Misi Perubahan

Tes Kecil : Membedakan Mahasiswa dengan Siswa SD

Tadi pagi waktu sedang asyik membuat postingan. Tiba-tiba HP-q berdering. Segaralah kuangkat telpon itu. Ternyata ada suara laki-laki yang langsung menyapaku dengan nama Helmi. Yah, bukan dong. Aku Dika pak. Ternyata sepertinya orang yang telepon itu tidak dapat mendengar klarifikasiku. Akhirnya dihentikanlah perbicangan telepon itu. Karena penasaran aku SMS lagi klarifikasiku dan bertanya keperluannya apa. Maka ada balasan cukup mengejutkan. “ Saya Bp. AMIR FUAD, minta tolong mas bisa dikirimkan nomor Helmi Rian F, Fairuz Fajrianti, dan Amrih Mahanani”. Sempat ada feeling ada yang aneh. Terutama nama yang mengirimkan. Tiba-tiba aku teringat nama PD III ku Pak Amir Fuady. Segeralah kubalas SMS tadi dan meminta maaf karena lama membalasnya. Rasanya masalah sudah selesai.

Tiba-tiba Fairuz mengirim SMS tentang seorang yang bernama Bp. AMIR FUAD. Wah, feelingku langsung mengatakan berarti itu ada penipuan. Segeralah ku SMS-i teman-teman pengurus harian SIM agar memberitahukan staf2nya bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemberitahuan PKM dan karya ilmiah yang mengatasnamakan pejabat UNS adalah penipuan. Sekali lagi itu penipuan. Aku berharap jangan sampai ada adik-adikku di Studi Ilmiah Mahasiswa yang terpengaruh oleh SMS yang menggiurkan itu. Soalnya SMSnya sistematis mulai dari bertanya-tanya nomor hape staf sampai akhirnya menipu staf dengan berbagai tawaran yang menggiurkan.

Adanya peristiwa ini membuatku jadi teringat kasus penipuan berkedok PKM yang mengatasnamakan pejabat DIKTI dan beberapa kampus termasuk UNS yang telah  merugikan mahasiswa senilai total 20an juta rupiah. Beruntung pihak kemahasiswaan UNS segera merespon karena lebih dari 5 korban telah melaporkan kepada pihak kemahasiswaan. Ada yang sudah kebobolan ada yang masih dalam kebimbangan. Setidaknya hal itu segera diketahui khalayak dan pihak kepolisian pun segara melakukan penyelidikan.

Pada intinya, kasus di atas menjadi pelajaran berharga bagi kampus dan mahasiswanya sekaligus itu menjadi indikator kualitas mahasiswa hari ini. Kampus-kampus yang belum memiliki prosedur yang jelas dalam birokrasi dan masih sering main dibelakang akan diingatkan dengan adanya peristiwa ini. Mungkin saja ini adalah hasil kajian dilapangan oleh para pelaku, sehingga ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai upaya penipuan. Maka sebaiknya keterbukaan informasi dan optimalisasi pelayanan sistem online benar-benar direalisasikan sehingga berbagai kecurangan dan penipuan dapat dihindari.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Beberapa mahasiswa yang tertipu waktu kasus berkedok PKM mengaku seperti terkena sihir. Ketika aku mendengar cerita itu dari pihak mawa rasanya pengin tertawa geli. Yang aku ragukan, jangan-jangan mahasiswa juga mudah percaya lantaran tawaran yang dituliskan di SMS menggiurkan. Yah, udah tidak ngerti alur birokrasi maunya asal dapat uang saja. Memalukan sekali. Inikah hasil pendidikan tinggi di negeri ini. Apa bedanya mereka dengan siswa SD yang tergiur untuk berduel dengan temannya karena iming-iming bakso jika menang.

Yah, mahasiswa hari ini akan selalu dipertanyakan perjuangannya. Untuk yang tertipu tadi bisa termasuk kategori gagal berjuang mungkin. Yah, menguasai diri sendiri saja tidak bisa. Mendengar kabar uang dan fasilitas mewah saja hilang kesadaran akalnya. Apa lagi hendak menjadi komponen pembangunan bangsa yang hari ini harus berhadapan dengan orang-orang asing yang siap dengan berbagai produknya untuk menguasai mental dan pikiran anak bangsa. Produk elektronik, makanan, fashion, dan trend hari ini adalah sebuah cara terbaik bagi bangsa asing untuk menjajah bangsa ini lagi. Lebih halus dan suatu saat tinggal menekan detonator untuk benar-benar mengumumkan penjajahan yang sesungguhnya.

Adakah yang tergerak untuk menjadi seperti Teuku Umar yang cerdik? Atau jangan-jangan mahasiswa hari ini secara tidak sadar bertingkah seperti Patih Danureja IV. Apakah bedanya mahasiswa dengan siswa SD jika hari ini kita belum bisa membedakan status  apakah kita sedang berbuat UNTUK Indonesia, atau sedang berbuat DI Indonesia saja? Jawablah dengan bukti.