Ketika hati ini mencinta maka segala yang pahit itu tak terasa. Ketika hati ini menyayang, maka segala yang tentangnya akan senantiasa terbayang. Ketika diri ini menghamba, maka relalah diri ini untuk menghiba agar selalu bersama dan mendekatinya. Demikianlah sebuah keterpautan dan ketergantungan karena dilandasi ketertarikan hati yang luar biasa. Jika itu kita tautkan pada Allah azza wa jalla, maka sudah semestinya memang demikian. Lalu bagaimana dengan urusan yang fana ini?

Adalah sahabat dekatku, sang Inspiron, yang selalu setia menemaniku ke manapun aku pergi. Yang setia menjadi tempat curhatku di kala aku merasakan apapun. Yang mau menjadi penyimpan rahasia-rahasiaku sesuai dengan kinginanku. Demikianlah sahabatku yang setia itu. Aku sedih ketika dia tadi seharian harus dioperasi karena gagal setelah gagal menjalani dua kali terapi. Hemm, aku hampir merasa kehilangannya setelah aku berusaha keras mengobatinya sejak awal pekan ini hingga akhirnya aku menyerah tadi pagi.

Demikian juga dengan si Hitam, sahabat perjalanku yang setia untuk mengantarkanku kemanapun aku pergi. Kelalalaianku dalam menjaga dan merawatmu telah mengantarkanmu pada rumah sakit juga. Lama kabarmu tak sampai padaku. Kutunggu hingga saat tulisan ini kubuat, kau masih menjalani perawatan intensif. Hemm, berapa pun akan kukeluarkan agar engkau cepat sembuh dan menemani hari-hariku. Si Hitamku yang manis, cepat sembuh ya. Aku sudah tak sabar untuk mengajakmu jalan-jalan lagi.

Demikianlah rahasia Allah, menguji hamba-hamba-Nya dengan hal-hal yang tak terduga, bagaimama Dia membuat sesuatu tanpa pernah terpikir dalam kepalaku. Ada saja cara agar aku mengerti bagaimana hatiku terpaut kepada selain-Nya. Sehingga aku mengerti bahwa apa yang bersamaku hari ini adalah sarana agar aku dapat menuju-Nya, dalam ketaatan dan dalam ketauhidan yang murni. Mereka hanyalah teman dan sahabat dekatku yang bisa kuminta bantuannya dalam mendekatkan diri pada-Nya.

Dan tahukah kalian siapa Insipiron dan Hitam. Mereka adalah Laptop dan Sepeda Motor kesayanganku. Kini ku tahu betapa aku menyayanginya. Dan terima kasih telah membaca tulisan yang sederhana ini.

4 Comments

  1. Wahyu Andrey

    alangkah lebih baiknya lagi ketika fasilitas untuk mendekatkan diri kepadaNya itu dijaga dan dirawat dengan baik, maka akan lebih sempurna lagi tujuan yang akan dicapai itu.
    Semangat mas . . . 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.