Banyak fenomena yang menarik di musim panas politik 2014 ini. Tiba-tiba muncul banyak pengamat politik yang bertebaran di Facebook dan Twitter. Para pemilik akun tersebut saling unjuk kebolehan dalam mengulas berbagai dinamika politik yang bergejolak di negeri ini. Tak jarang saling perang opini hingga di taraf debat dan perang urat syaraf.

Berlagak seperti orang yang paling tahu para pengamat jadi-jadian ini lantas beropini macam-macam, mulai dari hujatan untuk sang penguasa, menyalah-nyalahkan demokrasi, dan yang berbagau ejek-ejekan lainnya. Nampaknya ini adalah masa mbe’ol lima tahunan tentang apa pun yang ada di kepala untuk tumpah ruah di dunia maya hingga terasa nyampah dan menyebalkan.

Ada orang-orang yang menghujat para penguasa, diumpati, disumpahserapahi. Faktanya, tidak setiap penguasa jelek, masih ada yang baik. Ada yang menghujat parpol dan tak jarang saling perang opini dengan menunjukkan golongannya yang baik yang lain salah. Ada juga yang punya opini general tentang buruknya sistem demokrasi dan buruknya parpol. Faktanya, negeri ini terselamatkan karena kita masih menghindari tindakan revolusioner yang mengancam keselamatan ratusan juta orang Indonesia. Selain itu, tidak setiap orang partai bobrok, dan masih ada partai-partai yang secara gerak memiliki kualitas pengkaderan yang baik.

Mungkin inilah potret negeri yang baru melek politik setelah puluhan tahun dininabobokkan oleh penguasanya. Mungkin inilah potret masyarakat yang baru kenal dengan banjir informasi sekaligus mengalami kebangunan ekonomi. Bertambah banyaknya pertumbuhan kelas menengah menimbulkan banyak reaksi bebas yang unik, menarik, tapi mungkin juga membuat kecut untuk dicermati. Inilah Indonesia, negeri dengan sejuta kebebasan yang bahkan jauh lebih bebas dibandingkan negara-negara yang katanya menganut kebebasan.

Dalam pandanganku, sejatinya pengamat tetaplah orang yang tidak lebih tahu dari pada pelakunya. Yang menghujat dan mengkritik para penguasa secara membabi buta mencerminkan ketidaktahuan atas apa-apa yang sebenarnya terjadi di dalam lingkaran yang mengerikan itu. Cemoohan dan celaan yang berlebihan kepada parpol dan generalisasi juga pasti datang dari segolongan orang yang tidak pernah terlibat dalam lingkaran itu dalam waktu yang lama. Tahu sedikit atau mungkin hanya sedikit-sedikit tahu, lalu sakit hati sehingga kata-katanya mengerikan seperti lupa bahwa dia sedang menasihati sesama manusia yang juga sama-sama bisa salah.

Maka dari itu, menurut hemat saya mari kita hentikan segala bentuk ke-alay-an sikap itu. Jika memang kita menjadi kritikus, kritiklah dengan santun dan tepat sasaran. Pilihan momentum dan prioritas nasihat akan lebih memberikan hasil ketimbang luapan emosi atas nama kebebasan berpendapat. Yang jadi penguasa, pengurus parpol, dan para sasaran kritik semoga menjadi lebih sadar bahwa bangsa ini bukan milik mereka, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.  Dengan tindakan cerdas masyarakatnya dalam partisipasi politik diharapkan akan memperbaiki negeri ini.

Membangun negeri itu butuh kerja keras, bukan hujatan dan tuntutan. Sebaik apa pun pemimpinnya, jika rakyatnya tidak tahu diri maka tidak akan pernah terjadi perubahan apa pun. Sebaliknya, seburuk apa pun kualitas calon-calon pemimpinnya pasti mereka akan berpikir dua kali untuk menghadapi rakyat yang bisa bersikap cerdas dan mandiri. Maka pemilu bukanlah segalanya, maka tidak perlu dibesar-besarkan melebihi pentingnya mendidik anak-anak Anda yang kini mulai kecanduan televisi dan game online. Maka berpartisipasi pemilu 2014 akan lebih baik daripada banyak membuka perdebatan dan membuat kekisruhan di tengah kondisi umat yang sudah bingung, miskin, dan tidak punya pendirian.

Demikian pendapat saya. Mari kita jadi rakyat biasa saja. Yang biasa bekerja dan tidak suka menghujat. Tinggalkan profesi pengamat jadi-jadian agar waktu kita lebih banyak untuk berpikir yang maslahat ketimbang larut dalam berita-berita politik yang tidak lebih sebagai dagangan segelintir orang yang gemar berbisnis informasi. Politik itu adalah suara hati nurani kita yang masih mencintai keadilan dan semangat juang untuk menegakkannya. Jadi mari berjuang menerjemahkan itu dalam perjalanan hidup kita.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.