Catatan ini adalah kelanjutan dari tulisanku yang berjudul Diferensiasi Figur dan Gerakan, khsusunya bagian pertamanya. Aku telah menuliskan sebuah gambaran mahasiswa hari ini yang telah memiliki partai masing-masing di kampus dan aku yakin berlaku di seluruh kampus Indonesia, meskipun porsinya berbeda. Aku istilahkan partai, karena seolah-olah posisi ini sudah berisi segolongan mahasiswa yang fanatik terhadap bagiannya masing-masing. Aku menulis dengan asumsi diriku sendiri berlepas dari setiap golongan yang ada, meskipun pembaca bisa menebak dimana sesungguhnya keinginanku berada.

Yang pertama adalah partai mahasiswa Ideologis. Partai ini dianggotai oleh mahasiswa-mahasiswa yang paling gelisah dengan keadaan kampusnya. Mereka rata-rata memiliki visi yang sama untuk kampus dan ibu pertiwi ini. Tetapi terkadang haluan mereka berbeda dan tak jarang mereka saling bertempur satu sama lain meskipun sebenarnya mereka satu tipe. Mereka tak jarang bermusuhan satu sama lain ketika kedewasaan mereka tidak tumbuh-tumbuh. Tak jarang mereka membangun koalisi dengan partai yang akan kusebutkan setelah ini.

Partai ini kian hari kian sedikit peminatnya, disamping tekanan kampus yang makin menggila, gangguan eksternal kampus tidak akan tinggal diam melihat pertumbuhan partai ini. Karena partai inilah yang akan sanggup melahirkan kembali generasi Soekarno, Hatta, Natsir, Hamka, Tan Malaka, Kartosoewirjo, dan hal ini tentunya akan meresahkan pihak-pihak yang masih berminat menjarah bangsa ini, di samping orang-orang sendiri yang menjadi sengkuni juga resah takut hubungan mesra mereka di halau oleh kaum ini ketika kelak keluar kampus dan berkuasa di negeri ini. Sebenarnya kalau pun mereka terlahir kembali belum tentu negeri ini akan sehat kembali karena mereka-mereka pasti masih tetap harus bertarung dengan ideologinya masing-masing, tapi setidaknya ada satu nilai yang itu akan memperbaiki bangsa ini, yakni mereka semua cinta pada tanah air ini dan menggunakan seluruh kemampuannya untuk memperbaiki ibu pertiwi, bukan mencuri dan korupsi seperti kebanyakan pemimpin hari ini.

Yang kedua adalah partai mahasiswa Pengikut. Golongan ini relatif lebih banyak dari pada yang pertama. Partai ini adalah koalisi setia partai yang pertama, hanya saja konsepnya terlampau rumit. Karena partai ini memiliki sektenya masing-masing yang kemudian akan berteman akrab dengan sekte yang ada di partai mahasiswa Ideologis. Mereka sulit dijelaskan, entah karena memang termakan sebuah indoktrinasi atau memang mereka sedang digarap oleh partai yang pertama agar selalu menang melawan dua partai yang lainnya. Aku tidak ingin berkomentar banyak tentang partai ini, sekedar diketahui saja bahwa ini juga ada.

Yang ketiga adalah partai mahasiswa Netral. Kata netral menurutku lebih dekat dengan bingung. Karena tidak mungkin ada kebenaran dalam kenetralan. Mereka yang mengaku netral sulit sekali dong menjelaskan seperti apa pembelaan mereka. Yang seringkali dekat dengan mahasiswa yang mengaku netral ini adalah sekulerisme. Mereka selalu menolak adanya percampuran antara kekuasaan (politik), agama, dan pendidikan dalam satu kesatuan. Ketika mereka bicara pendidikan seringkali mereka tidak ingin membawa-bawa masalah agama. Ketika mereka bicara politik mereka tidak mau membawa-bawa masalah agama. Ketika mereka bicara agama mereka larut dalam ekstase pengagungan yang kosong. Entahlah apa maunya golongan ini. Yang pasti golongan ini cenderung keras kepala dan memang memiliki pola pikir tersendiri. Padahal jika mau berpikir lebih luas tentang hidup ini maka semuanya komprehensif dan saling terkait. Adanya kekacauan hari ini, karena sistem yang baik dari politik, agama, dan pendidikan tidak lagi ada.

Meskipun golongan ini membingungkan, terkadang oke juga untuk dipakai dalam mendukung berbagai kepentingan ideologis golongan pertama. Karena kuncinya sederhana, beri mereka tempat yang nyaman untuk bekerja dan berkarya, setelah itu jangan banyak diusik. Tapi jika jumlah pengikut partai ini terlalu banyak, jadinya kampus sepi dari kaderisasi yang matang, karena golongan ini jelas sulit mencetak orang-orang berideologi, selain hanya berhasil membuat orang menjadi terampil saja.

Yang keempat adalah partai mahasiswa Apatis. Inilah partai yang paling cepat pertumbuhannya di kampus. Suasana yang mendukung mulai dari iklim akademis, iklim hedonisme, iklim pragmatisme, dan hasil campur tangan golongan eksternal agar merusak generasi partai mahasiswa Ideologis membuat partai ini terus melonjak jumlah pendudukungnya. Partai ini terus membesar jumlahnya meskipun tanpa koordinasi dan konsep kaderisasi yang jelas. Ini partai yang paling membahayakan kampus hari ini, karena jika ini terus tumbuh cepat maka mimpi para pendahulu bangsa kita akan terkubur dalam-dalam di makam kenangan perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.