Megalomania?

Apa arti megalomania? Biar efisien akan saya comotkan dari tulisan tetangga yang katanya psikologi (maupun yang ngaku psikolog) tentang definisi itu.

Megalomania, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri.

Sedangkan menurut terminologi medis yang didefinisikan oleh Online Medical Dictionary Universitas New Castle Inggris adalah suatu kondisi mental dimana pasien memiliki delusi mengenai kebesaran diri berlebih dan perasaan kebesaran atas dirinya sendiri.

Megalomania adalah kepercayaan yang tidak menurut kepada kenyataan yang ada mengenai superioritas, kemampuan yang luar biasa dan bahkan potensi terpendam yang hebat.

Karakter dari pengidap gangguan jiwa ini adalah kebutuhan akan kekuatan total dan kontrol terhadap yang lain dan ditandai dengan kurangnya empati atas segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhannya tersebut.

Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah definisi klinis moderen atas penyakit jiwa yang dikaitkan dengan megalomania.

Lantas untuk apa saya membahas mengenai penyakit jiwa ini?

Entahlah..

Saya pikir tanpa harus panjang lebar, Anda semua bisa menebak ke arah mana maksud tulisan ini.

Dengan melihat gejala dan definisi dari penyakit jiwa megalomania tersebut, Anda bisa melihat betapa wabahnya sudah menyebar di seantero negeri ini.

Lihatlah para figur publik seperti selebritis dan politisi saling berlomba mempertontonkan gejala-gejala penyakit ini.

Saya sendiri tidak tahu apakah mereka menyadari atau tidak sedang mengidap penyakit jiwa tersebut.

Lantas, apakah penyakit ini bisa dirawat dan disembuhkan?

Jawabannya bisa, hanya masalah terbesarnya adalah bagaimana mungkin mengobati orang yang tidak merasa dirinya sakit?

Mungkin apa yang dikatakan seorang teman ada benarnya juga, “Lha, sejak kapan orang gila merasa gila? Malahan dia menganggap dirinya paling waras dan orang lain semua gila.”

(Megalomania: Penyakit yang Mewabah di Negeri Ini.. http://www.setiabudi.name/archives/387)

Masih kurang? Ni yang lain

ARTI MEGALOMANIA

Dalam wikipedia Megalomania sendiri barasal dari bahasa Yunani, yaitu Megalo yang artinya sangat besar, hebat, atau berlebih-lebihan, dan Mania artinaya terobsesi secara berlebihan terhadap sesuatu. Nah, kalo gitu Megalomania dapat kita simpulkan pengertiannya sebagai bentuk obsesi berlebihan terhadap dirinya sendiri karena menganggap dirinya paling besar. Hebat, dan berkuasa. Dalam ilmu psikologi, megalomania termasuk suatu gangguan kepribadiaan manusia. Bapak Psikologi Sigmund Freud berpendapat bahwa akar dari Megalomania adalah narsisme akut dalam diri manusia. Penderitanya memiliki suatu kecenderungan untuk menilai diri sendiri secara berlebihan atau menghargai diri sendiri melampaui batas. Nah, saking akutnya, rasa narsis itu berubah menjadi suatu penyakit mental yang berbentuk membesar-besarkan diri sendiri. Pernah liat orang yang super duper narsis??? Beuuuhhh… gak ada apa-apanya kalo dibandingin dengan si Megalomania ini. Kalo orang narsis berkaca 20 kali dalam sehari, maka orang Megalomania bisa lebih dari itu. Kalo orang narsis bilang dia lebih oke, maka orang Megalomania bisa bilang kalo dirinya yang paling oke. Dan lebih parahnya lagiii, banyak presiden yang diidentikkan sebagai Megalomania. Karena salah satu bentuk ciri negatif kepribadian para pemimpin adalah keinginan kuat untuk tampil sebagai orang terhormat, dihargai dan minta ditaati. Dan ciri-ciri tersebut biasanya dimiliki oleh orang Megalomania.

CIRI-CIRI MEGALOMANIA

Dari ciri berikut,, kita bisa tau siapa aja siiihhh orang-oang di sekitar kita yang punya kecenderungan mengidap Megalomania.

1.Enggak mau menerima kritik

Apapun pendapatnya, orang Megalomania selalu ingin di dengar. Istilahnya kalo dalam rapat oeganisasi misalnya, orang Megalomania gak mau mendengar pendapat orang lain. Dia selalu menganggap dirinya yang paling benar, menganggap perkataannya paling benar, keputusannya paling tepat, dan tindakannya pasti hebat. Apalagi kalo ada orang yang mengkritik pendapatnya, ampuuun deeehhh.. brasa runtuh tuh dunianya.

2.Selalu ingin dihargai

Sebagai orang yang mengaku paling hebat dan gak mau dikritik, pengidap Megalomania ingin orang sekitar menghargai kerja kerasnya. Sekalipun yang diklakukannya adalah hal-hal yang dapat merugikan banyak orang, dia tetep pengen dinggap benar oleh semua orang, dan tetap pengen hal tersebut untuk tetap dihargai.

3.Selalu ingin jadi ketua

Dia gak akan rela sebuah jabatan sebagai ketua diambil oleh orang lain. Penderita Megalomania, terutama mereka yang sudah akut, punya keinginan untuk menguasai dunia. Dalam pikirannya Cuma dia yang paling sempurna dan gak punya kesalahan. Jadi, siapa lagi yang paling cocok untuk memimpin dnia selain dia?? Akibatnya, bukan hanya jabatan sebagai ketua, cita-cita dia adalah untuk memimpin seluruh negara yang ada di dunia.

4.Mencari pendukung

Sebenarnya penderita Megalomania memang memiliki kemampuan sebagai seorangg pemimpin, karena biasanya mereka memiliki potensi untuk mempengaruhi banyak orang. Hasilnya, sering kali dia bisa menghipnotis orang lain untuk menyetujui semuuuuaaaa pendapatnya. Karena kemampuannya itu, Megalomania’ers merasa seneng banget kalo ada yang bersedia menjadi pengikutnya.

5.Merasa orang lain enggak punya kemampuan

Karena percaya bahwa hanya di yang bisa dan mampu untuk melakukan suatu tugas, pendeerita Megalomania menganggap orang lain tak mampu, so akibatnya dia ingin mengambil alih pluuss mengerjakan semua hal yang dikerjakan orang lain. Apalagi dengan mengingat obsesinya untuk menjadi orang yang besar dan hebat. Kalo bisa, semua pujian hanya ditujukan untuk dia seorang.

(Saya Manusia Paling Hebat..http://andluna.wordpress.com/2010/06/23/saya-manusia-paling-hebat/)

Nah sudah eneg kan baca tulisan yang banyak tadi. Aku mencoba mengemukakan pendapat (jadi kalo tidak setuju silahkan dikomentari atau dibantai sepuasnya agar nanti terjadi diskusi yang baik dan ada kesimpulan yang lebih baik) tentang kata yang konon tadi disebut sebagai penyakit jiwa.

Megalomania ini dapat terjadi karena sebuah sistem yang membuat para aktivis ini terjebak dalam euforia kebesaran diri atau golongan mereka hingga akhirnya justru terperosok ke jurang status quo, yang membuat mereka berhenti dari belajar dan berkomunikasi ke banyak orang (mau kawan ataupun lawan) dan melihat realita dengan perspektif yang tepat. Megalomania ini terjadi karena sebuah fanatisme yang merupakan produk kesempitan pikir atas pengagungan terhadap seseorang atau golongan yang menurutnya hebat tetapi kemudian meniadakan orang-orang hebat lainnya yang sebenarnya bisa ia jadikan tempat belajar seperti halnya tokoh yang ia agungkan.

Dalam konteks organisasi yang kami geluti sekarang dan mungkin juga kebanyakan umum organisasi mahasiswa di zona yang kami rasakan ini adalah bahwa siapa pun yang telah berada di tataran tertinggi organisasi mereka merasa paling berhak untuk mengatur (bahkan terkadang secara absolut) atas segala keputusan yang berlaku di lembaga itu. Bahkan terkadang masukan seorang staf yang paling nakal justru di anggap pengganggu yang merusak stabilitas organisasi padahal ternyata jika dikaji secara komprehensif masukan itu lebih sesuai untuk konteks kekinian lembaga tersebut. Apalagi jika dalam tubuh organisasi itu sudah tidak ada lagi rivalitas ideologis yang berarti, maka justru rasa “paling berkuasa” ini membahayakan dan akan terus mematikan jiwa-jiwa revolusioner mahasiswa satu demi satu.

bersambung ……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.