Alhamdulillah atau innaalillah ya sebaiknya kuucapkan ketika ini sudah menjadi hari terakhir Ramadhan? Aku bimbang, tetapi sepertinya aku lebih banyak merasa bersedih karena banyak yang kulewatkan selama Ramadhan ini. Apa saja yang terlewatkan? Banyak sekali mulai dari kajian-kajian Ramadhan yang tidak banyak kuikuti, hafalan Quran yang tidak maksimal, hingga 10 hari terakhir yang belum banyak terisi dengan taubat dan penyesalan. Rasanya cepat sekali berlalu. Oh Rabbi, masih bisakah aku menjumpai Ramadhan tahun depan? Semoga Engkau masih mempertemukanku kembali dan jadikan hari-hariku setelah ini menjadi saat-saat terbaik untuk merindu kedatangannya kembali.

Ramadhan di Kampung

Hal yang berbeda dari saat-saat aku menjalani Ramadhan saat masa-masa kuliah adalah kali ini aku menghabiskan hari-hari Ramadhanku di kampong halaman cukup banyak di banding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya simple, karena memang mahasiswa tingkat akhir, ga ada kerjaan. Tapi bukan karena itu, saya merasa bahwa peran di rumah sekarang jauh lebih dibutuhkan. Ada banyak cerita mulai dari yang menyesakkan hingga yang membuatku tersenyum.

Yang menyesakkan adalah makin sedikitnya generasi yang peduli dengan kegiatan sosial, terlebih mau dekat dengan masjidnya. Sulit sekali sekarang menggiring mereka untuk menjadi para pejuang filantropi bagi masyarakatnya sendiri. Banyak pengganggu yang luar biasa mulai dari kotak-kotak yang bernama HP, Televisi dan Internet. Kemudian ada juga kuda besi yang membuat banyak pemuda yang harusnya mengajar TPA jadi ngacir ke sana ke mari entah pamer motor kepada pasangannya atau sedang menghabiskan bensin agar mendapat uang saku. Intinya segala fasilitas yang begitu berlimpah di hari ini justru membuat adik-adik kami semakin jauh dari akar budaya mereka yang dulu dikenal sebagai masyarakat cinta gotong royong dan berjiwa sosial yang tinggi. Ada apa ini? Seperti inikah nasib generasi muda hari ini?

Sedangkan yang membuatku tersenyum adalah saat aku melihat perubahan di keluarga. Pelan namun pasti aku sekarang aku mulai merasakan banyak mimpi yang dulu begitu ku rindu kini telah Allah perlihatkan untukku. Allah Mahakuasa untuk mengubah segala hal sesuai kehendak-Nya, sesuai cara-Nya, pada waktu yang tepat. Benarlah, bahwa semuanya itu akan indah pada waktunya. Bagi kita yang menjadi subyek kehidupan ini tinggal menyempurnakan ikhtiar dan bertahan dengan kuat sekuat-kuatnya. Tidak hanya keluargaku yang memang sudah bergerak menjadi semakin baik dalam mengenal syariat Islam sejak aku sendiri bertekad untuk menajamkan diri di dakwah ini, tetapi juga adik-adikq dibukakan pintu hidaya oleh Allah untuk kembali kepada syariat Islam. Itu sangat indah, sangat indah. Hampir aku tidak pernah berdoa meminta ini itu terkait doa-doa pribadiku, cukup selalu mengucap, “Rabb, jika ini baik untukku maka dekatkanlah aku padanya sedekat-dekatnya, dan jika ini buruk untukku maka jauhkanlah aku darinya sejauh-jauhnya”.

Dan aku merasa sangat spesial dapat menjalani Ramadhan kali ini dengan kondisi terbaik sejak aku baligh dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga ini berkekalan dan semakin bertambah keberkahan kebaikannya di waktu yang akan datang.

Cerita Cinta untuk Adik

Aku memiliki 2 adik yang sangat keren. Seorang pria pemalu yang sudah terlihat bakatnya untuk ke depan menjadi calon ulama masa depan yang begitu kuimpikan untuk membawa cahaya Islam di daerahku. Kemudian seorang gadis kecil periang yang semoga kelak mau menjadi seorang psikolog. Mengapa psikolog? Sejak aku punya temen dekat seorang psikolog, aku merasa bahwa keberadaan psikolog di suatu daerah itu penting untuk memberikan edukasi ke masyarakat tentang interaksi manusia agar eksistensi nilai dalam masyarakat itu dapat terjaga. Jadi aku terobsesi untuk menjadikan adikku yang kecil sebagai psikolog nantinya. Semoga bisa.

Bersama adik-adikku aku belajar bagaimana menjadi kakak yang penyayang dan penuh perhatian. Mungkin tipikal kerasku (kata temenku yang psikolog : aku koleris melankolis) sulit membuatku menjadi sosok yang “gemati” seperti impian kebanyakan orang. Namun, aku ingin mengatakan bahwa rasa cintaku amat dalam dan besar. Mungkin itulah mengapa aku mudah menangis jika diingatkan tentang orang tua dan adik-adikku atau orang-orang yang pernah memberikan kesan mendalam selama hidupku.

Itulah cerita cintaku wahai adik-adikku, semoga kalian bisa mendengar bahasa hatiku ini ya. Dan semoga semakin hari, kakakmu ini bisa menemukan bahasa cinta terindah untuk kalian.

Mengenang yang Telah Pergi

Pagi tadi, kakekku memintaku untuk mengantarnya ziarah ke makam, atau dalam bahasa sini dikenal dengan istilah “badan”. Itulah kebiasaan masyarakat di sini yang mengunjungi makam orang tua atau leluhurnya, membersihkan dan melakukan tabur bunga. Aku sih biasa aja, karena dalam ziarah kubur adabnya kan tidak seribet itu. Dan lagi-lagi aku mengajak si cantik Zahra untuk menemaniku ke sana. Yah sebenarnya dari pada mengganggu kerjaan ibu di rumah, biarlah mbolang bersama kakaknya saja.

Segeralah kami meluncur bersama kakekku yang jadi my heroku tahun ini ke sebuah makam yang cukup tua. Makam yang menjadi tempat jasad mbah buyutku bersemadi. Pemandangannya cukup bagus. Setelah mengucap salam dan berjalan menuju makam yang dituju, kakek terus membersihkan makam tersebut sekadarnya dan menaburkan bunga-bunganya. Di tengah kesibukan itu, aku sama Zahra justru asyik berfoto menikmati keindahan makam yang berada di kaki bukit itu. Memandang ke bawah oh indahnya. Ku nikmati ziarah ini sebagai sarana mengingat mati dan mengagumi kebesaran sang Pencipta.

Saat aku melihat kakekku membersihkan makam dan kemudian berdoa, aku menatap wajah beliau yang begitu penuh dedikasi. Oh, beginilah hasil pendidikan di masa lalu, yang membuat seorang anak begitu merasakan arti orang tua bagi mereka. Meski mungkin ilmu syari mereka tak seberapa tetapi tekad itu menjadi sebuah bukti konsistensi hidup orang-orang tua hingga hari ini. Aku masih mendapati orang tua seperti kakekku yang begitu teguh memegang prinsip sebagai manusia filantropi dan berkarakter Jawa tulen. Bersyukur sekali dikarunia kakek seperti beliau. Mungkin suatu saat aku akan mengenang beliau jika beliau ditakdirkan mendahului ku. Atau jangan-jangan aku duluan yang meninggalkan beliau. Wallahualam

Dan sekembalinya dari makam aku merenung tentang kematian. Mungkin itu lebih menyenangkan ketika aku telah siap dari pada merasakan Ramadhan yang akan segera berlalu dan tinggal menghitung mundur dalam hitungan jam saja. Oh Ramadhan, kau benar-benar akan segera pergi. Aku belum puas berdoa, aku belum puas menangis. Tapi bagaimana lagi, aku masih suka melupa dan menyibukan diri sendiri pada perkara yang tidak penting. Aku ingin memelukmu lebih erat, tetapi engkau pun tak sanggup ku peluk. Aku ingin terus bersamamu lebih dekat, namun engkau adalah bagian dari waktu yang pasti akan segera meninggalkanku. Aku berharap semoga tahun depan aku masih bisa merasakan kehadiranmu lagi. Allahumma baalighnaa Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.