Kelas yang Heboh

Pagi yang cepat. Jam 7.30 aku ada jadwal di kelas III menggantikan pak Darwis mengajar Pendidikan Agama Islam. Ini pengalaman pertamaku mengajar di sebuah SD untuk sebuah mata pelajaran. Pernah dahulu mengisi siswa-siswa di sekolah dasar, tetapi tentu saja tidak dalam pelajaran formal. Awalnya agak dag dig dug der juga, mengingat reputasi SD ini yang WOW sehingga barangkali siswa-siswanya juga WOW.

Begitu memasuki ruangan, aku disuguhi pemandangan bangku kelas yang banyak dengan jumlah siswa yang tak ada dua pertiganya. Setiap siswa menempati bangku yang seharusnya untuk dua orang. Lagi-lagi pikiran konyolku yang mencari sosok-sosok gadis kecil yang bersinar di Berau ini bekerja. Ternyata setelah menemukan sosok yang kucuri fotonya di kelas I dan II, di kelas III pun ada satu yang bersinar juga. Ahai, parahnya aku ini.

Materi hari ini adalah tentang shalat. Tetapi lagi-lagi ini adalah kelas anak SD. Di sekolah ini, jam pelajaran PAI adalah 4 jam pelajaran langsung yang terjeda oleh istirahat pagi setelah jam ketiga. Wow, kalo isinya materi dan penjelasan guru jelas akan membuat mereka bosan. Jika isinya adalah ancaman untuk yang suka bikin ribut maka kelas ini akan menjadi panci bertekanan, kata Bapa Ranchodas.

Ya sudah, kelas dimulai dengan cerita tentang Nabi Shalih dan untanya. Kisah tentang kaum Tsamud yang dimusnahkan oleh Allah dengan azab yang mengerikan cukup untuk membuat para siswa melotot memperhatikanku, kecuali dua bintang kelas yang memang terkenal reputasinya sebagai trouble maker dan pembicara alternatif di kelas. Di sinilah makna bahwa guru itu harus memenangkan pertempuran dalam mengambil perhatian siswa dengan cara yang elegan dan terhormat, tanpa harus menjatuhkan rival cilik itu dengan ancaman dan segala bentuk intimidasi.

Meskipun sesekali kalah dan harus meluangkan waktu untuk membuat perjanjian kecil dengan dua jagoan itu, akhirnya pelajaran pun berjalan dengan lancar. Materi gerakan shalat dan bacaannya dapat diajarkan meskipun belum sampai pada tahiyyat awal. Ketiadaan mushola di sekolah membuat kami merelakan celana kotor karena dipraktekan langsung di lantai kelas yang berdebu.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.