Siang yang Malas hingga Diskusi Malam yang Hangat

Siang harinya seperti biasa terpanggang di bawah terik matahari Katulistiwa. Bak terjebak di sauna raksasa, aku menghabiskan siang dengan malas sampai-sampai aku memilih istirahat di rumah ketimbang keluar mengajar les hari ini. Kondisi badan dan pikiran yang sedang eror membuatku nyaman berada di atas kasur siang hari ini sambil bertelanjang dada. Biarlah hari ini menjadi milik Mustopa untuk berjuang melayani aneka permintaan anak-anak sekolah yang rindu akan sentuhan baru dalam pendidikan itu.

Sore harinya aku pun sudah segar kembali. Aku memutuskan perlunya jalan-jalan keluar sore ini untuk menyegarkan pikiran yang suntuk. Mas Baihaqi yang baru saja pulang dari aktivitasnya pun kusamperin untuk ku ajak ke pasar Adji Dilayas. Agenda makan bareng di warung PKL Dennis, milik orang Lamongan itu menjadi favoritku. Bukan apa-apa, hanya karena aku tidak mau melakukan uji coba lagi di tempat lain, mengingat makanan di sini berharga separuh Eropa, sehingga kalo sampai tidak lezat rasanya rugi sudah merogoh kocek 3 dollar alias 30rb.

Pembicaraan di sepanjang perjalanan hingga di tempat makan ini pun terjadi. Mulai dari aktivitas masa kampus yang dijalani sebagai makanan para aktivis hingga melakukan diskusi layaknya pengamat kota. Ya, Tanjung Redeb yang merupakan ibukota kabupaten Berau ini merupakan salah satu kota yang menjadi korban kegagalan sebuah perancangan wilayah. Kebetulan aku pernah mendapat kuliah singkat seputar arsitektur untuk perancangan wilayah oleh mas Jefri, arsitek lulusan UNS yang kini menjadi arsitek peradaban di Sekolah Alam Bengawan Solo. Melihat aneka bangunan yang berdiri berserakan di kota dengan konsep yang tidak jelas dan terlihat kontras itu membuatku geleng-geleng kepala. Belum lagi dengan manajemen yang lainnya, makin kacau. Dalam bahasa gampangnya, tata kotanya kacau, dan mindset masyarakatnya masih rendah untuk menuju sebuah kota yang teratur.

Tapi ini lah fakta negeri kita, negeri yang tetap indah meski tidak pernah diatur untuk teratur. Hanya saja, lubang-lubang galian batubara yang pernah kulihat saat berada di pesawat beberapa hari lalu adalah masa depan yang suram untuk tanah kaya ini ketika tidak ada manajemen yang bagus dan regulasi yang ketat dalam menjaga kawasan tanah syurga ini. Inilah tugas kita yang dapat kesempatan kuliah, meneruskan semangat Sumpah Pemuda, bukan mencari ijazah untuk meraup kekayaan saja.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.