Kisah Dai dari Al-Azhar Mesir

Setelah berdiang di bawah terik matahari siang, tanpa sadar kami tertidur di teras masjid sambil menunggu datangnya waktu shalat. Kami sepertinya mulai akrab dengan iklim malas di daerah ini. Ketika memang kami tak ada kerjaan atau benar-benar capek, inilah satu-satunya hiburan yang solutif mengingat kami tak punya rumah dan televisi di sini. Selebihnya, kami menghabiskan sore untuk menunggu kedatangan mas Baihaqi yang lupa menitipkan kunci kos kepada kami.

Sebelum kami berangkat ke rumah pak kepala sekolah dan pak RT, malam ini kami kedatangan seorang alumni al-Azhar Mesir. Salah satu jamaah di masjid yang kebetulan sudah lebih dahulu akrab dengan mas Baihaqi. Seorang pemuda berdarah bangsawan yang masih ada hubungan keluarga dengan Kesultanan Gunung Tabur dan ibu dari darah Suku Dayak Kalimantan itu berkunjung ke tempat kami. Awal-awal percakapan antara beliau dan mas Baihaqi adalah tentang realita masyarakat yang gemar berpesta bahkan itu perayaan kematian. Haaa, bahkan peringatan 7 hari kematian itu ada pesta perayaan layaknya hajatan pernikahan di kampungku. Gila! Aku belum menyaksikan sendiri, tapi jika itu terjadi aku melihat ironi yang lain lagi.

Pak Musa namanya, sekarang sudah menikah dan menjadi bagian dari masyarakat itu. Sebagai salah satu dai yang dikirim oleh sebuah lembaga dakwah dari Tarakan, beliau mencoba berbaur di tengah masyarakat Berau dan pendatang yang multietnik ini. Dari kisah beliau, aku mendapati bagaimana beliau awalnya mendapat penolakan yang berujung pada baku hantam karena penghinaan yang dilakukan berujung pada penyebutan darah keturunan. Hampir saja ada oknum warga Berau yang membuat hinaan kepadanya itu dihabisi oleh orang dari suku Dayak dan keluarga kesultanan Gunung Tabur, tapi alhamdulillah hal itu tak terjadi.

Bagi beliau, kondisi masyarakat seperti ini perlu diperbaiki. Ini menjadi fakta bahwa hari ini banyak kaum muslimin yang abai untuk memperhatikan kehidupan saudara-saudaranya baik dalam memperbaiki akidah dan pendidikannya, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonominya. Dan diskusi yang dibangun dengan mas Baihaqi adalah mencari jalan tengah untuk mulai masuk dan mengakrabi masyarakat khususnya dari para tokoh agama dan pemuka masyarakat meskipun mereka adalah orang yang paling jarang datang shalat berjamaah ke masjid. Kami hanya ikut menjadi pendengar setianya.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.