Dermaga, Kapal Tongkang, dan Surau Tua

Usai menjadi pak guru di sekolah, di terik siang ini kami berjalan-jalan menyusuri pinggiran sungai Berau. Dengan ditemani Faisal dan Lutfi, murid-murid kelas VI yang baru saja kami ajar. Kami terus menyusuri pinggiran sungai tersebut sambil melihat rumah-rumah masyarakat Berau asli yang kini terlihat semakin bagus. Meskipun mereka mendirikan rumah-rumah panggung seperti umumnya rumah di Kalimantan, desain interiornya sudah jauh lebih modern dengan dukungan aneka fasiltas di dalamnya. Mewah sekali.

Kami terus menyusuri pinggiran sungai itu hingga sampai di sebuah rumah mewah dengan 3 mobil terparkir di depannya dan mungkin puluhan yang ada di garasi sampingnya. Tidak main-main, karena ketiga mobil yang terparkir itu bukan mobil cap murahan. Tulisan Fortuner, salah satu merk mobil tangguh di kawasan gunung itu pun tertempel di salah satu bodi mobil tersebut. Yang lain, kurang lebih sama. Di depannya yang agak jauh, tepatnya di dermaga, tertambat dua kapal tongkang besar. Kapal-kapal itu rupanya sedang beristirahat karena tdak lagi mengangkut alat-alat berat. Beberapa awak kapal tampak menjalani hari-hari dengan malas.

Mungkin inilah karakter masyarakat sini. Siang hari yang begitu terik (kuperkirakan suhunya sudah di atas 32 derajat), setiap orang suka membuka baju baik wanita dan laki-laki di teras rumah. Itu menjadi pemandangan umum. Terkadang mereka tergeletak di ruang tamu sambil menyaksikan tontonan di televisi. Jangan salah, di sini hampir semua rumah telah memasang parabola sehingga semua tayangan televisi di Indonesia dan luar negeri pun telah masuk di rumah penduduk. Berita gosip seputar artis, sinetron kekerasan, hingga berita kriminal tumbuh menjadi tayangan favorit warga. Apa jadinya anak-anak mereka nanti?

Pemandangan ironis itu pun akhirnya kuhapuskan setelah melihat di sebuah bangunan tua di pinggir sungai. Sebuah bangunan yang masih bisa kukenali sebagai masjid atau surau. Di hari sebelumnya, saat melintasi tempat itu, mas Baihaqi bilang bahwa itu adalah Surau yang lebih lama sebelum Masjid  yang biasa kami gunakan shalat berjamaah seperti sekarang didirikan. Bangunan yang mulai terlihat lusuh karena tak pernah dirawat itu ramai dengan anak-anak perempuan kecil yang masuk satu persatu melalui pintu bangunan itu.

Oh rupanya itu adalah pembelajaran TPA. Dua orang ibu-ibu datang mengasuh anak-anak putri di dalam ruangan yang jauh dikatakan layak untuk proses belajar.  Beberapa anak laki-laki pun tampak di sekitar surau itu. Kutanyai mereka

“Dek, kenapa tak ikut TPA?”

“Ini giliran yang putri Bang. Kami masih besok.“

“Oh, berselang-seling ya waktunya?“, tanyaku lagi

“Iya bang“.

Itulah realita surau tua yang sudah tidak terawat lagi sejak Masjid Al-Mu’min di dekat sekolah difungsikan. Dan sebentar lagi masjid itu pun mungkin akan segera mati, karena sebuah masjid besar yang kini masih dalam proses pembangunan telah berdiri megah di pinggir jalan raya di kampung tersebut. Kapan berakhirnya proyek pendirian rumah ibadah sebagai lelucon karena setiap orang hendak bermegah-megahan saja dengan bangunan, sementara telah banyak orang berwakaf di tanah lama akan tersia. Dan bukankah realitas selama ini, jamaah yang aktif menghidupkan shalat lima waktu di masjid ya hanya itu-itu saja plus kami dua orang pendatang aneh ini.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.