Silaturahim dan Pemetaan Kekuasaan

Usai berbincang dengan dai al-Azhar itu, kami pun menunaikan shalat Isya di masjid. Target malam ini adalah silaturahim dengan dua orang kunci di kampung ini, kepala sekolah dan ketua RT. Selama tiga hari di sini kami tak pernah melihat mereka datang untuk shalat jamaah di masjid. Sebagai seorang muslim, mari berprasangka baik bahwa mereka menunaikannya di rumah masing-masing.

Pertama, kami berkunjung ke pak kepala sekolah yang sejak kemarin mengharapkan kedatangan kami. Kami sudah membawa amunisi yang berupa program-program selama magang untuk sekolah. Mungkin temanku fokus untuk hal itu, tetapi aku sendiri sudah punya rencana lain. Silaturahim malam ini adalah pemetaan kekuasaan. Karena masalah-masalah yang dipaparkan mas Baihaqi tentang kondisi sekolah kemarin masih butuh diklarifikasi.

Klarifikasinya bukan dengan investigasi formal, tetapi dengan melihat peta kekuasaan yang berlaku di kalangan masyarakat ini. Karena melihat kultur masyarakat yang multietnik ini, sulit bagiku untuk percaya bahwa mereka bisa hidup tenang dan aman di tempat ini kecuali ada beberapa orang yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi. Kekuasaan tertinggi ini adalah pengaruh dan daya tekan yang dimilikinya kepada masyarakat di sekitarnya. Jika ini ketemu, maka sesungguhnya permasalah di sekolah itu hanyalah salah satu buah dari ketidakseimbangan pengaruh kekuasaan yang lebih besar ini.

Pembicaraan di rumah pak kepala masih lebih bersifat basa-basi dan penyampaian rencana kegiatan kami. Karena beliau orang Berau asli tentu aku hanya sebatas bagaimana beliau nyaman berkomunikasi denganku dan tak perlu tahu banyak hal. Dan aku hanya berharap satu hal, makan malam. Betul sekali, beliau menawari kami makan malam. Tak rugi kami tak jajan sore hari ini. Ha ha ha, malam ini kami menikmati makan malam berasa restoran dengan gratis. Iya gratis asal tak setiap hari. Karena jika tiap hari ke situ (meskipun basa basinya kami dipersilahkan sarapan) nanti akan ada hitungannya sendiri. Kunjungan pun berakhir dengan penyerahan kenang-kenangan dari DD.

Berikutnya adalah ke rumah Pak RT yang terletak tepat di depan kepala sekolah. Aku sebenarnya berharap agar pak kepala tidak ikut dengan kami. Mengapa? Karena ketua RT yang akan kami kunjungi adalah orang jawa, dan inilah orang kunci yang sebenarnya bisa kugunakan untuk menjaring informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi masyarakat di sini. Aku mengenal siapa beliau karena kebetulan istrinya penjual makanan di kantin sekolah. Namun rupanya pak kepala mengantar sekaligus bertamu seperti kami. Ya sudah, pertanyaan penting itu disimpan dahulu.

Nah, akhirnya aku mendapat sedikit gambaran tentang awal mula masyarakat di sini. Dari diskusi kami berempat, aku melihat gambaran bagaimana Pak RT dan pak Kepala Sekolah adalah pasangan serasi yang tergolong masyarakat lama di sini. Meskipun orang Jawa, pak RT adalah orang yang telah lama merantau dan menetap di sini. Gaya bicaranya menunjukkan dirinya telah kenyang dengan diplomasi sehingga dapat menjadi salah satu pemimpin di kampung ini. Karena keduanya adalah tetangga dekat, maka aku membaca ada beberapa kontrak sosial yang terjadi antara beliau dengan pak kepala sekolah.

Pengaruh mereka berdua sangat terasa dalam lingkungan yang kutinggali. Belakangan wajah-wajah orang timur Indonesia yang berada di sekitar kosku, yang sempat membuatku merinding adalah orang yang berada di bawah pengaruh kekuasaan mereka. Informasi ini penting karena aku ingin mengetahui peta kekuasaan di daerah yang kutempati agar aku tidak salah saat membuat usulan program untuk masyarakat. Seperti pesan salah satu petinggi di lembaga beasiswa kami, jangan sampai saat kami pergi nanti meninggalkan masalah dengan program yang mengambang.

Dari percakapan yang begitu lama itu pula, pak kepala bercerita beberapa guru mudah di sekolah tersebut ternyata adalah murid-murid beliau. Sementara ini aku berkesimpulan bahwa perang dingin yang terjadi saat ini karena kecemburuan yang tidak ada jembatannya. Dari keterangan Pak RT, meskipun tidak lepas dari subyektivitas beliau, sekolah yang kami dampingi semakin maju karena tidak lepas dari keberadaan kepala sekolah. Kepala sekolah yang satu ini bukan orang sembarangan, di samping memiliki pengaruh yang besar, dirinya memiliki jejaring yang sangat luas dengan orang-orang penting di kabupaten.

Kejadian tentang mudahnya kami bertemu dengan sekretaris dinas pendidikan di Berau adalah salah satu contoh saja tentang bagaimana beliau itu adalah pemilik tiket khusus dengan pak Eddy sehingga kami bisa berdiskusi lebih dari satu jam. Ini luar biasa bukan mengingat beliau itu sangat sibuk bahkan selama kami berdiskusi beberapa kali anak buahnya datang menghadap untuk menerima perintah. Kemudian menurut cerita pak RT, dulu sekolah itu masuk pukul setengah 9 dan pulang pukul 11. Sekarang sudah lebih baik karena pak kepala biasa ke sekolah sebelum jam 7 meskipun di tengah pelajaran tiba-tiba menghilang entah ke mana siangnya dia kembali lagi ke sekolah. Maka guru-guru pun menjadi lebih rajin untuk datang pagi dan pulang siang.

Nah, sudah sedikit ada gambaran tentang peta kekuasaan di daerah yang kami tinggali. Sudah ada simpul masalah mengapa perang dingin berkecamuk di sekolah itu. Semoga ini dapat menjadi bahan asesmen dari kami hari ini. Malam kami pun ditutup dengan hujan deras yang akan membuat tidur kami semakin nyenyak.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses