Kategori
Resensi Buku

Salahuddin al-Ayyubi: Ksatria yang Agung #5

SaladinEpilog

Tak banyak pemimpin kaum muslimin pasca kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang memiliki kecakapan dan kebesaran seperti para pendahulunya. Shalahuddin bukan hanya sebagai pemimpin kaum muslimin yang perkasa, tetapi juga lawan yang sangat disegani dan sekutu yang paling setia terhadap janji. Di kalangan pasukan salib Eropa, mereka mengakui ada seorang pemimpin besar yang pernah mereka temui dan pasukan yang kuat yang mereka lawan. Dialah Shalahuddin al-Ayyubi (Saladin) sang pembebas Yerusalem. Sebelum akhirnya kejayaan perang itu diakhiri dengan penaklukan Konstantinopel dan pembukaan jalur ke Roma oleh Sultan Muhammad al-Fatih (Mehmed II).

Bagiku perang Salib bukanlah ajang pembantaian atas nama perang suci dua agama. Tetapi itulah masa yang ditakdirkan oleh Allah agar orang barat dan timur saling bertemu sehingga semua bisa belajar satu sama lain dan Allah hendak memperlihatkan kepribadian para pemimpin besar di dunia ini. Karena dikemudian hari, Eropa, khususnya bangsa Frank yang sempat menguasai Yerusalem bersama ksatria Templar dan Hospitaller mengalami kemajuan perabadan ketika mereka belajar banyak dalam tata kehidupan dari kaum muslimin. Untuk itulah umat Islam kalah sekali saja selama Perang Salib, karena kekacauan yang mereka lakukan sendiri sebagai tabiat para pemimpin yang haus akan kekuasaan. Ketika mereka telah disatukan kembali, kejayaan itu terulang kembali.

Di masa ini pula, Allah ingin menunjukkan siapa yang sesungguhnya paling setia terhadap perdamaian dan toleransi untuk menjaga keyakinan beragama masing-masing. Bukan sebuah klaim untuk Shalahuddin, tetapi sejarah telah mencatat kebesaran namanya. Di perang Salib itu, konstelasi politiknya sangat-sangat rumit, baik bagi kaum muslimin sendiri maupun bagi kaum Salib Eropa yang datang ke Yerusalem.

Tak heran jika terjadi peperangan sesama penguasa kaum muslimin ataupun sesama bangsa Frank yang telah berkuasa hampir seabad. Persekutuan Kristen-Muslim dan berbagai keanehan lain seperti dipaparkan oleh Geoffrey dalam bukunya itu, khususnya persahabatan bangsa Frank dan kaum muslimin, baik sesama tentara hingga para perwiranya ketika gencatan senjata. Sulit dicerna dan bisa jadi akan membingungkan mereka yang hanya mengerti bahwa perang itu membunuh dan mengalahkan musuh. Klaim atas penguasaan Yerusalem-lah yang membuat permusuhan dua kekuatan besar itu yang terjadi, padahal sejak masa khalifah Umar bin Khattab membebaskan kota itu, tidak pernah ada cerita larangan bagi para peziarah Eropa mengunjungi tempat-tempat suci mereka.

Dalam buku lain yang lebih tebal lagi, diungkapkan bahwa pertemuan antara Shalahuddin dengan Richard adalah pertemuan mengagumkan dari dua ksatria hebat yang pernah ada. Keberanian dan kebesaran nama mereka selalu diingat oleh bangsa-bangsa setelahnya. Mereka memiliki tempat masing-masing di hati masyarakat. Tak siapa pun meragukan bahwa pertemuan ini menjadi era baru antara barat dan timur, hingga akhirnya kita tahu bahwa Perang Salib ini menjadi pemicu kebangkitan Eropa.

Dan hari ini kita melihat mereka memiliki pola kehidupan yang lebih maju. Mau diakui atau tidak, tata cara kehidupan masyarakat timur ketika itu telah menginspirasi bangsa Eropa untuk menjadi lebih beradab. Kita hari ini bisa merasakan bagusnya layanan mereka kepada masyarakat (good governance), keindahan mereka dalam menata kota, hanya mungkin yang tidak pernah mereka tiru dari bangsa timur adalah adab dalam hidup dan berhubungan dalam membangun rumah tangga. Yang menyedihkan, justru kebiasaan barat yang buruk itu malah menjadi budaya baru yang menjangkiti kaum muslimin. Di negeri-negeri muslim, cerita-cerita yang tidak sedap itu kian mewarnai mulai dari kebejatan para pangeran Arab yang keterlaluan dengan foya-foya mereka hingga kisah pemerkosaan dan free sex yang seolah tumbuh cepat secepat lahirnya bayi di tanah itu. Dan Indonesia, adalah salah satu negeri yang terjangkiti itu hari ini.

Ini hanya sebuah tulisan dari seorang penyuka kisah sejarah Timur Tengah menjelang abad pertengahan. Seorang yang menginginkan terciptanya kedamaian dan ingin selalu berbagi tentang keyakinan yang dianutnya. Sekaligus menunaikan kewajiban sebagai umat Islam untuk selalu nasihat-menasihati dalam kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang. Untuk kaum muslimin, untuk negeri yang kucintai ini, demikianlah sebuah tulisan panjang ini kuselesaikan.

Kategori
Resensi Buku

Salahuddin al-Ayyubi: Ksatria yang Agung #4

SaladinKepribadian yang Memikat

Meskipun beliau berkuasa dan menjadikan umurnya dalam jihad, beliau tidak pernah dikenal sebagai sosok yang kejam apalagi sadis. Seperti yang kutuliskan di awal, nama beliau harum di barat dan di timur. Sekedar ilustrasi, dalam film Kingdom of Heaven, pada bagian akhirnya terlihat Balian d’Ibelin yang dalam cerita film itu menjadi pemimpin garnisun Yerusalem yang mempertahankan kota mati-matian dari gempuran pasukan Shalahuddin al-Ayyubi yang berakhir dengan perundingan setelah keduanya menyadari korban yang banyak dari kedua belah pihak (sebenarnya ceritanya tidak sesederhana itu, bahkan dalam rangkaian penaklukan Yerusalem hal yang paling penting adalah kesalahan bangsa Frank sendiri ketika itu membawa pasukannya keluar dari benteng kota yang sudah pasti dengan mudah dilibas oleh pasukan Shalahuddin yang terkenal tangkas dalam pertarungan terbuka).

Dalam perundingan, Shalahuddin mengatakan, “Aku tawarkan jaminan keamanan bagi setiap penduduk termasuk Ratumu (dalam film yang dimaksud adalah Ratu Syibilla) yang ingin meninggalkan Yerusalem menuju ke pantai barat (artinya dia tidak akan menawan para penduduk bahkan memberikan pengawalan)“. Balian berkata, “Dulu ketika orang Kristen (dalam sejarah yang dimaksud adalah bangsa Frank) menguasai tempat ini, mereka membantai seluruh muslim“. Shalahuddin membalas, “Aku bukanlah manusia yang seperti itu, aku Shalahuddin, Shalahuddin“. Balian menjawab, “Jika demikian, kuserahkan kota ini dan aku percaya pada janjimu“.

Kisah tadi hanyalah sebuah pengakuan kecil dari orang-orang barat, dalam hal ini para penyuka hiburan untuk mengambil tema film tentang masa perang salib. Mereka dengan jujur mengakui bahwa Shalahuddin itu bukan pembantai dan selalu berbelas kasih kepada para musuhnya, memegang janjinya. Maka pada uraian-uraian selanjutnya akan aku paparkan kepribadiannya dari beberapa kisah yang akan membuat kita tercengang dengan sosok yang awalnya tidak pernah dikenal ini. Dan selanjutnya kita bisa membandingkan bahwa meskipun beliau telah hidup jauh di masa Rasulullah dan sahabat, namun kebaikannya mampu menghadirkan penghormatan kawan dan lawannya sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Muhammad al-Fatih (Mehmed II) dan Sulaiman al-Qanuni (The Great Solomon).

Apa keistimewaannya?

Pertama, beliau adalah orang yang lembut, berbelas kasih, lagi mengutamakan perdamaian. Dalam visinya menaklukkan kota-kota muslim yang melingkari Yerusalem, beliau selalu menawarkan jalan damai dulu dengan berbagai kesepakatan, barulah jika memang pemimpinnya keras kepala beliau bertempur dengan pasukannya. Di masa-masa ini para penguasa yang menang terbiasa menjarahi habis-habisan, tetapi tidak demikian ketika Shalahuddin berkuasa atas suatu daerah. Bahkan ketika beliau akan menaklukkan Yerusalem, beliau sudah terlebih dulu menawarkan jalan damai yang disetujui kebanyakan pemimpin agama Kristen di sana, hanya saja sang penguasa dari bangsa Frank itu menolak, terlebih ketika raja yang bijaksana, Boudoin IV wafat dan digantikan Guy d Lusignan yang terkenal angkuh, namun akhirnya dia membuat kesalahan dengan membawa pasukannya ke padang terbuka dan dikalahkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Maka kemenangan Shalahuddin adalah kebahagiaan bagi para pemimpin Kristen Ortodoks di Yerusalem karena pemaksaan agama dari bangsa Frank yang beragama Kristen Latin (Roma) di waktu itu berakhir sudah. Dalam hal ini termasuk Kekaisaran Byzantium di Konstantinopel ikut memberikan selamat karena pengaruh kekuasaannya dalam Kristen dapat kembali ke Yerusalem.

Dalam kisah yang lain, beliau tidak pernah membantai tawanan perang yang ditaklukkan pascapenaklukan Yerusalem dan kota-kota penyangganya. Menurut Geoffrey, beliau baru membalas pembantaian tawanan perang ketika Raja Richard si Hati Singa membantai secara kejam para tawanan dari garnisun Kota Acre yang kalah oleh serbuan pasukan gabungan Eropa. Dan sekali itu Shalahuddin membalas kebiadaban Richard agar mereka tidak menganggap bahwa Shalahuddin lemah dan tidak kuasa untuk melakukan hal yang sama.

Kedua, beliau hidup sederhana dan bukan pemimpin yang tamak pada harta. Itulah mengapa loyalitas pasukan dan bawahan beliau besar hingga masa-masa akhir pertempurannya sebelum beliau kembali ke Damaskus? Karena beliau selalu mengutamakan kepentingan negara. Di masa itu, tidak semua orang mau berjihad dalam artian seperti di masa Rasulullah dan khalifah Rasyidah. Maka dalam situasi demikian, beliau memberikan jaminan kekayaan yang membuat para prajurit terbaik dan para emir di wilayah yang dikuasainya. Menurut Geoffrey, situasi ketika itu sangat pelik karena para emir kebanyakan orang yang kemungkinan lari paling duluan jika pasukan muslim terpukul mundur, karena mereka takut kekayaan yang telah dibagikan Shalahuddin dijarah atau ditarik kembali untuk infak dan membiayaai perang. Kesederhanaan itu terlihat pada meskipun beliau menduduki istana dan meninggal di istananya beliau tidak berfoya-foya lagi. Beliau tidak memiliki harta yang ditinggalkan, sampai-sampai ketika beliau wafat para sahabatnya terpaksa menghutang untuk mengurus pemakamannya.

Ketiga, memiliki jiwa egaliter terhadap rakyat dan pelayannya. Kedekatannya kepada para pelayan istana, kesabarannya menghadapi keluh kesah rakyat adalah yang membuat rakyat sangat mencintainya. Pernah suatu ketika beliau benar-benar kelelahan dan ingin tidur ada seorang rakyat yang mengajukan tuntutan. Sang tamu memaksa sang sultan untuk menandatangani sebuah surat. Karena capek, beliau meminta suratnya ditinggal dan nanti akan ditandatangani. Bukannya pergi malah suratnya langsung disodorkan di depan mata sang sultan yang sedang terbaring. Akhirnya beliau meluluskan keinginan sang tamu, juga agar bisa beristirahat. Sikap inilah yang membuat banyak orang setia terhadap beliau, khususnya para prajurit terbaik yang memiliki semangat jihad tinggi. Sehingga dengan dukungan mereka, dan para emir yang telah mendapatkan bayaran yang pantas itu pasukan pembebas Yerusalem menjadi sangat kuat.

Keempat, beliau itu sangat teguh memegang janjinya. Tidak pernah ada ceritanya pengkhianatan yang dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi selama masa perang, bahkan terhadap lawan-lawannya yang non-muslim. Ketika beliau berjanji memberi jaminan keamanan pasca penaklukan kota, maka jaminan itu berlaku untuk siapa pun di dalam kota itu. Makanya tidak mengherankan setiap penaklukan tidak ada aksi penjarahan dan pembantaian terhadap penduduk oleh tentaranya. Kondisi inilah yang selalu menjadi ciri khas pembebasan yang dilakukan sang sultan.

Tak heran jika keberhasilan yang besar ini mengundang kecerdikaan Isaakios, Kaisar Byzantium yang menjadi sekutu Shalahuddin selama pembebasan Yerusalem untuk menghasutnya secara halus menjadi sultan yang memisahkan diri dari kekhilafahan Islam dan menganugerahkan mahkota di bawah koordinasi Byzantium. Apa jawaban Shalahuddin, dengan lembut beliau memilih agar masjid boleh berdiri di dalam tembok Konstantinopel dan nama Khalifah Abasyiyah disebut setiap doa di akhir khutbah Jumat.

Beliau telah berjanji untuk menjadi pembebas Yerusalem dan mengembalikannya ke tangan kaum muslimin, bukan untuk merebut tahta kekhalifahan Islam apalagi berkhianat dan menyempal dari bagian kekuasaan Islam. Padahal hal itu tidaklah sulit baginya yang telah menguasai daerah-daerah yang melingkari Yerusalem (termasuk Yerusalem sendiri), Mesir, pantai Utara dan Barat Afrika, Ethiopia, dan Yaman. Ini jauh lebih luas dan pasukannya lebih besar dari pada yang dimiliki oleh khalifah di Baghdad. Tapi sekali lagi, Shalahuddin tetaplah Shalahuddin, sang pembebas kota suci.

bersambung

Kategori
Resensi Buku

Salahuddin al-Ayyubi: Ksatria yang Agung #2

SaladinAwal yang Tak Dikenal

Ceritanya aku baru saja menyelesaikan buku “Saladin Pahlawan Islam“ karya Geoffrey Hindley, salah seorang sejarawan dari Inggris. Menurutku buku ini cukup obyektif, karena ditulis oleh sejarawan barat yang menjadikan tulisan Bahauddin dan Ibnu al-Atsir sebagai sumber data primer atas tulisannya yang cukup panjang ini. Ini adalah referensi yang kesekian kalinya yang pernah membahas banyak tentang riwayat sang penguasa yang membebaskan Yerusalem untuk kedua kalinya bagi umat Islam setelah dulu dibebaskan oleh Amr bin Ash di masa Khalifah Umar bin Khattab. Maka usai menamatkan buku ini aku berniat menulis tentangnya sebagai penghormatanku untuk sultan yang telah berjasa ini, tidak hanya bagi kaum muslimin tetapi bagi terwujudnya kedamaian kota suci tiga agama ini untuk para peziarah setelah sebelumnya dikuasai bangsa Frank.

Siapakah Shalahuddin al-Ayyubi ini? Shalahuddin Yusuf bin Ayyub, begitulah namanya adalah seorang yang awalnya tidak pernah dikenal, berdarah Kurdi yang bagi orang-orang Turki tidak diperhitungkan ketika itu kalau saja bukan karena Islam yang memuliakannya. Waktu kelahirannya tak diketahui (maklum bukan putra sang Sultan). Ayahnya Ayyub adalah orang yang beruntung karena diangkat menjadi komandan tertinggi pasukan di wilayah Baghdad. Karena saat itu Bihruz, Gubernur Baghdad dan penguasa Aleppo, Imaduddin Zengi bermusuhan, maka tindakan Ayyub yang memberi bantuan kepada Zengi waktu terdesak dinilai sebagai pengkhianatan oleh tuannya yang akibatnya sudah jelas, pemecatan.

Dari sinilah Ayyub dan keluarganya kemudian mengabdi kepada penguasa Aleppo Imaddudin Zengi yang berdarah Turki, pasca lemahnya dinasti Saljuk yang sebelumnya dikenal sebagai Raja Barat dan Timur karena diberi kewenangan tertinggi oleh Khalifah di Baghdad sebagai pemegang supremasi kekuasaan dan pertahanan. Dan beberapa sumber baik sejarawan muslim maupun sejarawan barat mengatakan pada masa mudanya beliau lebih banyak menjalani hidup seperti halnya para pangeran dan ksatria di istana (ini karena jasa ayahnya yang besar kepada sang penguasa). Sampai akhirnya Allah membimbingnya menjadi ksatria besar yang kematiannya ditangisi seluruh penduduk di damaskus dan wilayah lainnya ketika pada masa itu sangat jarang penduduk menangisi kepergian para pemimpinnya.

Jadi singkat cerita beliau pun pernah menjalani masa muda yang banyak ”bersenang-senang”, tak berbeda dengan kebanyakan para pangeran dan para pembesar wilayah muslim pada waktu itu (dan mungkin itulah sumber kelemahan kaum muslimin hingga akhirnya bangsa Frank berhasil menguasai Yerusalem pada gelombang perang Salib ke. Sampai kemudian beliau bersama pamannya Syirkuh mendapat tugas dari Nuruddin (penerus Zengi) untuk menaklukkan Mesir yang saat itu dikuasai oleh rezim Syiah Fathimiyah, dan disinilah perubahan kehidupan dan penempaan yang Allah berikan untuknya hingga akhirnya Dia memilih Shalahuddin sebagai generasi kedua pembebas kota suci itu.

Di sini perlu aku sampaikan, khususnya jika yang membaca adalah teman-teman non muslim bahwasanya Syiah itu bukanlah bagian dari aliran Islam yang lurus (karena dibukunya Geoffrey juga muncul istilah Islam Sunni dan Islam Syiah). Tidak ada Islam Sunni dan Islam Syiah. Karena yang ber-Islam dengan benar pastilah dia seorang Sunni (yang mengikuti sunnah dan petunjuk Nabi Muhammad), sedangkan golongan Syiah adalah yang mengkafirkan para sahabat Nabi dan mencela para khalifah setelahnya karena mereka menganggapnya sebagai perebut kekuasaan pascakematian nabi dari menantu dan putrinya, Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Dan terkadang dalam sekte-sekte mereka terdapat berbagai kesesatan mulai dari yang kelasnya ringan sampai yang sangat sesat (makanya masalah kerusuhan yang diberitakan media sebagai “konflik sesama umat Islam“ di Indonesia, karena ketidaktegasan pemerintah termasuk Depag yang mengurusi umat Islam tentang status Syiah, Ahmadiyah, dan berbagai aliran-aliran yang menyimpang sebagai ajaran di luar Islam yang shahih).

bersambung