Kategori
Refleksi

Inspirasi dari Rumah Bengawan

Sejak aku mengenal mas Hendri, aku banyak mendapat suntikan motivasi besar bagaimana menjalani kehidupan sebagai pemuda dengan penuh percaya diri. Blogger ternama itu memberikan banyak inspirasi bagi hidupku tentang arti jati diri dan keberanian akan sebuah pilihan hidup. Dalam hal ini bukan berarti aku harus menapaki jejaknya sebagai seorang blogger seperti beliau. Meskipun sejak SMA aku sama-sama menyukai dunia IT, tapi pola pikir dan kesukaan kami jelas berbeda. Tapi pesan tersirat dari perilakunya memberi nasihat kepadaku agar selalu berani mengambil pilihan.

Dengan kebaikannya pula lah, aku kini bisa sering bergabung di Rumah Bengawan, tempat berkumpulnya para blogger hingga difabel. Rumah itu tak banyak diketahui kecuali mereka-mereka yang memang punya passion untuk belajar. Dari belajar IT hingga hal-hal yang bersifat sosial. Aku akhirnya tahu dunia difabel dan bagaimana mereka berjuang bertahan untuk tetap menjadi bagian dari manusia yang terhormat tanpa harus minta dikasihani.

Salah satu hal yang aku banyak belajar dari beliau adalah tentang rasa percaya diri sebagai orang Indonesia dan bagaimana memandang seseorang dengan obyektif. Aku sempat heran sekaligus kagum ketika mendengarkan sebuah pertemuan panitia yang membahas sebuah konferensi blogger tingkat regional. Sebuah argumentasi dia sampaikan bahwa internasionalisme itu tidak harus identik dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang bahasa Internasional, tetapi jika ada pertemuan di tanah air apakah kita harus selalu repot dengan ber-Inggris ria dalam semua hal. Apakah tidak bisa kita memberi kesempatan orang-orang kita yang pandai menerjemahkan bahasa mendampingi para orang asing itu sehingga mereka bisa mengenal bahasa kita.

Aku juga mendapatkan banyak masukan tentang orang-orang yang selama ini terlihat sempurna di mataku karena memang kebodohan cara pandangku yang belum bisa kritis menilai seseorang meskipun dalam sikap kita tidak boleh lancang dan tidak sopan. Tetapi sepertinya kaidah berimbang dalam memuji dan mengkritik memang sangat penting, apalagi bagi seorang yang masih belajar banyak tentang hidup.

Sosok yang selalu memberikan nasihat padaku agar membuat konten terbaik. Dalam dunia web, beliau selalu bilang bahwa sekarang sebenarnya sudah bukan lagi era SEO (meski sejujurnya aku masih menjadi bagian dari pencari keuntungan dari SEO tersebut dan memang bukan masalah bagiku). Beliau menekankan agar saat ini aku selalu berpikir bagaimana membuat web dengan konten yang bagus dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan pesan yang selalu kupengang dari perkataan beliau, “Ketika orang-orang sibuk mengungkap hal yang buruk-buruk tentang Indonesia, aku akan tetap menulis yang baik-baik tentang Indonesia“.

Rumah itu akan terus menginspirasiku hingga kini. Aku bisa belajar banyak hal tentang realita yang mungkin jarang kutemui di dunia kampus. Tentang orang-orang yang selalu optimis menjalani hidup meski Allah telah mengurangi sebagian nikmat hidup mereka yang terlihat dari manusia biasa, dan bisa jadi Allah menggantinya dengan kenikmatan yang lain. Kedamaian hidup mereka dalam keterbatasan membuatku terus merasa malu.

Aku bisa belajar dari seorang atlet paragames, belajar dari pelukis difabel, belajar dari banyak orang yang secara fisik tak sesempurna diriku namun mereka menunjukkan optimisme yang lebih baik dari pada diriku.

Kategori
Misi Perubahan

Era Konten

Ketika aku belajar web pada seorang master yang udah lama menekuni dunia blogging dan peranakannya, aku mendapatkan sebuah paradigma baru tentang trend yang berkembang. Beberapa tahun silam orang-orang sangat gencar menggunakan kata kunci tertentu dalam membuat blog mereka. Apalagi saat algoritma google belum bisa mengidentifikasi blog-blog yang AGC atau yang lebih parah dari itu.

Dari beliau aku kemudian dikasih tahu bahwa hari ini mari kita tinggalkan trend untuk ngejar kunjungan tinggi di web kita, entah isinya kayak gimana. Mari sekarang kita mulai trend baru dengan menampilkan yang kreatif dan menawarkan sesuatu yang baru (inovasi). Sekarang kita telah memasuki era konten. Dunia pencarian kata kunci di web hendaknya bukan menjadi ajang membully pengguna internet yang semakin banyak ini.

Dulu beliau bercerita bagaimana webnya juga sering diisi dengan trend yang terbaru. Cocok sih, karena beliau penyuka dunia aplikasi dan web dan itu merupakan keyword yang paling laris jadi postingan-postingan beliau laris dikunjungi. Meskipun terkadang katanya juga pernah membully pembacanya juga atau terkadang malah menggunakan robot untuk menaikkan trafik pengunjung secara otomatis. Kini beliau fokus bagaimana menulis sesuatu di blog itu benar-benar sebuah konten yang bagus.

Awalnya aku juga berpikir untuk melakukan hal yang sama demi mengejar angka kunjungan. Namun kemudian kupikirkan ulang, mau jadi apa webku nanti. Kesukaanku adalah pada hal-hal yang kebanyakan orang yang tidak suka. Kalau aku membully pembaca, pengunjung webku jadi tidal loyal. Jika pakai robot, kelihatan ga berkarakter banget. Akhirnya kuputuskan untuk menulis apa yang ideal dalam pikiranku. Kesimpulannya web pribadiku akan terus berisi tulisan-tulisan yang memang keluar dari suasana kehidupanku, bukan sebuah rekayasa untuk mencari kunjungan semata.

Ibrahnya adalah saat ini kita sedang berbicara konten. Dalam kepemimpinan, bisa saja calon-calon pemimpin itu sekarang terkenal karena blow up media, tapi yang tidak siap dengan konten siap-siap aja dihujat rakyat suatu saat. Pemimpin yang tidak punya konten kepemimpinan yang memadai adalah calon perusak yang lebih merusak dari pada para penjahat. Penjahat yang berikrar penjahat lebih terhormat karena ia akan melawan pemimpin yang baik. Tapi ketika pemimpin itu merusak dia lebih bobrok dari penjahat karena dia sudah kalah dengan dirinya sendiri.

Era konten hari ini nyata, bukan pada web saja, tapi eranya kita tunjukkan siapa kita, untuk apa kita, apa kontribusi nyata kita. Tanpa itu, apa artinya kita ada.