Kategori
Refleksi

Malu Pada Sang Pembuat Kaligrafi

Rumah bengawan tetap menginspirasi. Deru optimisme yang selalu tumbuh saat melihat saudara-saudara yang mengalami disabilitas karena Allah sedikit memberi cobaan mereka dengan ketidaksempurnaan fisik mereka di mata manusia. Mereka tetap tersenyum dan tetap bersemangat menjalani hidup mengalahkan semangat kita. Mereka bahkan mampu bertahan hidup dengan bekerja sendiri tanpa meminta-minta belas kasih orang lain.

Adalah sang pembuat kaligrafi. Beliau tidak memiliki tangan sempurna seperti halnya kita yang mudah sekali menggerakkan lentik jemari namun terkadang sombong dan terkadang menjadi pemalas. Jelas menjadi sesuatu yang menarik perhatianku untuk melihat bagaimana beliau membuat kaligrafi hari ini. Dengan pasir dan lem, tangannya yang mungil dan seolah tak bertulang memainkan sendok untuk membuat pasir merekat sesuai dengan blat pensil yang telah dia buat sebelumnya. Aku membayangkan untuk memegang sendok saja sulitnya seperti itu, apalagi ketika menuliskan tadi. #Plakkkkk! Malu, sumpah, malu jika hari ini aku masih dodol dan ga produktif sama sekali.

Beliau melayani pesanan aneka kaligrafi hias khususnya nama anak yang sering dipesan orang tua yang baru saja kehadiran buah hatinya yang baru. Dan inilah ternyata yang menghidupi beliau ketika menjalani kehidupan sebagai seorang difabel. Aku salut, sekaligus malu pada diri sendiri yang hingga hari ini masih berusaha mandiri agar bisa mewujudkan berbagai obsesi kemandirian hidup ke depan.

Aku semakin yakin bagaimana Allah benar-benar menjalin kehidupan hamba-Nya. Jika orang-orang seperti beliau saja dapat hidup dengan baik sampai hari ini, apalagi yang normal-normal sepertku ini. Ah, sangat rugi sekali ketika kesempurnaan fisik ini tidak menghadirkan berbagai kemanfaatan kepada orang lain, bahkan untuk sekedar berbagi inspirasi agar membangkitkan semangat kebersamaan kita.

Sang pembuat kaligrafi itu membuatku malu pada diriku sendiri. Dan lebih malu lagi kepada yang memberiku kesempurnaan fisik hari ini. Malu ……!

Kategori
Refleksi

Inspirasi dari Rumah Bengawan

Sejak aku mengenal mas Hendri, aku banyak mendapat suntikan motivasi besar bagaimana menjalani kehidupan sebagai pemuda dengan penuh percaya diri. Blogger ternama itu memberikan banyak inspirasi bagi hidupku tentang arti jati diri dan keberanian akan sebuah pilihan hidup. Dalam hal ini bukan berarti aku harus menapaki jejaknya sebagai seorang blogger seperti beliau. Meskipun sejak SMA aku sama-sama menyukai dunia IT, tapi pola pikir dan kesukaan kami jelas berbeda. Tapi pesan tersirat dari perilakunya memberi nasihat kepadaku agar selalu berani mengambil pilihan.

Dengan kebaikannya pula lah, aku kini bisa sering bergabung di Rumah Bengawan, tempat berkumpulnya para blogger hingga difabel. Rumah itu tak banyak diketahui kecuali mereka-mereka yang memang punya passion untuk belajar. Dari belajar IT hingga hal-hal yang bersifat sosial. Aku akhirnya tahu dunia difabel dan bagaimana mereka berjuang bertahan untuk tetap menjadi bagian dari manusia yang terhormat tanpa harus minta dikasihani.

Salah satu hal yang aku banyak belajar dari beliau adalah tentang rasa percaya diri sebagai orang Indonesia dan bagaimana memandang seseorang dengan obyektif. Aku sempat heran sekaligus kagum ketika mendengarkan sebuah pertemuan panitia yang membahas sebuah konferensi blogger tingkat regional. Sebuah argumentasi dia sampaikan bahwa internasionalisme itu tidak harus identik dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang bahasa Internasional, tetapi jika ada pertemuan di tanah air apakah kita harus selalu repot dengan ber-Inggris ria dalam semua hal. Apakah tidak bisa kita memberi kesempatan orang-orang kita yang pandai menerjemahkan bahasa mendampingi para orang asing itu sehingga mereka bisa mengenal bahasa kita.

Aku juga mendapatkan banyak masukan tentang orang-orang yang selama ini terlihat sempurna di mataku karena memang kebodohan cara pandangku yang belum bisa kritis menilai seseorang meskipun dalam sikap kita tidak boleh lancang dan tidak sopan. Tetapi sepertinya kaidah berimbang dalam memuji dan mengkritik memang sangat penting, apalagi bagi seorang yang masih belajar banyak tentang hidup.

Sosok yang selalu memberikan nasihat padaku agar membuat konten terbaik. Dalam dunia web, beliau selalu bilang bahwa sekarang sebenarnya sudah bukan lagi era SEO (meski sejujurnya aku masih menjadi bagian dari pencari keuntungan dari SEO tersebut dan memang bukan masalah bagiku). Beliau menekankan agar saat ini aku selalu berpikir bagaimana membuat web dengan konten yang bagus dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan pesan yang selalu kupengang dari perkataan beliau, “Ketika orang-orang sibuk mengungkap hal yang buruk-buruk tentang Indonesia, aku akan tetap menulis yang baik-baik tentang Indonesia“.

Rumah itu akan terus menginspirasiku hingga kini. Aku bisa belajar banyak hal tentang realita yang mungkin jarang kutemui di dunia kampus. Tentang orang-orang yang selalu optimis menjalani hidup meski Allah telah mengurangi sebagian nikmat hidup mereka yang terlihat dari manusia biasa, dan bisa jadi Allah menggantinya dengan kenikmatan yang lain. Kedamaian hidup mereka dalam keterbatasan membuatku terus merasa malu.

Aku bisa belajar dari seorang atlet paragames, belajar dari pelukis difabel, belajar dari banyak orang yang secara fisik tak sesempurna diriku namun mereka menunjukkan optimisme yang lebih baik dari pada diriku.