Kategori
Cinta

Four Queens for Kartini’s Day #3

Kesimpulannya, wanita-wanita yang agung tersebut itu telah mewariskan inspirasi yang berabad-abad lamanya. Dalam bentuknya masing-masing di tiap zaman, wanita-wanita yang mendapatkan titisan sifat ini (maaf ini bukan seperti bahasan titisan Dewa lho ya) dia akan melahirkan ulama-ulama luar biasa di kemudian hari. Seperti bundanya Imam Syafii, bundanya Imam Bukhari, bundanya imam-imam yang lainnya.

Jadi aku lebih setuju bahwa emansipasi wanita itu adalah tentang hak mendapatkan pendidikan dan optimalisasi peran kaum wanita seperti apa yang Allah takdirkan kepadanya. Wanita punya tempat mulia sendiri sesuai pada tugasnya masing-masing. Dari kisah-kisah di atas kita bisa memahami bahwa seorang istri itu bukan 3M (macak, masak, manak = berdandan, memasak untuk suami, dan memberikan keturunan).

Setahuku Kartini hanya menuntut hal itu terjadi ketika di zaman itu pendidikan hanya diberikan kepada kaum pria. Setahuku Kartini, yang juga muridnya kyai Sholeh Darat tidak pernah mengatakan seperti apa yang sering diperjuangkan kaum feminism hari ini tentang persamaan gender dalam konteks praktis yang justru merubah tatanan hidup masyarakat timur menjadi radikal dan tidak harmonis.

Wahai saudariku, ini sekedar hadiah kecil untuk kalian yang sedang merayakan hari kemerdekaan kaum wanita. Semoga kemerdekaan kalian tak mengurangi cita rasa kewanitaan dan keibuan kalian di masa nanti. Kita pernah punya sejarah tentang wanita yang namanya menyejarah. Ia ada, ia nyata, pernah hidup dan hingga kini inspirasinya masih ada. Dan itulah yang kuharap ada pada belahan jiwaku nanti.

Sebagai penutup tulisan ini ada sebuah syair yang cukup syahdu tentang “Wanita” yang dipopulerkan oleh munsyid dari negeri Jiran “DHearty”

Kau digelar sebagai penyeri dunia

Hadirmu melengkap hubungan manusia

Bukan sahaja dirindui yang biasa

Malah Adama turut sunyi tanpa Hawa

 

Akalmu senipis bilahan rambut

Tebalkanlah ia dengan limpahan ilmu

Jua hatimu bak kaca yang rapuh

Kuatkanlah ia dengan iman yang teguh

 

Tercipta engkau dari rusuk lelaki

Bukan dari kaki untuk dialasi

Bukan dari kepala untuk dijunjung

Tapi dekat dibahu untuk dilindung

Dekat jua di hati untuk dikasihi

Engkaulah wanita hiasan duniawi

 

Mana mungkin lahirnya bayangan yang lurus elok

Jika datangnya dari kayu yang bengkok

Begitulah peribadi yang dibentuk

 

Didiklah wanita dengan keimanan

Bukannya harta ataupun pujian

Kelak tidak derita berharap pada yang binasa

 

Engkaulah wanita istimewa

 

Sedarilah insan istimewa

Bahawa kelembutan bukan kelemahan

Bukan jua penghinaan dari Tuhan

Bahkan sebagai hiasan kecantikan

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=-DJU4XK0qCI]
Kategori
Cinta

Four Queens for Kartini’s Day #2

Khadijah sang Istri Setia

Bercerita tentang ibunda Khadijah radhiyallahu anha ini seperti nostalgianya Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam di masa-masa awal dakwah Islam. Ketika itu salah satu istrinya, Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha merasa cemburu akibat sering disebutnya Khadijah hingga dia melontarkan sebuah kata yang tidak seharusnya diucapkan untuk Khadijah, akhirnya Rasulullah marah dan menjelaskan keutamaan Khadijah atas istri-istri Rasulullah yang lain. Apakah keistimewaannya?

Beliaulah orang pertama yang menjadi pendamping setia Rasulullah di permulaan dakwah Islam. Disaat masyarakat mengusirnya, dialah yang membesarkan hatinya dan selalu mendampinginya. Hartanya yang kaya akhirnya terus dibelanjakan demi dakwah Rasulullah. Dia amat pengasih dan penyayang kepada anak-anaknya. Istri yang paling banyak memberikan keturunan bagi Rasulullah, termasuk sang putri Fathimah Az-Zahra. Bicara kesetiaan pada sang suami, maka Khadijahlah contoh yang semestinya menjadi inspirasi para muslimah hari ini. There is no one better than her.

Maka tak heran ketika Rasulullah sampai bersabda “Tidaklah Allah mengganti untukku (istri) yang lebih baik darinya (Khadijah). Dia beriman kepadaku saat orang-orang kufur. Dia mempercayaiku saat orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku saat orang-orang mengharamkan harta untukku. Dan dia memberikan aku anak saat Allah tidak memberikan anak dari istri-istriku yang lain”. Inilah potret serikandi Islam pada permulaan Rasulullah memulai dakwah ini. Sabar, setia dan sangat gigih. #ternyata ada dan ternyata bisa

Fathimah az-Zahra sang Pemilik Lautan Kesabaran

Mungkin selama ini tak banyak orang yang mengenal bahwa putri Rasulullah yang sangat mulai ini hidup dalam kekurangan harta. Bahkan dalam kisah pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tak semulus pernikahan di era hari ini. Karena keluarga nabi seyogyanya tidak menerima hadiah, apalagi sedekah dan zakat dari umatnya (harta yang berhak dimakan nabi selain dari kerja kerasnya sendiri, adalah harta rampasan perang, berdasarkan ketentuan Allah dalam al-Quran), maka pernikahan Ali dan Fathimah akan menjadi kisah nyata bagaimana mereka membangun keluarga dari titik negatif, bukan lagi nol.

Maaf ini juga sekaligus sindiran bagi keluarga-keluarga yang masih hidup hari ini dan mengklaim sebagai ahlul bait (keturunan Rasulullah) tapi kemudian masih terbiasa menerima infaq dan diagung-agungkan layaknya manusia yang lebih tinggi derajatnya dari manusia yang bukan keturunan Rasulullah. Maka kita tidak selayaknya memperlakukan orang berbeda-beda berdasarkan nasab (keturunan) atau kemewahan yang dimilikinya. Tetapi dari keimanan dan kecintaan mereka pada agamanya.

Ketika keduanya menikah, maka banyak hadiah yang diterima oleh kedua mempelai itu. Sampai suatu ketika Rasulullah mengunjungi keduanya di sebuah rumah. Rasulullah terheran dengan kecukupan keluarga ini karena Ali bukanlah saudagar, dia adalah pemuda ahli ilmu yang tak berharta. Setelah diinvestigasi (bahasanya keren euy) dan diketahui itu barang-barang hadiah maka Rasulullah mengingatkan Ali tentang hukum keluarga Rasulullah sehingga semua barang-barang itu dikembalikan kepada pemberinya. Bahkan rumah yang ditempatinya pun hampir saja dikembalikan. Namun demi menjaga izzah (kehormatan) Ali, maka Rasulullah menyatakan rumah itu sebagai hutang yang harus dilunasi. Nah itulah kiranya bagaimana Rasulullah mendidik keluarganya agar tidak bisa menerima apa-apa yang memang sebenarnya bukan haknya.

Nah, satu penggal kisah ini kiranya kita bisa membayangkan bagaimana kesabaran sang Putri dari manusia yang paling mulia di muka bumi ini menjalani hari-harinya. Maka tidak mengherankan ketika dalam kesehariannya, terkadang dapur Ali dan Fathimah ini tidak mengepul. Kesabaran Fathimah mendampingi Ali ini menjadi bukti kesetiaan seorang istri pada pemuda yang berilmu. Jika Fathimah memiliki lautan kesabaran, maka Ali bin Abi Thalib adalah lautan ilmu (bahrul ulum). Inilah prototipe wanita yang mulia dalam keterbatasan harta namun tetap dapat menjadi istri yang selalu meneguhkan suaminya. #ternyata ada dan ternyata bisa

…… bersambung

Kategori
Cinta

Four Queens for Kartini’s Day #1

Katanya hari ini Hari Kartini, kata kalender begitu, kata yang lain-lain juga begitu. Akhirnya aku juga ikut aja deh berkata iya. Ini hari Kartini, soalnya katanya dulu Raden Ajeng Kartini dilahirkan pada tanggal dan bulan yang sama dengan tanggal dan bulan belasan dekade yang lalu. Tapi aku tidak akan menuliskan Kartini dalam sudut pandang yang sering orang-orang tuliskan.

Yang aku tahu dia adalah pejuang keadilan untuk kaum wanita di Indonesia, bukan feminis yang selalu merongrong terwujudkan kesetaraan gender. Dia hanya menuntut keadilan dalam pendidikan dan peran kaum wanita dalam pembangunan kualitas ibu Indonesia, bukan menjadi pegiat feminisme apalagi femen yang hobi berpose ria tanpa busana di depan umum.

Maka untuk hari Kartini ini, aku persembahkan empat ratu yang memukauku dalam sejarah hingga hari ini. Empat wanita yang menyejarah karena keagungan dan kemuliaan yang dimiliki. Empat wanita yang kuharapkan diwarisi oleh istriku kelak, entah seperseribu atau sepersejutanya, yang penting ada titisan yang melekat pada dirinya nanti. Siapakah mereka? Merekalah 4 ratu yang luar biasa : Asiyah sang Isteri Firaun, Maryam sang Ibunda Isa, Khadijah sang Istri Setia, Fathimah Az-Zahra sang Pemilik Lautan Kesabaran. Sebenarnya masih banyak juga kisah yang memukau dari para wanita yang pernah menyejarah, namun karena hari ini spesial, maka aku tulis saja yang paling membuatku spesial.

Asiyah sang Isteri Firaun

Kita semua tahu bagaimana raja yang berkuasa di negeri Mesir itu terkenal sangat kejam. Firaun (Paraoh) sebenarnya adalah gelar raja terbesar di Mesir, hanya saja yang disebut dalam al-Quran ini adalah raja kejam yang pernah berkuasa bersamaan dengan masa hidup nabi Musa alayhissalam. Asiyah lah sang Isteri yang selalu setia mendampingi sang suami durjana ini. Meski demikian ia tetap dalam keimanannya kepada Allah. Dialah yang kemudian berhasil membawa Musa ke istana setelah ditemukan terhanyut dalam sebuah peti di sungai (karena dihanyutkan ibunya sesuai dengan perintah Allah).

Asiyah lah yang meyakinkan Firaun untuk memelihara sang anak yang kelak akan menjadi penentang terbesarnya di kemudian hari. Singkat cerita suatu ketika Firaun mengetahui keimanan Asiyah dan dia memaksanya agar mengakui suami yang kejam itu sebagai tuhan. Asiyah menolak tunduk dan akhirnya dia disiksa. Hingga akhirnya Asiyah berdoa kepada Allah agar dibangunkan istana di Syurga. Inilah doa yang indah itu “Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” (QS. At-Tahrim [66] : 11). Dan karena siksaan Firaun itu, Asiyah akhirnya menghadap ke haribaan Yang Maha Tinggi. Inilah potret wanita pejuang yang tetap bisa bertahan keimanannya dalam lingkungan penuh kemungkaran. #ternyata ada dan ternyata bisa

Maryam Sang Ibunda Isa

Tentang Maryam, tentu di sini akan timbul perbedaan antara kami dan kaum Nashrani. Dalam konteks ini aku memilih untuk membahasnya dari sisi dia sebagai seorang wanita yang taat dan berkhidmat pada Baitul Maqdis. Sejak kecil dia sudah yatim piatu hingga dia hidup dalam asuhan sang Paman, Zakaria alayhisalam. Seperti nazar ibunya sebelum meninggal, maka anak ini kelak akan menjadi pelayan Baitul Maqdis yang akan menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Itulah kemudian dia dikenal sebagai “Perawan Suci“, baik kaum muslimin maupun nashrani pasti sepakat dengan sebutan itu. Karena dekatnya dengan Allah, dia bahkan bisa mendapatkan hidangan yang turun langsung dari sisi Allah, demikian terang ayat al-Quran dalam Surah Maryam.

Dalam al-Quran dijelaskan Allah hendak menunjukkan kuasa-Nya kepada manusia. Di dalam ketaatan Maryam yang luar biasa itu, maka Dia mengutus malaikat Jibril (Ruhul Quds) untuk menyampaikan berita bahwa Allah akan menjadikan Isa alayhisalam  sebagai rasul dan kalimat-Nya yang akan memberikan pencerahan bagi Bani Israil. Maryam yang terkejut ketika melihat kehadiran Ruhul Quds hanya bisa berdoa kepada Allah dan akhirnya mukjizat Allah itu terjadi. Maryam mengandung seorang anak yang kelak akan menjadi pembawa ajaran Tuhan. Meskipun dicela kaumnya dan dituduh pezina, dia tetap bertahan hingga akhirnya Allah memberikan keputusan-Nya. Inilah potret wanita yang sangat shalihah dan dekat dengan rabb-nya. #ternyata ada dan ternyata bisa

…… bersambung