Khadijah sang Istri Setia

Bercerita tentang ibunda Khadijah radhiyallahu anha ini seperti nostalgianya Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam di masa-masa awal dakwah Islam. Ketika itu salah satu istrinya, Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha merasa cemburu akibat sering disebutnya Khadijah hingga dia melontarkan sebuah kata yang tidak seharusnya diucapkan untuk Khadijah, akhirnya Rasulullah marah dan menjelaskan keutamaan Khadijah atas istri-istri Rasulullah yang lain. Apakah keistimewaannya?

Beliaulah orang pertama yang menjadi pendamping setia Rasulullah di permulaan dakwah Islam. Disaat masyarakat mengusirnya, dialah yang membesarkan hatinya dan selalu mendampinginya. Hartanya yang kaya akhirnya terus dibelanjakan demi dakwah Rasulullah. Dia amat pengasih dan penyayang kepada anak-anaknya. Istri yang paling banyak memberikan keturunan bagi Rasulullah, termasuk sang putri Fathimah Az-Zahra. Bicara kesetiaan pada sang suami, maka Khadijahlah contoh yang semestinya menjadi inspirasi para muslimah hari ini. There is no one better than her.

Maka tak heran ketika Rasulullah sampai bersabda “Tidaklah Allah mengganti untukku (istri) yang lebih baik darinya (Khadijah). Dia beriman kepadaku saat orang-orang kufur. Dia mempercayaiku saat orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku saat orang-orang mengharamkan harta untukku. Dan dia memberikan aku anak saat Allah tidak memberikan anak dari istri-istriku yang lain”. Inilah potret serikandi Islam pada permulaan Rasulullah memulai dakwah ini. Sabar, setia dan sangat gigih. #ternyata ada dan ternyata bisa

Fathimah az-Zahra sang Pemilik Lautan Kesabaran

Mungkin selama ini tak banyak orang yang mengenal bahwa putri Rasulullah yang sangat mulai ini hidup dalam kekurangan harta. Bahkan dalam kisah pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu tak semulus pernikahan di era hari ini. Karena keluarga nabi seyogyanya tidak menerima hadiah, apalagi sedekah dan zakat dari umatnya (harta yang berhak dimakan nabi selain dari kerja kerasnya sendiri, adalah harta rampasan perang, berdasarkan ketentuan Allah dalam al-Quran), maka pernikahan Ali dan Fathimah akan menjadi kisah nyata bagaimana mereka membangun keluarga dari titik negatif, bukan lagi nol.

Maaf ini juga sekaligus sindiran bagi keluarga-keluarga yang masih hidup hari ini dan mengklaim sebagai ahlul bait (keturunan Rasulullah) tapi kemudian masih terbiasa menerima infaq dan diagung-agungkan layaknya manusia yang lebih tinggi derajatnya dari manusia yang bukan keturunan Rasulullah. Maka kita tidak selayaknya memperlakukan orang berbeda-beda berdasarkan nasab (keturunan) atau kemewahan yang dimilikinya. Tetapi dari keimanan dan kecintaan mereka pada agamanya.

Ketika keduanya menikah, maka banyak hadiah yang diterima oleh kedua mempelai itu. Sampai suatu ketika Rasulullah mengunjungi keduanya di sebuah rumah. Rasulullah terheran dengan kecukupan keluarga ini karena Ali bukanlah saudagar, dia adalah pemuda ahli ilmu yang tak berharta. Setelah diinvestigasi (bahasanya keren euy) dan diketahui itu barang-barang hadiah maka Rasulullah mengingatkan Ali tentang hukum keluarga Rasulullah sehingga semua barang-barang itu dikembalikan kepada pemberinya. Bahkan rumah yang ditempatinya pun hampir saja dikembalikan. Namun demi menjaga izzah (kehormatan) Ali, maka Rasulullah menyatakan rumah itu sebagai hutang yang harus dilunasi. Nah itulah kiranya bagaimana Rasulullah mendidik keluarganya agar tidak bisa menerima apa-apa yang memang sebenarnya bukan haknya.

Nah, satu penggal kisah ini kiranya kita bisa membayangkan bagaimana kesabaran sang Putri dari manusia yang paling mulia di muka bumi ini menjalani hari-harinya. Maka tidak mengherankan ketika dalam kesehariannya, terkadang dapur Ali dan Fathimah ini tidak mengepul. Kesabaran Fathimah mendampingi Ali ini menjadi bukti kesetiaan seorang istri pada pemuda yang berilmu. Jika Fathimah memiliki lautan kesabaran, maka Ali bin Abi Thalib adalah lautan ilmu (bahrul ulum). Inilah prototipe wanita yang mulia dalam keterbatasan harta namun tetap dapat menjadi istri yang selalu meneguhkan suaminya. #ternyata ada dan ternyata bisa

…… bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.