Kategori
Catatan Perjalanan

Ayah, Bunda, Adik, I Love You All

Pelukan bunda kemarin ketika sampai di rumah membuat rasa haru yang luar biasa. Aku bisa membayangkan bagaimana kangennya bunda karena tidak pernah bisa menelponku atau aku yang menelponnya seperti ketika di Solo. Aku juga masih ingat bagaimana beliau memelukku sambil menangis ketika aku dulu berpamitan akan ke Jerman. Hemm, sore kemarin aku merasakan kerinduan itu telah terobati.

Maka hari ini aku memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian di rumah. Pertama aku berkunjung ke rumah adiknya kakek yang habis operasi usus buntu. Kemudian dilanjutkan ke simbah buyut yang sakitnya kambuh. Hemm, di setiap kunjungan dan pembicaraan dengan para tetangga, rupanya ada isu yang lagi hot. Lagi-lagi sebuah kejadian yang membuatku harus mengelus dada. Tentang ambisi dan tindakan yang merugikan orang lain demi gengsi dan pamor. Aduh-aduh, ini negeri yang mau jadi apa jika orang yang tidak mampu tapi berlagak mampu, bergaya mewah hingga akhirnya menyengsarakan keluarga dan anak sendiri.

Mengapa aku jadi ikut mikir? Karena memang ini bagian dari masalah kami, orang yang dekat dengan keluarga kami. Dan aku kasihan melihat ibu yang juga ikut memikirkan beban itu. Sampai aku harus berulang kali mengingatkan beliau untuk tidak terbebani dengan urusan yang belum jelas akar permasalahannya ini. Inilah sambutan yang tidak mengenakkanku ketika sampai di rumah. Namun demikian, makan malam dan cengkerama aku dengan ayah, ibu dan adik dapat melupakan hal yang sangat tidak penting itu. Tingkah lucu adik perempuanku yang super cantik (mungkin akan secantik Reihan nantinya) membuat semua lelah perjalananku berlalu dengan cepat. Ayah, Bunda, adik, I love you.

Kategori
Misi Perubahan

Siap Menjadi Ayah yang Bertanggung Jawab

Terinspirasi dari salah satu blog teman yang membuat postingan seandainya dia memiliki anak, aku jadi tertarik juga untuk membuat postingan tentang persiapan-persiapan membangun keluarga di masa depan. Ini bukan tentang fiqih pernikahan yang seperti di tulis oleh para ustadz atau yang mereka sampaikan dalam kajian. Ini hanya ulasan ringan dan konyol tentang seorang pemuda yang tertarik dengan belajar agama.

Pada waktu liqoat tadi, kebetulan ini rapelan liqo setelah pekan kemarin adik-adik minta dispensasi dengan alasan tugas laporan praktikum dan Idul Adha akhirnya malam ini aku bisa meminta jam yang lama. Alhamdulillah, mereka enjoy semuanya dalam perbincangan yang seru malam ini. Perbincangan tentang rencana hidup ke depan dan tentang masalah-masalah pelik di kampus seputar studi, organisasi hingga kegalauan-kegalauan masalah lawan jenis.

Sesuai dengan judul postingannya maka yang akan kuulas adalah seputar kegalauan terhadap lawan jenis dan pilihan yang tepat. Ketika mendengar curhatan masing-masing mereka secara lengkap (rata-rata satu anak curhat hampir seperempat jam), maka muncul beberapa gagasan untuk berbagi.

Nah, terkait kegalauan terhadap lawan jenis, maka pesan yang bisa diambil adalah dari sebuah nasihat indah. Agar kita tidak berpikir untuk melakukan macam-macam apalagi tergiur dengan hal-hal indah sebelum dihalalkan, maka pikirkan bagaimana kita kelak memiliki anak dan mengasuhnya. Jika kita memang serius memikirkan itu, maka kita pasti mikir bagaimana harus menjadi calon ayah yang baik, memilihkan  ibu yang terbaik untuknya, dan tentunya memulai hubungan itu dengan cara yang paling baik. Jadi, keinginan untuk banyak bermain-main dan menghabiskan masa muda dengan hubungan-hubungan tidak jelas itu akan reda dan diganti dengan keseriusan belajar dan mengumpulkan pengalaman dan bekal hidup yang lebih baik.

Salah pemantik yang kemudian muncul adalah ulasan tentang kegiatan TPA di masjid. Karena aku dulu adalah orang yang pernah merasakan TPA hingga banyak bergelut di dunia per-TPA-an, refleksiku sementara hari ini adalah target TPA ke depan adalah menghapuskan TPA itu sendiri. Mengapa? Karena TPA itu sebenarnya madrasah diniyah dasar yang “terpaksa” harus berdiri karena banyak orang tua hari ini yang tidak dapat memenuhi kebutuhan putra-putrinya dalam mengenalkan Islam sejak dini. Maka untuk generasi muda hari ini yang sudah aktif dan mengerti Islam idealnya pada masanya nanti sudah tidak lagi menjadikan TPA sebagai pelarian tanggung jawab, tetapi berpikir bagaimana tiap rumah ke depan menciptakan TPA masing-masing karena ayah ibunya sudah kompeten dalam mengasuh dan mengenalkan Islam kepada anak-anaknya sejak dini.

Jadi pertanyaan berikutnya adalah seberapa seriuskah kita para pemuda yang telah aktiv di kajian-kajian dan lembaga dakwah kampus belajar mengenal agamanya? Jangan-jangan kita banyak beralasan dengan kesibukan amanah sehingga seiring bertambahnya tahun kemampuan dan kecakapan hidup kita tidak meningkat signifikan. Hanya gelar “kader” yang tersandang erat namun miskin kompetensi dan pengalaman. Kalau demikian, bagaimana kita akan menginspirasi pasangan hidup dan anak ke depan. Pengalaman dan perjuangan hidup sendiri saja minim, apalagi mau berbicara dakwah kepada masyarakat, wong untuk keluarga saja ilmunya belum cukup.

Dakwah adalah sebuah bahasa fitrah yang dimanifestasikan dalam hidup. Dakwah itu mengingatkan jiwa-jiwa yang terlupa pada fitrahnya. Dakwah itu serungan pengingatan. Dalil, hikmah dan semua hal yang diserukan hakikatnya adalah mengembalikan memori dan cita rasa fitrah yang sebenarnya sudah Allah tanamkan di setiap nurani manusia. Jika penyerunya tidak mengerti akan hal ini dan hanya menjalankan dakwah sebagai formalitas aktivitas, rasanya sulit melakukan perubahan untuk perbaikan umat.

Kesimpulan sementara dan pesan untuk diri dan adik-adik malam ini, mari belajar dan menyiapkan diri menjadi calon ayah yang bertanggung jawab. Tidak hanya memberi nafkah, tetapi menyematkan permata hidup yang terindah untuk pasangan dan buah hati. Cieeeeeeee

Kategori
Kilas Sejarah

Damen-Damen Pari-Pari, Biyen-Biyen Saiki-Saiki

Terpanar aku pada sentuhan keramatmu

Mengheret aku mentafsir memori silammu

Dulu ku ragu apa terbungkam dibenakmu

Kini ku tahu apa yang terbuku di hatimu

 

Surut dedarku pada usapan manteramu

Tunduk ungkalku pada ketegasan dirimu

Terpasak semangat pada keyakinan tekadmu

Keakuranku pada tunjuk dan titah arahanmu

Hemm, tak asing ngedengerin lagu itu. Ya itu lagunya Inteam yang bertajuk “Sentuhanmu”. Sebuah pengingat akan jasa ayah yang luar biasa (Lha ibunya kapan? Nanti lah ada waktunya). But, kali ini aku ga akan bercerita masalah-masalah bagaimana berbakti atau yang lain. Lagu itu sekedar untuk mengawali saja.

Masa-Masa Sulit

To the point aja ya, waktu buka sore aku asyik mengobrol dengan kakek dari ibu dan ayahku. Bermula dari obrolan masalah adikku cewek yang sedang rewel gara-gara flu, akhirnya aku bertanya tentang perjalanan kakek yang dulu menjadi mantri kesehatan untuk menangani penyakit malaria didaerahku. Maka tak heran kalo beliau lebih dikenal dengan Pak Malaria dari pada Pak Harto Rakimin. Ha ha

Hemm, jadilah beliau bercerita tentang perjuangan beliau di masa lalu bagaimana mulai dari sekolah di sekolah rakyat, kemudian berjuang terus hingga akhirnya bekerja sebagai mantri keliling di kawasan kecamatan Ngawen. Beliau bercerita bagaimana di masa kecil serba terbatas dan hanya makan seadanya. Karena masa itu memang sedang “larang pangan”. Banyak yang terkena busung lapar.

Aku kemudian teringat pada cerita beliau sebelum itu tentang masa-masa sulit waktu akhir masa perang kemerdekaan hingga ulah PKI yang benar-benar mencengkeramkan kekuasaannya. Sehingga di daerahku sampai sekarang pemahaman Islam masyarakatnya masih cenderung rendah. Kalo sampai satu dusun ada yang sadar sholat 5 waktu aja, itu udah sesuatu banget. Dah bikin sujud syukur. Dan Alhamdulillah kakekku udah terbiasa melakukan shalat, meski belum berjamaah. Ya Allah, jagalah ia dalam kebaikan sampai nanti saatnya Kau panggil kembali.

Tak mau kalah, ayah kemudian juga bercerita tentang perjuangannya agar bisa sekolah hingga akhirnya menjadi guru seperti sekarang. Seorang dari 7 bersaudara yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun mendapatkan pendidikan hidup yang luar biasa. Jika beliau lebih memilih berhenti sekolah karena malu sering ditagih pembayaran SPP-nya mungkin hari ini aku tidak pernah menjumpai sosok beliau yang menjadi penyemangat hidupku hingga kini. Dan tentu ayah tidak akan mampu menyunting ibu, gadis tercantik di dusunku ketika itu. Beliau bercerita tentang bagaimana Biyung Atmo (nenekku dari ayah) mengajari ayah untuk bersabar dan tekun sekolah. Demikian juga Pak Tuwek (kakek dari ayah) yang dengan kreatifnya mengolah beras yang hanya secemung dikombinasi dengan berbagai umbi-umbian yang masih tersebar banyak waktu itu dan sayur2an yang enak dimakan sehingga terhidanglah makanan yang mengenyangkan untuk keluarga. (maklum karena biyung itu bakulan hasil pertanian, jadi yang pintar memasak justru pak Tuwek). Dan berbekal ketahanan itulah akhirnya aku begitu kagum dengan ayahku yang berjiwa pejuang dan menjadikan profesinya ini sebagai panggilan jiwa. Duhai ayah engkau menjadi inspirator hidupku. Dan mungkin syair lagu tadi sebaiknya ku selesaikan di sini

Oh ayah,

Tak pernah ku tanya

Kemana tumpahnya keringatmu

Oh ayah,

Tak pernah ku hitung

Berapa banyak kerutan di dahimu

Yang ku pinta hanyalah kemahuan hatiku

Yang sedaya ayah laksanakan

 

Kau pendorong bukanlah pendesak

apalagi memaksa diriku

Aku terlorong bukan terdesak

apalagi rasa terdera

 

Tak terkuis dugaan menduga

Apalagi takdir yang menerpa

Aku mengharap bukan menolak

Apalagi cuba melupa

 

Lestari kasihmu tanpa batasan

Sempadan waktu yang memisahkan

Abadi hingga ke hujung usia akhiran masa

Sentuhanmu amat bermakna..

Hikmah Hidup

Mungkin pembicaraan di atas hanya tentang sebuah pengisahan di masa lalu. Namun aku mendapatkan berbagai pelajaran berharga, di antaranya

Pertama, kesederhanaan hidup. Orang dulu ternyata justru tetap hidup meski dalam kondisi terbatas. Dan keterbatasan itu justru membuat orang lebih struggle dan tahan banting. Bahasa kerennya Adversity Quotient –nya bagus. Kedua, bahwa sebenarnya masyarakat kita ternyata telah terbiasa hidup dengan kesederhanaan, justru tatanan modern sekarang yang tidak disikapi dengan arif telah mengacaukan kedamaian ini. Berbagai faktor mulai dari gengsi sampai menjaga harga diri telah menggerogoti masyarakat sehingga tidak hanya melemahkan secara ekonomi tetapi juga merusak moral. Karena berbagai tindakan baru yang merusak justru muncul di tengah semangat menggapai kesejahteraan. Luar biasa mengerikan.

Dan di sini, aku ucapkan terima kasih kepada ayah dan kakekku yang telah menjadi guru kehidupanku selama ini. Dan tentunya ibuku yang begitu sayang padaku. Ibu, Ayah, Kakek, zamanku sekarang telah berbeda, namun ada hal yang tidak akan pernah berubah, yakni bagaiamana bertahan untuk berjuang. Jika dulu kesulitan ekonomi adalah permasalahan utama. Maka hari ini krisis idealisme adalah hal yang menjadi masalah mendasar sehingga generasi muda Indonesia mengalami degradasi kualitas. Pemahaman yang terdistorsi, keahlian yang terpragmatisasi, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat bertebaran mengancam anak-anak negeri.

Dari sini, aku ingin berkata:

Lebih baik hidup susah seperti di zaman Soekarno, asal kekayaan alam kita tidak dicuri, uang negara kita tidak dikorupsi. Tetapi apalah gunanya merutuki itu semua, kekayaan kita telah dicuri dan mata kita pun terbelalak tahu itu semua, uang negara kita apalagi, habis dibagi rata di Senayan sana. Tapi mari kita sadar, bahwa rakyat kecil yang tinggal di desa ini lah yang sebenarnya lebih hebat dari penjahat-penjahat berdasi itu. Mereka masih tetap hidup sampai sekarang dalam syukur dan kedamaian kendati orang-orang kota sesekali datang mengusik dan membuat kekacauan. Selamatkan desa dan hidupkan tradisi desa kita.