Terinspirasi dari salah satu blog teman yang membuat postingan seandainya dia memiliki anak, aku jadi tertarik juga untuk membuat postingan tentang persiapan-persiapan membangun keluarga di masa depan. Ini bukan tentang fiqih pernikahan yang seperti di tulis oleh para ustadz atau yang mereka sampaikan dalam kajian. Ini hanya ulasan ringan dan konyol tentang seorang pemuda yang tertarik dengan belajar agama.

Pada waktu liqoat tadi, kebetulan ini rapelan liqo setelah pekan kemarin adik-adik minta dispensasi dengan alasan tugas laporan praktikum dan Idul Adha akhirnya malam ini aku bisa meminta jam yang lama. Alhamdulillah, mereka enjoy semuanya dalam perbincangan yang seru malam ini. Perbincangan tentang rencana hidup ke depan dan tentang masalah-masalah pelik di kampus seputar studi, organisasi hingga kegalauan-kegalauan masalah lawan jenis.

Sesuai dengan judul postingannya maka yang akan kuulas adalah seputar kegalauan terhadap lawan jenis dan pilihan yang tepat. Ketika mendengar curhatan masing-masing mereka secara lengkap (rata-rata satu anak curhat hampir seperempat jam), maka muncul beberapa gagasan untuk berbagi.

Nah, terkait kegalauan terhadap lawan jenis, maka pesan yang bisa diambil adalah dari sebuah nasihat indah. Agar kita tidak berpikir untuk melakukan macam-macam apalagi tergiur dengan hal-hal indah sebelum dihalalkan, maka pikirkan bagaimana kita kelak memiliki anak dan mengasuhnya. Jika kita memang serius memikirkan itu, maka kita pasti mikir bagaimana harus menjadi calon ayah yang baik, memilihkan  ibu yang terbaik untuknya, dan tentunya memulai hubungan itu dengan cara yang paling baik. Jadi, keinginan untuk banyak bermain-main dan menghabiskan masa muda dengan hubungan-hubungan tidak jelas itu akan reda dan diganti dengan keseriusan belajar dan mengumpulkan pengalaman dan bekal hidup yang lebih baik.

Salah pemantik yang kemudian muncul adalah ulasan tentang kegiatan TPA di masjid. Karena aku dulu adalah orang yang pernah merasakan TPA hingga banyak bergelut di dunia per-TPA-an, refleksiku sementara hari ini adalah target TPA ke depan adalah menghapuskan TPA itu sendiri. Mengapa? Karena TPA itu sebenarnya madrasah diniyah dasar yang “terpaksa” harus berdiri karena banyak orang tua hari ini yang tidak dapat memenuhi kebutuhan putra-putrinya dalam mengenalkan Islam sejak dini. Maka untuk generasi muda hari ini yang sudah aktif dan mengerti Islam idealnya pada masanya nanti sudah tidak lagi menjadikan TPA sebagai pelarian tanggung jawab, tetapi berpikir bagaimana tiap rumah ke depan menciptakan TPA masing-masing karena ayah ibunya sudah kompeten dalam mengasuh dan mengenalkan Islam kepada anak-anaknya sejak dini.

Jadi pertanyaan berikutnya adalah seberapa seriuskah kita para pemuda yang telah aktiv di kajian-kajian dan lembaga dakwah kampus belajar mengenal agamanya? Jangan-jangan kita banyak beralasan dengan kesibukan amanah sehingga seiring bertambahnya tahun kemampuan dan kecakapan hidup kita tidak meningkat signifikan. Hanya gelar “kader” yang tersandang erat namun miskin kompetensi dan pengalaman. Kalau demikian, bagaimana kita akan menginspirasi pasangan hidup dan anak ke depan. Pengalaman dan perjuangan hidup sendiri saja minim, apalagi mau berbicara dakwah kepada masyarakat, wong untuk keluarga saja ilmunya belum cukup.

Dakwah adalah sebuah bahasa fitrah yang dimanifestasikan dalam hidup. Dakwah itu mengingatkan jiwa-jiwa yang terlupa pada fitrahnya. Dakwah itu serungan pengingatan. Dalil, hikmah dan semua hal yang diserukan hakikatnya adalah mengembalikan memori dan cita rasa fitrah yang sebenarnya sudah Allah tanamkan di setiap nurani manusia. Jika penyerunya tidak mengerti akan hal ini dan hanya menjalankan dakwah sebagai formalitas aktivitas, rasanya sulit melakukan perubahan untuk perbaikan umat.

Kesimpulan sementara dan pesan untuk diri dan adik-adik malam ini, mari belajar dan menyiapkan diri menjadi calon ayah yang bertanggung jawab. Tidak hanya memberi nafkah, tetapi menyematkan permata hidup yang terindah untuk pasangan dan buah hati. Cieeeeeeee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.